Senin, 13 Juli 2020

DILARANG MISKIN


Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM
Tebal Buku 230 halaman

Miskin kok di larang?

Sebagaimana sebuah produk, apalagi produk unggulan yang terkenal dengan sebutan ahsani taqwim, bentuk dan kualitas produk terbaik, tentu memerlukan investasi yang sangat besar. Bukan saja biaya produksi, tetapi biaya penelitian dan semua proses sebelum kemudian produk diolah biasanya juga sangat besar.

Untuk menjadi produknya Allah syaratnya harus mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran dan yakin kepada Allah (beriman). Tanpa ketiganya status terbaik bisa lenyap begitu saja. Bahkan bisa lebih rendah daripada binatang ternak (ulaaika kal an'am balhum adhal)

Maka semua harus setuju bahwa kemiskinan adalah musuh kita. Karena tidak satupun agama yang mengizinkan kemiskinan melanda umatnya. Tanggung jawab serta kepedulian terhadap keluarga dan sesama berkaitan dengan zakat, infaq, sedekah, haji, menuntut ilmu, dan melakukan penelitian adalah bukti bahwa semua itu tidak akan mungkin berjalan tanpa didukung oleh biaya. Artinya untuk dapat melakukan itu semua seseorang harus kaya atau tidak boleh miskin. he he he he ....

Dan yang "menciptakan" kemiskinan  adalah diri kita sendiri. Hal ini bisa karena ketidakadilan ekonomi, malas juga karena kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri. Itulah hakekatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur, walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup.





Hakekat Orang Kaya

Kaya itu bukan kondisi tetapi pilihan. Kaya bukanlah takdir tetapi nasib. Kita tidak bisa merubah takdir tetapi kita bisa merubah nasib kita. Maka memilih menjadi orang yang bernasib kaya adalah hal penting yang harus kita kejar. Setidaknya kalau kita sudah miskin harta, harus kaya hati. Benar?

"Sukses adalah ketika kita mampu memanfaatkan secara optimal potensi yang kita miliki dan bagaimana peningkatan potensi itu dari waktu ke waktu dan dari mana semua itu mengarah ke tujuan." (Collin Turner)

Untuk menjadi kaya diperlukan kesungguhan dalam bekerja dan meyakini bahwa dengan bekerja akan mendapatkan hasil dari apa yang telah kita usahakan. Meskipun hasilnya kadangkala berbeda dengan yang diharapkan karena rezeki itu adalah mutlak keputusan Allah SWT. Sedangkan, sebaliknya kalau kita hanya diam dan tidak mau bekerja maka dsinilah letak timbulnya kemiskinan.

"Kebanyakan orang memandang sukses itu dari sisi memperoleh sesuatu. Padahal sukses dimulai dengan memberi sesuatu," (Henry Ford).







#RCO8
#OneDayOnePost
#Reading ChallengeODOP8
#PengembanganDiri

Jumat, 31 Januari 2020

5 TEKAD SUCI ELMIDA



"Kenapa kamu bisa kalah ranking sama anaknya janda?"

Sebegitu jeleknya nasib anak seorang janda? Hingga untuk menjadi yang terbaik di kelas, Elmida harus mendapat tanggapan yang menusuk tepat di hatinya? Menjadi janda dan menjadi yatim sejak usia kecil bukanlah pilihan mereka, ibu, Elmida dan Ahmad.

Satu kalimat itu yang membuat Elmida ingin merubah nasibnya,  mengubah dunia kecilnya menjadi besar, suatu saat nanti. 5 Tekad Suci yang menjadi tujuannya melangkah di masa depan untuk menggapai harapan yang gemilang.

Kehidupan masa kecil yang kurang berpihak, terekam rapi dalam memory Elmida. Tak mudah untuk melupakan begitu saja kenangan itu, apalagi mengabaikannya.
Bayangan rasanya disepelakan, di rendahkan, dilecehkan dan ora di uwongno begitu membekas bagai cakaran kuku tajam yang begitu dalam menghunjam hingga sulit untuk di tutup kembali.

Justru "hanya" satu kalimat itulah yang menjadikan tekad Elmida untuk bisa mengubah dunianya menjadi lebih baik. Satu kalimat itu takkan bisa menghapus harapannya untuk meraih cita-cita dan impian masa depannya. 

Ia kesampingkan rasa lelah, ia campakkan rasa malu, ia bulatkan tekad untuk bekerja keras meraih dan menggenggam tujuannya. Setiap semangatnya kendur dan rasa jenuh datang menghampiri, ia ingat-ingat kembali kalimat itu. Maka, semangatnya untuk berlari kencang dan marathon mengejar impian itu  membara lagi.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri," (QS. Ar-Ra'd : 11)

5 Tekad Suci Elmida, yang ia jadikan kunci meraih sukses di masa depan, demi menebus masa kecilnya yang kurang beruntung. Akankah Elmida bisa memenuhi 5 Tekad Sucinya? Serta bagaimana lika dan liku kehidupannya selama menjalani masa-masa perjuangan itu?

5 Tekad Suci Elmida kali ini sengaja kutulis untuk membangkitkan semangat mereka para pemuda -pemudi harapan bangsa untuk tidak menyalahkan masa lalu yang tidak berpihak pada mereka. Justru hal  itu bisa di jadikan cambuk untuk meraih masa depan. Apa saja 5 Tekad Suci Elmida itu? 

"Bahkan .. jalan yang lurus dan muluspun bisa memberikan aral bagi penggunanya, apalagi jalan  terjal yang akan di lalui. Harus ada usaha dan do'a untuk bisa melewati semua itu dengan hasil akhir yang sesuai harapan." 

Nantikan di Novel yang akan diterbitkan InsyaAllah di bulan April 2020. Semoga bisa 💪

Kamis, 19 Desember 2019

Review Buku Selingkuh

Oleh: Lilis Indrawati




RCO Tingkat 3 telah memasuki tahap akhir. Dan tugas tantangan di Tingkat 3 kali ini adalah membuat tulisan yang berisi perbedaan dan persamaan tradisi/kebiasaan antara Indonesia dengan negara asal buku tersebut.

Buku fiksi dengan judul "Selingkuh" karya Paulo Coelho ini memiliki ketebalan 320 halaman. Diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama, berkisah tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis yang sangat disegani di sebuah surat kabar besar yang dapat ditemukan nyaris di semua kios surat kabar di Jenewa, tempat tinggalnya. 

Linda, nama jurnalis tersebut memiliki suami yang hebat, yang bukan hanya teramat mencintainya, tetapi juga pemilik perusahaan investasi berskala besar. Setiap tahun sang suami selalu muncul dalam daftar tiga ratus orang terkaya Swiss di majalah Bilan. Pasangan ini memiliki 2 orang anak. Linda adalah tipe perempuan yang selalu bergairah dalam menjalani kehidupannya. Namun ia hanya benar-benar sangat menikmati kehidupan sexual dalam pernikahannya tidak lebih dari lima tahun.

Sejujurnya, tidak ada yang salah sama sekali. Hanya saja .... hanya saja rasa takut diam-diam bahwa segala sesuatu dapat berubah dari satu saat ke saat berikutnya, ketika Linda sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya terjebak dalam cinta masa lalu dengan teman remajanya, yang bernama Jacob dalam sebuah wawancara. Perselingkuhan itupun dimulai.

Mereka ini tinggal di negara paling aman di dunia, Jenewa Swiss, yang memiliki 4 musim, yaitu panas, gugur, dingin dan semi. Sedangkan di Indonesia kita tahu dan alami sendiri hanya ada 2 musin yaitu musim panas dan musim hujan. Tidak seperti di Indonesia, adanya kemacetan yang hampir ada di seluruh kota besar, di Jenewa lalu lintas tidak mengenal macet. Kalo masalah keamanan antara Indonesia dan Swiss, saya sih pinginnya mengatakan bahwa Indonesia sangatlah aman, tapi kenyataannya masih lebih aman Swiss. Maling, perampok, pengemudi ugal-ugalan, tawuran, di Indonesia masih ada. Di Swiss apalagi dalam cerita di buku ini nyaris tidak ada. 

Masalah wine, minuman beralkohol fermentasi dari anggur atau buah-buahan lain di Jenewa termasuk minuman yang dijual bebas. Masyarakat di negara tersebut mengkonsumsi wine untuk melawan hawa dingin yang menghampiri pada musim dingin. Wine bisa di temukan di hampir setiap jamuan=jamuan yang diadakan oleh masyarakat Jenewa. Sedangkan di Indonesia ada peraturan yang mengatur tentang wine. Tidak sebebas Jenewa dalam memperjual belikannya.

Persamaan dalam cerita ini dengan di Indonesia adalah, sebagai seorang istri dan seorang ibu, dimanapun pasti menyayangi keluarganya terutama anak-anaknya. begitupun dalam cerita ini, ibu asal Indonesia dan ibu asal Jenewa memiliki naluri keibuan yang sama. Sama-sama menyayangi anaknya dan selalu ingin terlibat dalam keseharian sang buah hati.

Masalah moral, perselingkuhan adalah tindakan yang sangat buruk di mata masyarakat. Di Indonesia dan di Jenewa juga demikian, hingga si pelaku perselingkuhan berusaha menutup serapi mungkin skandal perselingkuhan yang pernah dilakukannya.




Sabtu, 14 Desember 2019

Ulasan Cernak "Hadiah Dari Kijang "Putih"

Oleh : Lilis Indrawati


Tugas Fiksi kali ini adalah membaca salah satu cernak dari berbagai media dan membuat ulasannya. Pilihan saya jatuh pada Dongeng-dongeng Sepanjang Abad  karya Made Taro, Penerbit Sanggar Kukuruyuk dan Arti Foundation.



Tema
Temo konflik ekonomi yang dialami seorang perempuan miskin dan perempuan kaya asal Bali yang tinggal berdampingan sebagaimana tetangga. Adalah Men Tiwas nama dari perempuan miskin tersebut dan Men Sugih nama untuk perempuan kaya itu. Masing-masing dari perempuan tersebut mempunyai 2 orang anak. Kehidupan sosial yang berbeda menciptakan jurang pemisah diantara keluarga tersebut, si kaya dan si miskin itulah julukan pada mereka. Hingga suatu hari si miskin pergi ke hutan untuk mencari kayu api yang nantinya akan di tukar dengan beras dan ia bertemu dengan seekor kijang putih yang bisa berbicara dan menyuruh Men Tiwas memasukkan tangannya ke lubang pantatnya, maka segenggam emas ia peroleh. Dari sinilah kehidupan Men Tiwas berubah dari miskin menjadi kaya. Namun Men Tiwas tetap rendah hati dan jujur.
MenSugih  melihat tetangganya yang tadinya miskin sekarang menjadi kaya, timbul rasa irihati dan serakahnya. Ia harus memiliki kekayaan yang jauh melebihi Men Tiwas. Ia harus memiliki emas yang banyak, lebih banyak dari Men Tiwas. Maka pergilah dia ke hutan untuk bertemu dengan kijang putih. Apa yang terjadi? Tangannya tidak bisa dilepaskan dari lubang pantat kijang putih tersebut. Dan akhirnya bukan emas yang di dapat tapi kesakitan dan tubuh yang terluka parah.

Alur
Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur maju secara runut dan jelas, dari tahap awal, tahap tengah dan tahap akhir, membuat pembaca terutama anak-anak dengan mudah bisa memahami isi ceritanya. Ending yang adil dan membahagiakan buat salah satu keluarga yang tidak serakah dan apa adanya, membuat cerita ini semakin menarik dan memuaskan pembacanya.

Latar
Hanya ada 2 tempat yang digunakan dalam cerita ini, yaitu : rumah di sebuah desa dimana kedua keluarga itu tinggal, dan hutan tempat mencari kayu api buat keluarga perempuan miskin tersebut.

Tokoh dan Perwatakan
Pada dasarnya ada 2 tokoh manusia dan 1 tokoh hewan dalam cerita ini, yaitu:
Yang Pertama adalah perempuan miskin bernama Men Tiwas dengan 2 anaknya. Kesehariannya mencari kayu api dalam hutan untuk di tukar dengan beras. Walaupun miskin keluarga ini mempunyai sifat rajin, jujur, tidak serakah juga tidak pelit.

Yang Kedua adalah perempuan kaya bernama Men Sugih juga dengan 2 anaknya. Karena kekayaannya yang berlimpah, Men Sugih tidak perlu lagi bekerja keras. Namun Men Sugih mempunya sifat yang buruk, ia tidak jujur juga serakah.

Yang Ketiga adalah tokoh hewan yaitu kijang putih, yang di dalam pantatnya bisa mengeluarkan emas yang jumlahnya sangatlah banyak.

POV
Pont Of Viewnya terletak pada salah satu tokoh yang karena keserakahan, ketidakjujuran,  dan kepelitannya membawa ia pada kesengsaraan. Ketidakjujuran yang di miliki membuat ia ingkar janji terhadap hasil kerja keras tetangganya. Keserakahan yang bersarang di hatinya membuat rasa iri  melihat keberhasilan sang tetangga dan menginginkan hal yang sama terjadi padanya. Rasa pelit yang ia pelihara membawa ia tidak peduli terhadap kelangsungan hidup tetangganya yang miskin.

EBI
Secara umum penulis sudah sangat memahami dengan menggunakan ejaan dengan sangat baik dan tepat. 

Pesan Moral
Terkandung pesan moral yang begitu dalam dari cerita ini, bahwa sebagai manusia hendaknya kita menjauhi sifat serakah, irihati, tidak jujur, pelit,  dan sombong. Tetaplah menjadi pribadi yang selalu rendah hati dan peduli terhadap sesama.


#Kelas Fiksi
#Ulasan Cerita Anak
#One Day One Post



Rabu, 11 Desember 2019

Ulasan Cerpen Menebus Dosa Masa lalu

Oleh : Lilis Indrawati

Cerpen Karangan : Tri Mulyati
Kategori : Cerpen Sejarah
Lolos Moderasi pada : 07 November 2019


Tema
Tema konflik batin yang di alami tokoh aku dalam cerita ini membuat rasa penyesalan sepanjang sisa hidupnya. Penyesalan terhadap keputusannya yang ia sebut sebagai keserakahan. Keserakahan yang membuat teman seperjuangannya di masa penjajahan dulu tewas di tangan serdadu Belanda. Penyesalan yang membawa dirinya selalu menabur bunga setiap tanggal 17 Agustus di tempat tertembaknya sang teman dahulu yaitu di benteng Van Der Wijk yang sekarang sudah berubah menjadi bangunan megah, objek wisata sejarah kebanggaan warga. Konflik batin ini ia rasakan sendiri, tanpa ada yang tahu termasuk anak-anaknya. Seandainya ia tak terlalu serakah dengan menyuruh Parto temannya yang berwajah peranakan Indo-Belanda untuk kembali mengambil beberapa karung lagi bahan makanan, mungkin Parto bisa ikut menikmati perjuangannya. Ah seandainya waktu bisa di putar ulang, ia ingin membalikkannya kembali. Mengubahnya menjadi cerita yang berakhir bahagia, happy ending. Tapi sayangnya tidak bisa. Dan penyesalannya semakin bertambah ketika sekedar menabur bunga pun tak bisa lagi ia lakukan.

Alur
Alur maju secara runut dari tahap awal, tahap tengah hingga tahap akhir, dengan flash back  menarik membuat pembaca bisa menangkap dan memahami isi dari cerita ini. 

Latar
Benteng Van Der Wijck yang saat itu masih menjadi benteng logistik, gudang pangan dan perbekalan untuk Puppilen School atau Sekolah Calon Militer Tentara Belanda, saat ini bersalin rupa menjadi  gedung yang gagah, berwarna merah menyala, menjadi objek wisata sejarah kebanggan warga.  Sebelum menjadi gedung yang megah seperti ini sebelumnya dari Pupillen School, berpindah ke KNIL, beralih fungsi menjadi barak TNI, lalu dibiarkan bertahun-tahun merana, mangkrak, dan kurang terawat. Sempat menjadi sarang burung walet, dan kini bersalin rupa menjadi gedung yang gagah, berwarna merah menyala, menjadi objek wisata sejarah kebanggaan warga

Tokoh dan Perwatakan
Ada 4 tokoh dalam cerita ini, yaitu:
Yang Pertama adalah tokoh aku, sang pelaku sejarah, yang setiap tanggal 17 Agustus akan datang ke tempat ini, tempat yang dulunya adalah benteng Van Der Wijck. Tidak peduli panas, hujan, atau badai sekalipun. Tak akan pernah menghalanginya untuk kembali. Selama nyawa di kandung badan dan kepikunan belum menggerogoti.

Yang Kedua adalah tokoh Parto, juga pelaku sejarah yang tewas karena keserakahan tokoh pertama (aku). Parto meninggal karena tertembak serdadu Belanda, ketika mengambil bahan makanan dan senjata. Wajah Parto yang lebih mirip orang Belanda karena ia peranakan Indo-Belanda, membuatnya bisa bebas keluar masuk lingkungan Belanda.

Yang Ketiga adalah anak-anak dari tokoh pertama, yang selalu mengingatkan si bapak bahwa usia sudah semakin tua. Untuk apa piknik dan piknik lagi. Dan selalu bertanya untuk apa si bapak melakukan semua ini, karena orang-orang pada melihat dan mengira mereka adalah orang aneh.

Yang Keempat ada petugas cleaning service, yang merasa keberatan dengan ulah si bapak dengan menebar bunga di di tempat ia bekerja, yang dulunya adalah benteng Van Der Wijck.

POV
Pont Of Viewnya terletak pada penyesalan salah satu tokoh yaitu tokoh pertama (aku). Karena keserkahannya, hingga mengakibatkan Parto tewas di tembak oleh serdadu Belanda. Seandainya tokoh aku tidak menginginkan lebih banyak bahan makanan, pasti parto akan bisa menikmati perjuangannya. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, aku ingin membalikkannya kembali, mengubahnya menjadi cerita yang berakhir bahagia, happy ending. 

EBI
Secara umum penulis sudah sangat memahami dengan menggunakan ejaan dengan sangat baik dan tepat. dibuktikan dengan lolosnya cerpen ini di Cerpenmu.com

Klimaks Dalam Cerpen
Secara keseluruhan saya menikmati cerita ini. Konflik batin yang mengakibatkan rasa bersalah dan penyesalan sepanjang sisa usia sang tokoh utama,  pembaca seperti saya dapat dengan mudah larut di dalamnya seakan ikut merasakan rasa penyesalan itu.

Namun ada sedikit rasa kurang puas ketika nama sang tokoh pertama tidak disebutkan. Juga tempat tidak dijelaskan secara detail dan gamblang. Hanya ada sebuah petunjuk yaitu benteng Van Der Wijck. Walaupun pembaca akhirnya tahu dimana letak tempat tersebut, tapi alangkah lebih memuaskan apabila di sebutkan nama tempat dimana cerita bersejarah itu di ceritakan. Benteng yang sekarang menjadi objek wisata kebanggaan warga, alangkah baiknya juga di sebutkan namanya.


#Tugas Ulas Cerpen Hisfic
#ODOPbatch7



Teks Cerpen
Menebus Dosa Masa Lalu
Cerpen Karangan: Tri Mulyati
Kategori: 
Cerpen PerjuanganCerpen PersahabatanCerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

Setiap tanggal 17 Agustus, aku akan datang ke tempat ini. Seperti ada kewajiban yang mengharuskanku untuk kembali. Tak peduli panas, hujan, atau badai sekalipun. Tak akan pernah menghalangiku untuk kembali. Selama nyawa di kandung badan dan kepikunan belum menggerogotiku.

“Bapak, Bapak sudah semakin tua. Untuk apa piknik dan piknik lagi?” tanya anak-anakku. Aku hanya tersenyum. Mereka tak akan mengerti. Ini bukan piknik, tapi hukuman yang harus kujalani. Penjara untuk menebus kesalahanku. Hingga kini, aku belum mampu bercerita pada mereka, kenapa aku datang ke sini setiap tahunnya. Aku menyimpannya untuk diriku sendiri.

Setiap datang aku akan memandangi benteng Van Der Wijck yang kini berdiri megah. Menabur bunga di salah satu pintunya. Terpekur menatap ke satu titik. Mengenang cerita lara yang harus kusandang selama sisa hidupku.
”Untuk apa Bapak melakukan ini? Orang-orang melihat pada kita, Pak. Mereka mengira kita aneh.” Kalimat itu sudah berkali-kali terlontar dari mulut anak-anakku. Mereka tidak tahu seberapa besar arti benteng ini bagiku.

Aku mengawasinya setiap saat. Menjadi saksi sejarah segala perubahannya dari zaman ke zaman. Sejak masih menjadi Puppilen School, berpindah ke KNIL, beralih fungsi menjadi barak TNI, lalu dibiarkan bertahun-tahun merana, mangkrak, dan kurang terawat. Sempat menjadi sarang burung walet, dan kini bersalin rupa menjadi gedung yang gagah, berwarna merah menyala, menjadi objek wisata sejarah kebanggaan warga. Semuanya tak luput dari penglihatanku.

Memang sudah puluhan tahun berlalu. Namun, rekaman peristiwa itu masih melekat erat di ingatanku. Saat sahabatku merenggang nyawa, tertembak mati di salah satu pintunya. Semua itu salahku. Aku yang paling pantas disalahkan. Seandainya saja bisa diputar ulang, aku ingin membalikkannya kembali. Mengubahnya menjadi cerita yang berakhir bahagia, happy ending.

Saat itu benteng Van Der Wijck masih menjadi benteng logistik, gudang pangan dan perbekalan untuk Puppilen School atau Sekolah Calon Militer Tentara Belanda. Malam ini aku dan Parto berhasil menyusup ke areal Benteng Van Der Wijck ini.

Parto, seorang peranakan Indo-Belanda. ibunya wanita pribumi, ayahnya serdadu Belanda tapi tak tahu rimbanya. Fisiknya yang lebih mirip orang Belanda, membuatnya bisa bebas keluar masuk lingkungan Belanda. Mengambil bahan makanan ataupun senjata tanpa dicurigai musuh. Sementara aku akan menunggu di luar, bersembunyi di semak belukar.
Malam itu, di tanggal yang sama seperti hari ini, 17 Agustus, Parto sudah berhasil mengambil sekarung beras. Seharusnya itu sudah cukup. Harusnya kami kembali ke perkampungan. Tapi, aku memaksanya masuk kembali.

“Kenapa hanya sekarung, kalau bisa membawa berkarung-karung,” kataku meyakinkannya.
“Tapi, sangat berbahaya. Mereka bisa curiga kalau aku mengambil terlalu banyak,” tolak Parto.
“Ah, kamu terlalu pengecut! Tak punya nyali!” ejekku.

Masa Agresi Milter kedua, kelaparan semakin meluas. Sejak perjanjian Renville ditandangani, penduduk di barat sungai Kemit yang termasuk territorial Belanda kekurangan pangan. Daerah timur sungai yang menjadi lubung padi tak bisa lagi menjual hasil panennya ke barat. Sementara di lain pihak, gudang-gudang pangan Belanda penuh berkarung-karung makanan.

Dengan fisiknya yang seperti Belanda, kami memanfaatkannya untuk menjadi mata-mata, menyusup ke tangsi-tangsi Belanda, mencuri bahan pangan dan persenjataan. Tapi, sepandai-pandai tupai melompat, ada kalanya akan jatuh juga.

Tiba-tiba, entah apa yang terjadi di dalam sana. Terdengar teriakan-teriakan keras dalam bahasa Belanda. Aku terpaku.

“Je bent niet de Nederlandse!” teriak serdadu Belanda sambil menodongkan senjatanya pada Parto. Sepertinya serdadu itu telah mencurigai Parto sebagai Belanda gadungan.
“Ik ben van de Nederlandse,” jawab Parto. Ia tetap mengaku sebagai orang Belanda.
“Je bent niet de Nederlandse!” teriak Serdadu itu semakin marah.

Mereka berbantah-bantahan. Entahlah, mungkin sedang sial, tiba-tiba saja aku tak bisa menahan keinginan untuk bersin. Haajjiin.. Serdadu itu melihatku. Menembakiku dengan berondongan peluru. Aku berlari menyelamatkan diri di antara semak belukar. Meninggalkan sahabatku sendirian.

Itulah terakhir kalinya aku melihat Parto. Mayatnya bahkan tak pernah ditemukan. Sahabatku terjebak di kandang musuh karena keteledoranku. Seandainya aku tak terlalu serakah. Mungkin Parto bisa ikut menikmati perjuangannya. Menikmati kebebasan yang kami rindukan. Kita sudah merdeka. Kita sudah bebas dari penjajahan. Berulang-ulang kuucapkan kalimat itu. Aku yakin Parto mendengarnya di atas sana.


“Eh, Maaf, Mbah! Jangan mengotori tempat ini! Tolong! Nanti saya bisa dimarahi supervisor,” kata seorang petugas cleaning service yang melihatku hendak menabur bunga di pintu itu.
“Ayolah, Pak. Jangan sampai kita diusir dari sini karena membuang sampah sembarangan!” bisik anakku membuatku miris.
Ya, zaman telah berganti, musim terus berputar. Semuanya telah berubah. Bahkan, sekadar menaburkan bunga pun tak bisa lagi kulakukan.






Kamis, 05 Desember 2019

Ulasan Buku Air Basuhan Kaki Ibu (Tokoh Utama)


by: Lilis Indrawati





Adalah Basim yang dibesarkan oleh seorang ibu karena sang bapak sudah lebih dahulu menghadap Illahi. Liku-liku kehidupan sebagai janda miskin dalam membesarkan dan mendidik putra semata wayangnya, terangkum dalam ulasan berikut ini :

Sejak kematian suaminya yang tertimpa reruntuhan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), seorang ibu merawat dan membesarkan Muhammad Basim, anak tunggalnya sendirian. Setiap hari ia bergelut dengan tumpukan sampah, mengais-ngais rezeki demi menghidupi anaknya. terkadang, Basim digendongnya ke tempat sampah, berpanas ria dan berpeluh-peluh. Tak sekalipun, wajahnya tampak putus asa menghadapi kesulitan ditinggal mati oleh suaminya.

Basim sendiri merasakan betapa ibunya adalah orang yang sabar, tak pernah marah dengan caci-maki dan hinaan orang, tak pernah berucap kasar atau keras. Walau ibunya itu bukanlah seorang berilmu luas di dalam agama, Basim selalu melihat ibunya tak pernah lupa mengerjakan shalat dan sering kali puasa Senin-Kamis. Ibunya juga tak pernah jemu menasehati Basim untuk sembahyang dan selalu memohon kemudahan pada Tuhan. Ibunya jarang makan, sedikit tidur, dan baik kepada siapapun, termasuk pada orang-orang yang menghinanya. Sang ibu hanya berharap, Basim akan tumbuh menjadi orang yang kuat, sabar, santun, sekaligus lembut hatinya dan bisa meraih cita-citanya.

Ketika Basim berumur 3 tahun, ayahnya meninggal dunia dan sejak saat itu, ibunya merawat dan membesarkannya sendirian. Basim dididik mengaji, belajar membaca, menghitung, dikenalkan dengan mushala, juga dengan tempat sampah. Rasa kehilangan Basim kepada ayahnya sangat besar.

Beruntung ada om Ujang, sahabat ayah dan ibunya yang dulu menjadi orang pertama yang menerima kedatangan ayah dan ibunya di Bantar Gebang ini. melalui Om Ujang, basim mendapatkan banyak perhatian, juga kasih sayang. Masalah muncul ketika Mpok Pah dan Mak Ijah----duaibu yang selalu iri terhadap ibunda Basim-----menghembuskan kabar perselingkuhan anatara Om Ujang denga nibunya. Padahal, Basim sendiri merasa senang bila Om Ujang bisa menjadi ayahnya.

Namun, cinta hanya satu. Dan, seperti itulah yang diajarkan ibunya Basim kepadanya. Demi menghindari fitnah, Om Ujang pun rela meninggalkan Bantar Gebang mencari ketenangan batin. Dan sekarang, Basim dan ibunya benar-benar hanya berdua. Sang ibu pun bekerja keras untuk menghidupi Basim, juga menyekolahkannya.

Peristiwa-peristiwa keras terjadi di sekitar Basim dan ikut membentuk kepribadiannya. Pertengkaran, bahkan perkelahian, menjadi pemandangan yang hampir tiap hari terjadi di TPA. tetapi, sang ibu melalui caranya mendidik dan merawat Basim, sanggup menyelamatkan jiwa Basim dari segenap godaan yang keras dan kasar itu. Pada saat yang sama, seiring pertumbuhannya, Basim pun semakin mencintai dan menyayangi ibunya. Di SD, Basim selalu juara dan di kelas empat, ia mulai mengenal rasa senang terhadap lawan jenisnya. rasa senang itu ia wujudkan dengan keinginan untuk bisa selalu menendang atau menampar dua gadis kecil teman sekolahnya karena di matanya mereka jatuh cinta kepadanya.

Saat lulus SD, ibunya telah menyiapkan uang untuk melanjutkan sekolahnya di MTsN. Di sinilah, Basim harus bergumul dengan suasana dan persahabatan yang baru. Pak Agus pernah menjadi guru yang sangat ditakutinya sebab sang ibu belum bisa membelikannya sepatu warna hitam, padahal itu kewajiban. Pelajaran IPS adalah pelajaran yang ia benci sebab pak Sambudi pernah mengirimkan "Kungfu Panda" kepadanya. Dan, pak Maardi adalah guru yang paling membuatnya sakit hati sebab pengaturan nilai yang telah dilakukannya, hingga ia merasa gagal dalam ujian akhir.

Di saat yag hampir sama, Pak Kosim, salah satu tetangganya----juga ayah dari salah seorangg sahabat karib Basim nanti----jatuh hati pada ibunya Basim. Sekali lagi keluarga kecil ini diuji lagi. namun, sang ibu selalu menguatkan sayap-sayap jiwanya, melalui tutur kata, sikap, dan perilakunya.

Setelah Basim lulus MTsN, sang ibu telah menyiapkan uang dari tetes-tetes keringatnya sebagai pemulung untuk memasukkannya ke SMA favorit.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Basim tak bisa masuk ke SMA favorit karena uang sang ibu tidak cukup. Sudah begitu, sepulangnya dari sekolah itu, seorang pencuri telah merampok uang ibunya. Peristiwa inilah, sekali lagi, yang membuat Basim belajar bagaimana harus bersikap, bertindak, dan berbuat sebagaimana ibundanya. Sang ibu mengajarkan bagaimana memasrahkan diri sepasrah-pasrahnya pada kehendak-Nya.

Hingga ditemukanlah dompet itu, di antara sampah-sampah yang dipungut sang ibu. Keluhuran budi menyebabkan sang ibu menelepon pemilik dompet berisi kartu-kartu pentig dan uang jutaan rupiah itu. Begitu pak Surya, sang pemilik, datang, sang ibu diberi imbalan yang sangat banyak. Allah memberinya rezeki yang tak terduga melalui pak Surya.

Kembali, sang ibu tak ingin menikmati rezeki itu sendiri. Ia bagi-bagikan rezeki itu secara adil. Basim pun walau terlambat akhirnya bisa sekolah di SMU yang mengantarkan Basim pada kesabaran, kekuatan, ketabahan, dan prestasi. Dan semua ini, lagi-lagi, berkat doa dan rintihan sang ibu, juga berkat kerja keras sang ibu....

Sungguh, inilah kisah cinta dan kasih sayang antara seorang anak dan ibundanya. Di antara perih dan pedihnya menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, bertumpu pada tumpukan-tumpukan sampah sebagai pemulung, ternayata ada seorang ibu seperti bu Farhanah, yang dengan cinta dan kasihnya, usaha dan kerja kerasnya, air mata dan jeritan doanya, mampu merawat, mendidik, mengasuh, dan mengantarkan Basim, anaknya, pada prestasi dan juara.



#RCO6
#ODOPbatch7
#Tantangan Tingkat 2

Senin, 25 November 2019

Review Buku

by: Lilis Indrawati








Kisah ini tentang Jim, yang sejak kecil amat percaya bahwa setiap kehidupan ditakdirkan memiliki satu cinta sejati. Itu berarti sebenarnya hampir dari seluruh kita memiliki cerita yang sama. Hanya saja, kisah ini menjadi berbeda dengan kepunyaan kita ketika Jim tak kunjung menyadari bahwa cinta adalah kata kerja, dan sebagai kata kerja jelas ia membutuhkan tindakan-tindakan, bukan sekedar perasaan-perasaan.

Menceritakan sosok lelaki yaitu Jim yang dalam hidupnya pernah mengenal dan merasakan jatuh cinta pada seorang wanita bangsawan negeri seberang yang bernama Nayla. Hatinya tertambat pada sosok wanita ayu nan rupawan. Pertemuan diawali dengan permainan biola Jim, yang membuat semua orang mengagumi kemampuan Jim bermain biola, termasuk Nayla. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, gayungpun bersambut, Nayla juga merasakan cinta itu. Namun Jim yang hanya pemuda yatim piatu, miskin papa, dibesarkan oleh kasih sayang para dermawan, tak berpendidikan, dan terlalu lemah untuk berani mengambil keputusan dalam hidup.

Tibalah saatnya Nayla harus menerima kenyataan, bahwa keluarganya menjodohkannya dengan seorang pemuda dari kaumnya. Itu permintaan terakhir mendiang ibunya. Pernikahan akan segera dilangsungkan. Nayla tidak berani menentang keputusan keluarga mereka. Hidup mereka sudah digariskan berdasarkan kesepakatan keluarga. Dan apalah artinya seorang Jim. Ia hanyalah pemain musik yang berperasaan lembut, tidak memiliki kekuatan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jim terlalu takut untuk meghadapi kemungkinan hari-hari depannya. Terlalu gentar untuk mengambil tindakan. Tersuruk-suruk menggerakkan kaki. Berkutat dengan asa tanpa upaya. 

Nayla lelah dan sesak menunggu keberanian Jim, sementara pernikahan itu diabang pintu. Berkali-kali ia mendesak, hanya jawab pengecut yang ia terima. Nayla akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum sebotol racun.

Dari sinilah cerita hidup Jim dimulai. Akhirnya iapun patah hati, karena gadis yang teramat sangat dicintai telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hari-hari dijalani dengan kemurungan. Ingin rasanya ia juga mengakhiri hidup seperti Naylanya. Tapi lagi-lagi Jim tidak punya cukup nyali untuk melakukan itu semua. Hingga dengan secara tiba-tiba datanglah dalam hidupnya seorang pria asing, dialah Sang Penandai. Dan pria asing itu mengucapkan kalimat aneh "Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya."

Pria itu mengulang kalimatnya berkali-kali, ia menginginkan Jim mempercayai satu kalimat itu saja. Dan sisanya, serahkanlah kepada waktu. Biarlah waktu yang menyelesaikan bagiannya.
Akhirnya Jim memulai hidupnya dengan menjadi prajurit di sebuah armada kapal besar yang melakukan perjalanan raksasa menuju Tanah Harapan. Kapal itulah yang disebut Pedang Langit.

Kesedihan demi kesedihan akibat kehilangan kekasih hati terus menyelimuti hatinya. Hatinya tertutup untuk semua perempuan, Pun begitu ketika harus bertemu dengan gadis ayu yang ia jumpai di tengah perjalannya, tidak juga bisa mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan. Ingatannya hanya dipenuhi oleh perasaan bersalah pada Nayla, hingga ia tidak mampu bangkit dari keterpurukan akibat cinta. Gadis itu rela mati demi cinta mereka, tapi Jim selalu ragu untuk melakukan hal yang sama dengan Nayla. Setiap keinginan itu datang menghampiri, pria asing itu selalu datang dengan tiba-tiba. 
Selalu dengan kalimatnya: 
"Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya."
Percayalah pada kalimat bijak itu.
Hanya itu yang perlu dilakukan.
Sisanya, biarlah waktu yang menyelesaikan bagiannya.
maka, kau akan mendapatkan hadiah terindah atas cinta sejatimu.
Percayalah.

Bagi yang penasaran dan ingin tahu dari akhir cerita buku ini, silahkan ditemukan jawabannya dengan membaca lebih lengkap isi dari buku ini.
Salam literasi, terus semangat membaca dan menulis. 



Harga Sebuah Percaya, karya Tere Liye
Penerbit Mahaka Publishing, Cetakan ke-3 Maret 2018
298 halaman




Sabtu, 16 November 2019

Ulasan Cerpen Sebuah Perjalanan

oleh : Lilis Indrawati


Judul : Sebuah perjalanan (Wiwid Nurwidayati )
http://www.ngodop.com/art/42/Sebuah-Perjalanan


Unsur Intrinsik

Tema
Tema konflik dalam rumah tangga yang dialami sepasang suami istri, dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tidak semanis harapan dan janji seperti diawal pernikahan dulu. Keegoisan dan minimnya komunikasi membuat mereka saling menduakan dengan barang pengganti masing-masing. Merek terlena dengan kegemaran masing-masing hingga pernikahan yang terjalin selama 7 tahun jadi serasa hampa. Api cemburu karena merasa di nomor duakan dengan tablet kesayangan sang istri membawa tokoh suami pada kemarahan dan kemurkaan yang berujung pada perginya sang istri, meninggalkan rumah. Namun kejadian yang dialami tokoh istri di luar rumah teramat tragis, hingga tidak bisa lagi membawanya pulang untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang sudah mereka buat sebelumnya, dan tidak ada lagi kesempatan merajut kembali bahtera rumah tangga.  Hanya penyesalan yang bisa ia bawa pergi, karena beda dunia, beda alam tidak akan pernah bisa lagi menyatukan kebersamaan dan merajut mimpi-mimpi indah mereka.

Alur
Alur maju secara runut dari tahap awal, tahap tengah hingga tahap akhir, dengan flash back  menarik membuat pembaca bisa menangkap dan memahami isi dari cerita ini. 

Latar
Rumah bercat biru yang sudah  ditempati selama 7 tahun dengan ruangan kamar berukuran 4x4 m, tempat mereka bertengkar sekaligus tempat terakhir bersama. Bus PO Toto yang membawa tokoh istri pada  bus lain yang digambarkan berwarna merah dengan sorot dua lampu depan yang seolah berkedip kedip tanpa pengemudi, yang membawanya melihat, merasakan dan mengenang masa lalu, masa indah bersama suami di awal-awal pernikahan.

Tokoh dan Perwatakan
Hanya ada 2 tokoh dalam cerita ini, aku dan kamu. 

Tokoh aku yaitu istri yang menceritakan tentang pribadi yang terbuai oleh dunianya bersama barang kesayangannya yaitu tablet pintar hingga ia mengesampingkan tokoh kamu yang tidak lain adalah suaminya sendiri. 

Tokoh kamu adalah suami yang merasa diacuhkan oleh tokoh aku yaitu istrinya sendiri, hingga komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik dan akhirnya timbul rasa cemburu pada benda yang namanya tablet pintar, hingga membawanya pada kemarahan yang memuncak

POV
Point Of Viewnya terletak pada penyesalan salah satu tokoh pada cerita di atas yaitu, setelah mengetahui bahwa tokoh suami sangat kehilangan atas menghilangnya dirinya. Tokoh istri ingin kembali, meminta maaf, memperbaiki dan akan memulai semua dari nol lagi sepertia awal-awal pernikahan. Namun waktu tidak bisa diputar mundur, sang istri sudah tidak bisa kembali lagi, karena dunia mereka sudah berbeda dan saya sebagai pembaca bisa merasakan betapa menyesalnya kedua tokoh tersebut, menyedihkan dan sangat di sayangkan.

EBI
Secara umum penulis sudah sangat memahami dengan menggunakan ejaan dengan sangat baik dan tepat, namun ada beberapa hal yang terlewatkan dan perlu perbaikan, seperti dalam kalimat:

Tangan saling menggamit seolah enggan dilepaskan. pasangan pengatin itu adalah aku dan kamu.
Penulisan kata pengatin yang seharusnya pengantin.

Tidak konsisten dengan awalan huruf besar dan huruf kecil.  Di tengah kalimat kata bus ada yang menggunakan huruf besar dan ada yang menggunakan huruf kecil.

Penulisan dalam bahasa asing seperti remote control, harusnya menggunakan huruf miring yaitu remote control.

Unsur Ekstrinsik

Kesesuaian dengan Tema
Tema bebas. Secara keseluruhan saya menikmati cerita ini, walau harus berulang-ulang membaca, justru kenikmatannya terasa dari cerpen ini ketika membaca yang kedua dan seterusnya.  Pembaca di buat fokus dan menerka-nerka yang pada ahirnya menyimpulkan sendiri kemana sang istri pergi dan peristiwa apa yang menyebabkan tokoh istri meninggalkan dunia.




#TugasPekan1
#kelasFiksi
#ODOPbatch7

Selasa, 05 November 2019

Konstantinopel, Rumah Tanpa Sekat (Kesan & Pesan)

by: Lilis Indrawati


Di rumah ini akulah yang paling tua dari segi umur, tapi paling muda dalam pengalaman, yaa pengalaman menulis, istilahnya aku ini newbie. Ada 13 penghuni ditambah 4 orang Pije yang semuanya sudah mastah dalam hal dunia tulis menulis. Dan semakin merasa kecil saja saya, bagaimana tidak? rata-rata penghuni Konstantinopel ini sudah mempunyai buku sendiri, dan ada yang menjadi penulis tetap di suatu media. 

Semakin melongo saja saya, kalo tidak masuk ke rumah ini, barangkali saya tidak akan bisa merasakan bagaimana nikmatnya begadang hingga tengah malam, demi sebuah tulisan yang harus disetor per harinya. Kemrungsung rasanya dada ini bila mendekati jam 23.59 belum juga menyelesaikan setoran, alamat ngutang jadinya. Dimanapun dalam kesempatan apapun, mencoba selalu berdekatan dengan laptop, menulis apa saja yang penting bisa dijadikan tulisan menarik (Hmm menarik?? bagi saya kali ya hahaha).

Pernah di suatu seminar yang saya harus ada di ruangan itu, maka saya mencari tempat duduk yang menguntungkan buat saya, biar tidak dilihat peserta yang lain kebetulan saya salah satu diantara panitia penyelenggara, saya ambil tempat di sudut ruangan berdampingan dengan meja operator, leluasalah saya membuka laptop dan menulis. Yaa .... walau bisa dibilang ngos-ngosan, berlari-lari kecil hingga berlari dengan langkah cepat, demi ngodop 60 hari, saya harus lakukan. Dan saya sangat menikmatinya, betul-betul menikmati. Hari-hariku menjadi bergairah dan penuh semangat.

Hidup itu harus punya resolusi, harus ditarget, kita tidak bisa membiarkan dan mengikuti seperti filsafat air yang lazimnya selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Dalam ilmu urip dan kepatuhan terhadap keyakinan, itu masuk dalam urutan terakhir ... pasrah dan itu baru dilakukan setelah memaksimalkan ikhtiar. Dengan target otomatis kita berusaha untuk memenuhinya dengan kemampuan yang kita miliki dan jika berhasil nilai kepuasannya juga berbeda lho, puas banget!

Ditambah dengan penghuni rumah ini, yang begitu saling menyayangi, saling memberi semangat, dan murah pelukan, kecuali penghuni yang paling ganteng, mas Syaif hehehe.. karena satu-satunya laki-laki di Konstantinopel. Semuanya tidak ada yang pelit dalam membagikan ilmunya. Saya yang awalnya sama sekali tidak mengenal dunia blog, berkat ngodop ini jadi merasakan dunia blogger. Biasanya berhubungan dengan  laptop jika ada kesempatan harus menyampaikan materi, dan itupun di power point. Blog sama sekali awam buat saya. Tapi para Pije dan adek-adek di rumah ini semuanya saling berbagi, saling mengisi. Berasal dari berbagai macam daerah se Indonesia dan ada  adek cantik yang lagi menjemput rejeki di negeri orang, namanya adek Riana yang super ramah. Penghuni rumah ini juga berangkat dari latar belakang pendidikan yang berbeda, membuat Konstantinopel menjadi begitu berwarna dan hidup.

Ada Dewi DeAn dari Tebing Tinggi, yang sudah menerbitkan berkardus-kardus buku, Fitriati Arina Manasikan, Jihan Mawaddah dari Malang dengan baby Jayko yang super montok dan lucu, ada bu guru Karis Rosida dan Retno Jumirah,  mbak Lasmiati, mbak Prajna, mbak Priyani, nama kembarku mbak Lilis Odiah, ada mbak Sri Murni Rahayunisasi. Terima kasih atas kebersamaan yang singkat ini. Walau bukan di dunia maya, persaudaraan ini begitu berarti. Saling bercanda tanpa sekat ketersinggungan. Bebas ngakak jam berapapun, hanya ada di sini, di Konstantinopel. Juga para PiJe yang super duper ramah, membimbing dan mengarahkan, mbak Dian, mbak Nining, mbak Sakif, mbak Naila, siapalah aku, apalah kami tanpa kalian. Lope Lope.

Selain di rumah kecil ini, kita semua kadang dikumpulkan di rumah besar, sayangnya rumah besar ini terlalu penuh penghuninya, hingga kadang tidak mengenal satu sama lainnya, hanya penghuni tertentu saja yang bisa diakrabi, salah satunya mas Lutfi Yulianto, Hai mas Iyan, salam kenal dari Bali. Terkadang cuitan kita dilewati saja, dan akhirnya tenggelam oleh cuitan-cuitan lain yang saling menyahuti, karena mereka sudah akrab dan saling berinteraksi lewat grup kali ya. Beberapa kali saya mencoba nimbrung obrolan mereka, tapi selalu lewat. Ini yang menjadikan saya malas, dan jadi penyimak yang setia saja.

Semoga kita semua bisa lulus bareng, dan tali silaturrahmi yang sudah terjalin apik dan erat, bisa membawa kita menjadi keluarga besar yang sesungguhnya. Saling menyapa di dunia nyata, itu juga bagian dari mimpi-mimpiku. Akhirnya ..... mohon maaf apabila selama hampir 60 hari  ngODOP, ada salah kata yang tentunya tidak disengaja, tak ada gading yang tak retak,  kita hanyalah manusia biasa, kesempurnaan mutlak milik Allah SWT.



#ODOPbatch7
#Kesan dan Pesan















Minggu, 03 November 2019

Gadis Impian Eps 5

by: Lilis Indrawati




Episode 4 https://mimpililis09.blogspot.com/2019/11/gadis-impian-eps-4.


"Kamu bukan anak orang kaya bagaimana? Kami orang tuamu, yang punya segalanya untukmu, putra tunggal dan pewaris kerajaan bisnis papamu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kamu bukan anak orang kaya?" Ibunya mengatakan itu sambil menangis.

Ricko jadi merasa berdosa pada kedua orang tuanya, tapi cintanya pada Sheila membuat dirinya rela berkorban apapun yang dimilikinya. Toh dia mengatakan bahwa dia bukan anak orang kaya, kenyataannya dia sendiri yang sukses hingga mempunyai perusahaan properti sendiri. Dan itu semua tanpa campur tangan orang tuanya. Ia bekerja keras untuk mewujudkan kesuksesannya itu.

Bukan bermaksud menyinggung kedua orang tuanya, juga tidak bermaksud tidak mengakui kedua orang tuanya, tapi ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menentukan masa depannya sendiri bersama gadis pilihan yang sesuai hati nuraninya. Selama ini banyak gadis yang mendekati dirinya, tapi mereka lebih melihat Ricko sebagai pemuda tampan, kaya dan sukses. Tapi lain dengan Sheila, gadis itu mengenal Ricko bukan sebagai pemuda tajir, tapi mengenal Ricko sebagai pemuda sederhana yang menyambung hidup sebagai sopir pribadi. Gadis tipe begini ini yang ada dalam mimpi dan angannya, gadis yang bukan hanya bisa diajak hidup senang, tapi hidup susah pun bersedia.

"Sheila, ..... maafkan aku, selama ini aku tidak berterus terang mengenai jati diriku. Bukan bermaksud apapun, tetapi lebih dari itu, aku menghargai kamu sebagai gadis polos, mandiri dan pekerja keras, walau aku sebagai sopir pribadi, dan tinggal di rumah sempit, tapi kamu masih mau menerima aku apa adanya. Itulah, yang membuat hatiku tertambat padamu, apapun aku lakukaan demi mendapatkan hatimu, percayalah," kata-kata Ricko kali ini diucapkan dengan nada dan mimik wajah yang serius. Dalam harapannya Sheila mau menerima cintanya, dan mau dijadikan pendamping hidupnya.

"Aku benci orang kaya, Ricko, ada cerita dibalik itu. Pernah ada pemuda anak orang kaya yang tertarik padaku, tapi begitu tahu kondisi keluargaku, dia langsung berpaling dariku. Aku tidak mau hal itu terulang lagi pada kehidupanku. Maafkan aku Ricko." ucap Sheila sambil berlalu.


******

45 hari berlalu dari kejadian itu, betul-betul membuat Ricko patah hati. Jika karena sebab ia anak orang kaya, membuat Sheila malah menjauhi, ia akan memilih terlahir sebagai anak orang sederhana. Keadaan ini membuat bingung orang-orang terdekatnya terutama kedua orang tuanya. Tanpa sepengetahuan Ricko, orang tuanya mencoba mendatangi Sheila, namun gadis itu selalu menghindar.

Kondisi kesehatan Ricko terganggu juga akhirnya, ia mulai malas makan, malas istirahat, pelampiasannya hanya kerja dan kerja. Sikapnya semakin cuek pada sekelilingnya. Ia menyibukkan dirinya dalam pekerjaan, bahkan sering nginap dikantor demi melupakan sang pujaan hati. Pernah suatu hari ia berangkat dari Jakarta hanya untuk  menunggu Sheila di depan kampusnya, tapi  sia-sia, gadis itu menghindar dan menghindar.

Karena kesibukannya yang menyita sebagian waktunya, hingga kesehatannyapun terganggu Di suatu siang, Ricko ambruk di kantor ketika memimpin rapat terbatas. Ricko dilarikan ke rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia harus menjalani perawatan serius karena kondisi kesehatannya yang tidak stabil. Kabar sakitnya Ricko sampai juga ke telinga Sheila. Walaupun ia menolak Ricko sebagai orang kaya, tapi ketika mendengar kabar bahwa Rico sakit begini, ia jadi ingat semua kebaikan pemuda itu. Hampir 2 bulan ini ia merasakan hidupnya semakin hampa. Terbersit untuk terbang ke Jakarta, menunggui Ricko di rumah sakit, sama persisi seperti yang dilakukan pemuda itu padanya ketika rawat inap.

Berbekal uang hasil penjualan cincin pemberian Ricko ketika mendapatkan bonus dari majikannya, Sheila mulai uta- atik traveloka, dan menemukan tiket murah, maka terbanglah ia ke Jakarta. Tantenya Ricko yang satu kota dengan Sheila, mengetahui bahwa gadis itu ke Jakarta, segera mengabari orang tua Ricko.

Alangkah senangnya mereka mendapat kabar tersebut, mamanya sendiri yang menjemput Sheila di bandara. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, dengan berkata halus, mamanya minta agar Sheila mau merubah pendiriannya

"Terimalah Ricko sebagai pendampingmu nak, terimalah kami sebagai calon mertuamau, kami bukan orang-orang seperti dalam ceritamu. Yakinlah!"

"Saya ingin menemui Ricko karena dulu ketika saya sakit, Rickolah yang menunggui di rumah sakit, tante. Sekarang saya ingin membalas budi atas semua itu, semoga kesehatan Ricko segera membaik ya tante." katanya dengan datar.

Setiba di rumah sakit, Sheila bergegas menemui Ricko yang terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Melihat Sheila datang membuat semangat Ricko seakan kembali, dia tidak merasakan tubuhnya lemah. Dia sangat merindukan muka cuek dan dahi berkerut gadis itu, hampir 2 bulan tidak melihat gadis tersebut. Rasanya kangen dengan kejudesan sang pujaan hati.

"Apa kabar Ricko? sapa Sheila begitu melihat Ricko, tak ada senyuman di bibirnya, justru itu yang di rindukan Ricko dari sosok Sheila

"Seperti yang kamu lihat, aku memikirkan kamu, sampai kesehatanku terganggu, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini, guraunya."

"Dasar pemuda bodoh, justru sikap begini yang membuat aku tambah gak bisa jatuh cinta sama kamu. harusnya kamu itu kuat, kejar aku, rebut aku, jangan malah lemah. Aku nggak bangga blas. "ujar Sheila menyemangati Ricko.

"Benarkah?" Baiklah aku akan kejar kamu, seketika Ricko melepas selang infusnya, bangun dari tempat tidurnya, dan bersiap mengejar Sheila. Gadis itu yang tidak menyangka sama sekali reflek berlari menghindari kejaran Ricko, sambil berteriak, " Bukan kejar mengejar seperti ini yang aku mau," namun dia kalah gesit dengan tangan kekar Ricko, yang secepat kilat sudah melingkar di badannya.

"Akau merindukan tawamu Shel, jangan siksa aku dengan pendirian kamu yang sekeras batu itu, akan kupatahkan semuanya. Aku akan mendampingimu dalam suka maupun duka. Kita berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan ini. Percayalah, aku tipe laki-laki yang bertanggung jawab terhadap kekasihnya termasuk keluarga besarnya." kata-kata itu meluncur dengan tulus, setulus cintanya pada Sheila.

Sheila terdiam, asli dia juga mencintai Ricko, apalagi dengan kata-kata baarusan, kerasnya pendirian yang selama ini memagari haatinya, serasa hancur sudah.

Tak berpikir lama, Ricko memanggil kedua orangtuanya, "mama papa, mari kita bersama-sama merebut Sheila, aku nggak bisa merebutnya sendirian, aku perlu bantuan kalian, kita rebut Sheila dari perasaan miskinnya, kita rebut dia dari kehidupan yang membuatnya jadi wanita yang selalu mengerutkan dahi."

Kedua oarang tuanya yang sedari tadi ada di luar kamar, segera masuk ke kamar perawatan Ricko, "Apa yang harus kami lakukan Ko?" kata papanya

"Sekarang juga, mari kita berangkat menemui ibunya Sheila di Magetan, kita melamar Sheila untuk kujadikan istri"

Sheila segera melepaskan tangan Ricko yang melingkar di tubunhya, "Aku masih pingin kuliah dan menjadi sarjana, agar aku pantas bersanding denganmu." teriaknya.

Ahh .... itu bisa diatur." jawab Ricko dengan wajah berseri-seri dan tidak perlu melanjutkan perawatannya, dengan hadirnya Sheila disisnya itu merupakan obat yang paling mujarab diantara obat yang ada.


Tamat



#ODOPbatch7
#Day55
#Tantangan Pekan 8
#Episode 5

Sabtu, 02 November 2019

Gadis Impian (Eps 4)

by: Lilis Indrawati



Episode 3 https://mimpililis09.blogspot.com/2019/11/gadis-impian-eps-3.html


Sheila sudah menjalani aktifitas rutin seperti biasanya, kerja dan kuliah. Rickopun senang dengan kondisi gadis itu, berangsur-angsur kesehatannya membaik. Kedekatan dan persahabatan merekapun menjadi semakin dekat. Berkali-kali Ricko menawarkan pada Sheila agar mau diantar jemput pada waktu berangkat kerja, berangkat kuliah maupun pulang kuliah. Tapi Sheila selalu menolaknya dengan halus. Sebagai laki-laki yang menaruh hati padi gadis itu, rasanya tak rela, juga tak tega jika harus melihatnya naik turun angkot dan berjalan menuju tempat kerja maupun kampusnya.

"Uang yang biasa digunakan untuk naik angkot kan bisa kamu tabung untuk nambah-nambah biaya kuliah kamu," hingga pada suatu kesempatan Ricko menyampaikan hal ini pada Sheila.

Sheila menunduk dalam diamnya, dia tidak ingin merepotkan Ricko. Cukup sekali saja ia berhutang budi juga berhutang biaya perawatan rumah sakit kepada pemuda itu. Walau Ricko tidak pernah menyinggung masalah itu, namun Sheila berjanji pada dirinya sendiri, suatu waktu akan menggantinya, nanti jika ia sudah bekerja dengan gaji yang cukup.

"He, kok mendadak diam? bagaimana dengan tawaranku?" Ricko bertanya lagi ketika dilihat gadis itu tertunduk dan terdiam.

"Aku takut merepotkan kamu Ko, pagi kan kamu juga harus kerja, belum tentu juga bisa jemput aku sorenya. Nanti majikan kamu marah, trus kamu dipecat bagaimana?" Alasan Sheila dengan senyum lucunya.

"Itu bisa diatur." kata Ricko. Mana mungkin aku dipecat? batinnya, yang ada aku yang memecat karyawanku yang kurasa tidak becus dalam bekerja. Ah ... gadis ini masih juga mengkhawatirkan diriku, jangan-jangan dia mulai menyukaiku. Dannn hatinya pun berbunga-bunga.....semoga bukan hayalan semu, harapnya.

"Baiklah, jika itu tidak membahayakan pekerjaanmu. Tapi diantar paginya pas berangkat kerja sama malam pas keluar kampus saja ya? Biar kamu nggak bingung ngatur waktu antara majikan dan harus jemput aku dari tempat kerja." argumentasi Sheila pada Ricko.

"Oke nona, kuterima saranmu, deal ya." solusi yang sangat bagus, pikirnya.

Dan dimulailah antar jemput antara Ricko dan Sheila, hingga pada suatu malam ketika dia sedang membonceng Sheila sepulang dari kampus dan mengajaknya sekedar menikmati soto ayam kegemarannya, tiba-tiba ada sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda menghampiri ke arah mereka berdua, lebih tepatnya ke arah Ricko.

Dengan lembut perempuan paro baya itu menepuk pundak Richo dan duduk di depannya, tepatnya di samping Sheila. Richo kaget dengan kehadiran perempuan  yang tak lain adalah mamanya sendiri. Bagaimana ini? Namun dia berusaha untuk menguasai keadaan. Dia berusaha menarik tangan Sheila untuk menjauh, namun tangan laki-laki yang berjalan ke arahnya menghentikan langkahnya.

"Mau kemana Ko, apa nggak kangen dengan papa mama? 3 bulan sudah kamu tidak berkabar apalagi pulang? Trus terang mama dan papa khawatir dengan keadaan kamu. " Kata-kata lembut dan tegas laki-laki itu adalah papanya.

Richo terdiam, hingga membuat Sheila bingung apa yang sedang terjadi. Mau bertanya dia tidak punya keberanian.

"Kamu kelihatan kurusan dan lebih hitam Ko, trus baju dinas siapa ini yang kamu pakai, seperti baju dinas mang Ujang, sopir tantemu." ujar mamanya dan melanjutkan perkatannya ..... "mama kangen sekali sama kamu, sepertinya kamu sudah menemukan gadis yang akan menjadi calon istrimu?" lembut suara perempuan itu sambil matanya melirik ke arah Sheila.

Sampe disini Sheila mencoba menerka-nerka, tapi mau menyimpulkan ada rasa takut. Akhirnya ia beranikan diri bertanya pada sepasang suami istri yang ada di hadapannya.

"Ibu dan bapak ini siapa ya? Apa orang tua Ricko?" tanyanya dengan ragu.

"Iya, kami kedua orang tuanya. kami datang dari Jakarta karena saking kangennya dan mengkhawatirkan putra satu-satunya yang kami miliki." jawab laki-laki yang sedari tadi berdiri.

Oooo....benarkah ini orang tuanya Ricko? tanyanya dalam hati. Dari penampilannya mereka pastilah orang kaya, sempat tadi dia melihat mereka turun dari Alphard warna hitam. Tapi mengapa Richo harus tinggal di rumah sempit depan kosnya? Kenapa pula ia mengaku sebagai sopir pribadi? Ah, sejuta tanya hinggap di kepalanya. Sandiwara apa ini?

"Benarkah itu Ko, tanyanya pada Richo dengan wajah yang hampir menangis, dia tidak tahu apa alasan Ricko di balik ini semua, hingga ia dalam penyamaran menjadi seorang sopir pribadi, mendekati dirinya.

"Jika benar kamu tidak akan meninggalkan aku kan Shel?" Ini semua kulakukan demi kamu, aku ingin menjadikan kamu istriku, tak kan kubiarkan kamu mengarungi lautan kehidupan ini sendiri, aku yakin denganmu, aku penasaran dengan sosok kamu, gadis mandiri, jutek, dan pekerja keras." cerocosnya berusaha meyakinkan pujaan hatinya.

"Jadi ini benar Ko?" Kenapa kamu harus melakukan ini? Apa kamu kira aku ini cewek yang mengagungkan harta? Apa karena aku anak orang miskin dan kamu anak orang kaya? Kamu takut aku mencintai kamu karena harta orang tuamu? Sungguh salah kamu menilai diriku, jangan ukur diriku dengan harta yang dimiliki orang tuamu," Sheila mengatakan itu sambil menangis dan berlari meninggalkan mereka.

Dalam tangisnya dia merasa tersinggung, kenapa ini terungkap di saat pelan-pelan hatinya mulai tertambat dengan sosok Ricko, pemuda tampan sederhana yang sama mandirinya seperti dia, pekerja keras hingga rela menjadi sopir pribadi, rela menungguinya di rumah sakit tatkala dia sakit, ikhlas mengantarnya ke tempat kerja, dan menunggunya di depan kampus, malam-malam hanya untuk mengantarnya pulang.

Entah mengapa semenjak mengenal Ricko ia merasakan ada sosok yang bisa diajaknya berbagi  cerita kehidupan yang serba keras ini, ia merasa ada pelindungnya ketika ia harus menjalani ini semua di rantauan yang jauh dari orang tuanya. Sheila yang terpaksa mandiri karena keadaan, menjadi sedikit manja semenjak mengenal pemuda itu. Dan benih-benih cinta mulai mengisi kekosongan hatinya yang selama ini sengaja dia tidak isi dengan yang namanya cinta dari lelaki.
Ah.....mengapa aku begitu lemah, hanya karena kebaikan seseorang,

Hingga tiba-tiba Ricko dan kedua orang tuanya, sudah berada di sampingnya.

"Aku bukan anak orang kaya Shel. Oke kalo kamu nggak sudi bersuamikan anak orang kaya, aku katakan sekali lagi, bahwa aku bukan anak orang kaya. Jika itu bisa membuatmu kembali padaku, aku rela menjalani kehidupan seperti yang selama ini kamu ketahui, sosok Ricko yang bekerja sebagai sopir pribadi dan tinggal di rumah sempit. Tolong Sheila, jangan patahkan hatiku." perkataan Ricko membuat kedua orang tuanya melongo dan saling berpandangan.



#ODOPbatch7
#Day54
#Tantangan Pekan 8
#Episode 4

Jumat, 01 November 2019

Gadis Impian (Eps 3)

by: Lilis Indrawati




Episode 2: https://mimpililis09.blogspot.com/2019/10/gadis-impian-eps-2.


Sudah seminggu Sheila menjalani rawat inap di Rumah Sakit, teman dan ibu kos silih berganti menjaganya. Hanya Richo saja yang tidak sili berganti. Cowok keren itu hampir setiap hari berada di Rumah Sakit, demi sang pujaan hati. Entah apa istimewanya Sheila di hati Richo, hingga Richo seperti di tarik oleh magnet yang sangat kuat untuk selalu memikirkan gadis tersebut, tidak ada yang lain. Dan kondisi kesehatan Sheila pun berangsur membaik, hingga tiba waktunya meninggalkan Rumah Sakit. Richo mengurus segalanya, terutama yang berhubungan dengan administrasi. Tibalah saat berkemas meninggalkan rumah sakit.

"Sheila, kamu sudah diperbolehkan pulang, karena kondisi kesehatan kamu berangsur membaik. Ayo aku bantu berkemas, go car sudah menunggu di parkiran." ujar Richo pada Sheila yang masih duduk termangu.

"Berapa biayanya ya Ko, terus terang aku gak punya biaya sama sekali. Bagaimana aku harus membayarnya?" jawabnya dengan sedih yang membuat dahinya semakin berkerut.

"Wis beres kabeh, ayo cepat sedikit .... gak usah dipikir." jawab Richo dengan cepat.

"Siapa yang membayarnya?" Pertanyaan Sheila heran.

"Seperti kataku tadi, gak usah dipikir, kamu fokus pada pemulihan kesehatan kamu saja. Ayo .... kasihan pak go car jika harus  menunggu lama." jawab Richo lagi dan memberi isyarat agar Sheila tidak bertanya lagi.

Sheila menuruti apa kata Richo, dengan mengemasi barang-barangnya iapun berpikir, siapa yang menyelesaikan semua pembayaran ini? Apa mungkin Richo? Yang hanya seorang sopir pribadi, berapa sih gajinya? belum dipotong biaya kos dan biaya hidup lainnya.
Namun bagi Richo, seorang pemuda sukses, kaya raya yang lagi menyamar sebagai pemuda biasa, uang segitu tidak ada. Apalagi buat gadis pujaan hatinya. Dia tinggal telepon sekretarisnya untuk menyelesaikan semuanya, beres. Tapi dia juga bingung seandainya Sheila menanyakan dari mana ia punya uang untuk membayar ini semua? Ah, nanti sajalah dibahas.

Tak berapa lama mereka sampai di depan kos Sheila. Seluruh penghuni beeserta ibu kos menyambutnya di pintu gerbang. Sheila terharu dengan semua ini. Dia tidak mengabarkan tentang sakitnya ini pada keluarganya, terutama ibunya, dia tidak ingin ibunya terbebani dengan cerita hidupnya di rantauan, yang ibunya tahu Sheila bekerja sambil kuliah, dan gajinya dicukupkan untuk biaya hidup dan biaya kuliahnya. Titik.

Tapi suasana siang ini di kosnya, betul betul membuat ia berderai air mata, terharu. Semua penghuni kos sayang padanya, ibarat seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri, jujur ia merindukan ibunya, perempuan tua yang menghabiskan separuh usia membesarkan dia dan adiknya seorang diri, menyekolahkan hingga SMA, dengan susah payah. Hanya sanggup sampai SMA, sebatas itu kemampuan ibunya, yang dengan terengah-engah  menjalaninya. Dan Sheila pun menyadari, dia dan adiknya harus mandiri, jika pingin kuliah, ia harus berusaha sendiri. Kasihan ibunya, harus pontang panting membesarkan dan menyekolahkannya tanpa bantuan orang lain.

Makanya ketika dia sakit seperti saat ini, dia tidak ingin mengabari ibunya yang tinggal jauh di sana, di Magetan Jawa Timur. Ia hanya ingin mengirim kabar yang baik-baik saja, berita gembira, hingga ibunya juga bisa bergembira di tengah rasa kangennya pada anak gadisnya. Suasana di kos hari ini benar-benar membuat hatinya di kuasai emosi, seperti diaduk aduk rasanya. Antara bersyukur berada di tengah-tengah orang-orang yang selalu menyayanginya dan menganggapnya sebagai kerabatnya, juga dia merindukan ibunya. Seandainya ibu dan adiknya ada tengah-tengah suasana ini, ah air mata ini mengalir tanpa pembatas.

Sheila bersyukur dikelilingi orang-oang yang berhati malaikat. Seperti pemuda tampan yang ada di sampingnya ini, Richo. Di matanya Richo pemuda sederhana yang ulet dalam menjalani hidup, walaupun hanya seorang sopir pribadi, namun hatinya mulia. Bagaimana tidak, dialah yang mengurus pembayaran rumah sakit yang jumlahnya tidak kecil. ah.....ditepisnya jauh jauh perasaan tentang pemuda itu. Baginya konsentrasi saat ini adalah bagaimana kuliahnya bisa selesai dengan cepat, hingga dia bisa bekerja sesuai ijazah yang kelak diperoleh, langkah selanjutnya membahagiakan ibu dan adiknya, barulah dia memikirkan kehidupannya sendiri. Dann itu masih jauuuhhh juga membutuhkan waktu yang lama.

"Hei, kok melamun," tepuk Richo ke pundaknya. "Sedang memikirkan apa nona? Habis sakit kok jadi melamun. Dengan sedikit menggoda Richo membuyarkan lamunan Sheila. "Ayo kita nikmati tumpeng yang sudah disiapkan oleh ibu kos dan teman-temanmu ini,  rejeki pantang di tolak," ujarnya sambil meninggalkan Sheila menuju ruang tengah.

Baiknya orang-orang ini, menyambutku dengan tumpeng segala. Ia serasa berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Iapun melangkah mengikuti Richo menuju ruang tengah, dimana tumpeng itu berada. Bersama teman-temannya ia menikmati hidangan sederhana ini. teman-temannya ramai sekali, seperti bertahun-tahun nggak bertemu dengan Sheila, merekapun tertawa bahagia. Namun di sela-sela bahagia itu, ada sepasang mata tajam yang mengawasi senyum dan tawa gadis itu, ya senyum yang selama ini tak pernah dilhatnya, tawa yang selama ini tak pernah dinikmatinya. Hanya kerutan di dahi saja yang selalu dilihatnya. Ya... hari ini dia melihat Sheila tertawa bahagia, hingga lesung pipitnya yang manis menyembul, semakin terlhat aura kecantikannya. Ah, sungguh gadis itu telah menawan hatinya. Jika tiba saat yang tepat ingin rasanya mengatakan pada gadis itu bahwa ia sungguh menyayangi dan mencintainya, dan tak kan dia biarkan gadinya itu mengarungi kehidupan yang menyedihkan ini seorang diri. Calon istrinya harus bahagia bersamanya, itu tekad hidupnya. Ah kapan saat yang tepat itu tiba.




#ODOPbatch7
#Day53
#Tantangan Pekan 8
#Episode 3

Kamis, 31 Oktober 2019

Gadis Impian (Eps 2)

by: Lilis Indrawati




Episode 1 https://mimpililis09.blogspot.com/2019/10/gadis-impian-eps-1.html

Richo sudah siap dengan penampilan sederhana yang disengaja, dan mondar-mandir di depan kos Sheila. Menit berlalu dan hampir 1 jam dia mondar-mandir, namun Sheila belum juga kelihatan berangkat kerja, padahal jarum jam sudah menunjukkan jam 08.30. Dan sayangnya, Richo tidak sempat menanyakan nomer handphone gadis tersebut.

Akhirnya masuklah dia ke  halaman kos Sheila. Hmmm.....halaman yang asri dan rapi, penghuninya putri semua. Sempat membaca ada aturan di kos ini, khusus kos putri dan single. Ada jam-jam tertentu untuk bertamu pula. Jadi penguninya ndak sembarangan, ada aturan ketat dari pemilik kos yang diterapkan dan wajib dipatuhi oleh penghuninya. Richo bertanya pada ibu-ibu yang lagi menyirami bunga-bunga dihalaman, sepertinya ini ibu yang bertanggunjawab atas kos-kosan ini.

"Pagi bu, apa saya bisa bertemu Sheila?" sapanya ramah.
"Pagi juga mas, oh mbak Sheila, ada....sepertinya lagi sakit, sebentar saya panggilkan, silahkan duduk. Sambut ibu itu dan mempersilahkan saya untuk duduk di ruang tamu yang sudah disediakan.

Sambil menunggu, aku mengamati sekeliling, ada sekitar 10 kamar di sini, kelihatan bersih dan nyaman. Semakin penasaran aku dengan gadis itu. Tak lama kemudian, gadis yang itupun muncul di depanku. 

"Hai, sapanya." Tak seperti biasanya energik dan lincah, pagi ini Sheila terlihat pucat dan kurang bergairah.

"Apa kamu sakit?" Tanyaku bodoh.
"Iya, begitulah. Sepertinya onderdil tubuhku minta istirahat. Sebenarnya sudah sejak 1 minggu yang lalu aku demam, tapi dengan minum obat penurun panas, demamnya datang dan pergi, tapi aku mengabaikannya.  Sejak semalam badakku panas banget. Jadi kuputuskan istirahat.

"Oh, ya sudah kalo begitu, kamu istirahat saja, aku pamit." ujarku dengan cepat.

"Dia mengangguk tanpa berkata apa-apa, sambil melangkah menuju kamarnya. Aku memperhatikan langkah gadis itu dari belakang, ketika tiba-tiba Sheila sempoyongan dan hampir ambruk, secepat kilat aku lari dan berusaha meraih tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. dan astaga, dia pingsan, tanpa sengaja aku memegang tangan dan dahinya, panas banget suhunya.

"Bu, ibu, teriakku pada ibu kos yang masih asyik dengan tanaman-tanamannya. ibu itu menoleh dan berlari ke arah kami.

Ada apa ini, kok Sheila pingsan. Reflek aku memanggil go car, untuk membawanya ke rumah sakit terdekat, karena suhu tubuhnya yang tinggi, di tambah dengan ceritanya dia sudah panas sejak seminggu yang lalu. Tak lama kemudian Go Car datang, segera kami angkat Sheila dengan tubuh yang lemah dan belum sadarkan diri masuk ke dalam mobil. Saya ditemani ibu kos segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Sepanjang perjalanan aku berdoa semoga semua segera membaik. Dalam haatiku yg terdalam aku tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang baru aku kenal, namun mampu menguasai hatiku.

Tak lama kami tiba di Rumah Sakit, segera Sheila mendapatkan penangana oleh paramedis. Kutekankan pada petugas di sana agar Sheila mendapatkan perawatan terbaik. Reflek ku katakan itu, lupa nih kalo sedang dalam penyamaran menjadi lelaki sederhana yang tak punya kuasa dana. Setelah menjalani pemeriksaan, kudapatkan keterangan bahwa Sheila harus rawat inap. Aku berunding dengan ibu kos, siapa yang bisa menemaninya di Rumah Sakit? Bu kos berjanji akan meminta penghuni kos untuk bergantian menjaga Sheila selama menjalani rawat Inap. Kasihan bener gadis ini, dia rela kerja demi untuk bisa mengenyam bangku kuliah. Dan sekarang dia terbaring lemah dengan selang di tangan kanannya.





#ODOPbatch7
#Day52
#Tantangan Pekan 8
#Episode 2 






Selasa, 29 Oktober 2019

Gadis Impian (Eps 1)

by: Lilis Indrawati



Ringkasan Cerita Sebelumnya https://mimpililis09.blogspot.com/2019/10/pengagum-mu.html

Ricko adalah pria tampan, berpendidikan dan kaya. Putra tunggal dari pemilik hotel Venus, dan sebagai direktur di perusahaan property yang ia rintis sejak masih kuliah. Ricko, ... di usianya yang menginjak 27 tahun mencintai secara diam-diam seorang gadis mandiri, cuek dan selalu mengerutkan dahinya, yang ia jumpai secara tidak sengaja di zebra cross sebuah perempatan.  Sheila nama gadis tersebut adalah seorang mahasiswi baru di sebuah kampus di Denpasar yang bekerja sambil kuliah. Ia selidiki secara sembunyi-sembunyi gadis tersebut ..... dan iapun jatuh cinta. Itulah tujuan dia berkelana ke seluruh kota di Indonesia. Menemukan calon pasangan hidup yang ikhlas mencintainya tanpa pamrih.


*******

Akhirnya Ricko mengikuti gadis yang dipanggil Sheila  menuju ke tempat tinggalnya. Di sebuah jalan yang tidak begitu ramai dan sangat tenang, di sanalah Sheila tinggal. Berdua dengan gadis seusianya yang juga masih kuliah tapi beda kampus,  mereka berdua menjadi penghuni kos-kosan mungil tapi bersih. Bagaimana cara gadis itu mengatur keuangannya, hingga bisa kuliah sambil bekerja? Pantas saja,  keningnya selalu berkerut dan judes. Justru di situlah Ricko jatuh hati dan semakin penasaran dengan sosok Sheila.

Secara diam-diam esok harinya, Ricko juga mencari tempat tinggal persis di depan kos-kosan Sheila. Untungnya masih ada 1 kamar kosong yang bisa ia tempati. Mobil yang biasa ia gunakan sementara dititipkan tantenya. Dan gantinya ia membeli sepada motor matic bekas. Dengan begitu Rocko merasa lebih leluasa mengenal lebih dekat gadis pujaannya dan melihat keseharian gadis tersebut. Pekerjaan ia serahkan sementara ke sahabatnya yang sangat dipercaya, Hudy, .... yang selalu ia  kontrol dan arahkan lewat gawai cerdasnya.

Pagi yang cerah, ... Ricko mulai petualangannya, menunggu gadis yang sudah menyita hatinya itu keluar rumah untuk menjalankan aktifitasnya. Tidak perlu menunggu lama, Sheila muncul dengan berjalan cepat menuju ujung jalan untuk mencari angkot menuju tempat kerjanya. Ia iringi langkah Sheila, dan mulai memperkenalkan diri.

"Hai nona, mau kemana?" sapanya dengan semanis mungkin.

"Hai juga, sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya ya? Oh iya, bukankah anda pengendara mobil yang menerobos traffic light, dan hampir menabrakku?" pertanyaannya nyerocos kelihatan banget juteknya.

"Iya nona, maafkan ya, waktu itu terburu-buru harus jemput bos, saya sopirnya, kenalkan nama saya Ricko, nona siapa?" Aku menjawab pertanyaannya dan basa basi bertanya namanya, padahal aku sudah mencari tahu.

"Panggil saja Sheila, jangan nona. Lain kali kalau lampu merah jangan ngebut ya, kalo kecelakaan bagaimana?" cerocosnya.

"Baiklah, Sheila ...... mau ku antar?" aku menawarkan diri.

"Tak usahlah, aku sudah di tunggu abang angkot, sampai ketemu." tidak ada senyuman, yang ada dahi yang berkerut. Ia lincah masuk ke dalam angkot langganannya.

Setelah angkot yang di tumpanginya bergerak jauh meninggalkan jalanan kota di pagi hari, ku jalankan motorku mengikuti ke arah mana tujuan angkot itu. Ternyata menuju ke sebuah toko bahan-bahan kue yang lumayan besar. Dari jauh kulihat gadis itu turun dari angkot, dan bergabung dengan karyawan lainnya. Ooohhh, disini toh Sheila kerja, semangatnya itu yang membakar jiwaku, untuk bisa segera mendapatkan hatinya. Bismillah .... aku bertekad untuk menjadikan dia istriku, berjanji dalam hatiku, ingin mengajaknya bahagia mengarungi lautan kehidupan ini.

Tak berapa lama setelah mengamati toko tersebut, aku starter motor matic  dan kembali ke rumah tanteku, berencana untuk mengetahui perkembangan tender proyek melalui orang kepercayaanku. Juga mengabari orang tuaku, bahwa putranya ini  dalam keadaan baik-baik saja. 3 hari aku meninggalkan rumah tanpa mengabari mereka. Dan itu cukup membuat seisi rumah kalang kabut mengkhawatirkan keadaanku. 





#ODOPbatch7
#Day51
#Tantangan Pekan 8
#Episode 1 

DILARANG MISKIN

Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM Tebal Buku 230 halaman Miskin kok di larang? Sebagaimana sebuah produk, apa...