Selasa, 29 Oktober 2019

Strategi Dagang Tetangga Depan

by: Lilis Indrawati




Tok .... tok .... tok ....., terdengar suara ketukan di pintu depan. Pasti ada seseorang yang mengetuknya, ketika aku lagi sibuk menyiapkan teh panas buat berbuka di Senin sore menjelang maghrib. 

"Ibu, bu ......" benar saja, itu suara tetangga depan rumah. Nggak hanya sekali ini saja tetangga yang satu ini nyelonong tiba-tiba ada di depan pintu. Aku nyebutnya nyelonong, karena walaupun pager sudah tergrendel tetap saja tetangga spesial ini bisa masuk.

"Iya, tunggu sebentar," sahutku dari dapur. Bergegas  kuraih kerudung di kursi ruang tengah., berjalan cepat membuka pintu dan mempersilahkan masuk. Sekilas terlihat tetangga spesial ini membawa 2 tas besar. Menebak-nebak  tujuannya datang ke rumah di sore hari. Hmmm ..... apal 😀

"Silahkan duduk  ma Daniel," begitu biasa aku memanggilnya. Ia seorang Chinesse, begitu juga suaminya. Di jalan lingkungan rumah ini penghuninya dari berbagai macam suku dan agama. Ada Bali asli, ada yang dari Jawa, dari NTT, Riau juga ada. Ada Islam, Kristen, Hindu, Budha. Bhinneka Tunggal Ika pokoknya. "Ada apa ya ma Daniel, bawa tas besar-besar ini isinya apa?" 

"Ini bu, spiku dan brownies, ibu beli ya. Papanya Daniel waktunya berobat malam nanti, dan saya belum ada uang." ucapnya sambil mengeluarkan dagangannya. Suaminya memang sudah 1 tahun belakangan ini terkena strooke, jadilah istrinya ini kerja sendiri. Sambil merawat suaminya, ia juga membesarkan anak semata wayangnya yang bernama Daniel.

Baiklah, l spiku 1, brownies 1 ya, buat teman minum teh." sahutku spontan, ketika terlihat ada logo hijau MUI di kemasannya. Karena suara adzan dari masjid yang terletak tidak jauh dari rumah mulai berkumandang, menyerukan panggilan bagi umat muslim untuk menunaikan kewajiban sholat maghrib. Suamiku yang sudah duduk manis di meja makan, pasti juga menunggu untuk segera berbuka, sebelum berangkat ke masjid.

Mengenai tetangga yang satu ini, aku hapal bener tipikalnya. Paling sering ke rumah yang tujuannya adalah nawarin dagangan. Bermacam-macam yang di tawarkan, dan dengan alasan tak kuasa menolak akhirnya memutuskan beli juga. Walau terkadang aku sendiri tidak membutuhkannya. Mungkin di mata mamanya Daniel ini aku ada sasaran yang tepat karena pasti membeli.

Pernah suatu ketika dia menawarkan microwave yang kecil kemungkinannya untuk ku beli. Pertimbangannya  adalah punya oven besar buat jualan, oven listrik juga punya, microwave walau kecil juga ada. Tapi dia tidak peduli, entah karena strategi marketingnya jitu atau karena alasan butuh duit segera, bolak-balik dia ke rumah yang selalu ku jawab tidak beserta alasannya. Kedatangan yang ke-4 kalinya dalam hari itu, dibawanya pula barangnya yang beratnya nggak ketulungan. Hingga akhirnya ku putuskan untuk membelinya, saat suamiku mengeluarkan dekritnya.

"Sudahlah beli saja, ini uangnya, kasihan juga bolak-balik." Sambil memberikan uang buat membayar microvawe itu kepadaku. Dan sampai sekarang, barang tersebut belum sekalipun di gunakan, karena tidak ada alasan untuk menggunakannya, jadi masih nangkring cantik di dapur itung-itung buat pemanis.

Lain waktu, ditawarinya televisi, alasannya selalu buat kebutuhan keluarganya, buat bayar sekolah, beli buku dan lain-lain. Yang jelas karena faktor tidak tega dan merasa kasihan, akhirnya membelinya juga. Akibatnya harus subsidi silang terhadap kebutuhan keluargaku sendiri. Pingin membantu tetangga yang lagi dibelit ketidakberuntungan hidup, itu sebenarnya alasan utama kami. Tetapi karena seringnya, itu yang membuat harus berani menolaknya kalo aku sendiripun tidak membutuhkan barang tersebut. Tidak seperti di awal-awal dulu, selalu berusaha untuk membelinya, sekarang menyesuaikan juga dengan kondisi dompet. Takutnya dompet semakin tipis sebelum gajian tiba, nah bisa masuk angin dompetnya dan meriang juga yang punya dompet. 😁






#ODOPbatch7
#Day50


Minggu, 27 Oktober 2019

Pesan Singkat

by: Lilis Indrawati





"Jam 01 malam nanti ku telepon, tolong angkatlah." Sebuah pesan WhatsApp masuk ke handphone Samsungku. Dari nomer telepon yang tidak terecord, aku bertanya dalam hati, ini siapa? Kulacak Photo Profile, tidak kutemukan photo dipasang di sana. Pertanyaanku tidak menemukan jawabannya. Dengan kepala yang terisi tanda tanya, kulanjutkan aktifitas kerjaku. Ini masih jam 03 sore, yang artinya 2 jam lagi jam kantor usai. 

Dengan langkah gontai, masih penasaran dengan sosok pengirim pesan singkat ke WA ku tadi siang, aku menuju parkiran di lantai bawah gedung ini. Gelap, karena letaknya yang tertutup dengan dinding-dinding gedung. Pengap, karena posisi parkir ada di basement. Entah tiba-tiba aku merasakan sesuatu berdesir di tengkukku, ah kuanggap semilir angin dari blower disamping jalan yang kulalui. Toh tidak sekali ini saja aku menuju area parkir ini. Setidaknya bisa 4 kali dalam 1 hari aku bolak-balik melewatinya. Mungkin karena pikiranku dipengaruhi pesan WA tadi.

Kusetir mobil langsung menuju rumah, lelah dan letih tiba-tiba menguasai raga ini. Alih-alih mau mampir ke Gramedia, menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh ini saja aku rasanya menemui kebosanan yang berujung rasa pegal menyeruak ke dalam sendi-sendiku. Tiba-tiba kurasakan desiran itu lagi, desiran di tengkuk .... persis seperti di parkiran kantor tadi. Ah .... apa pula ini, kuputar lagu-lagu dari audio di mobilku. Kutancap gas di jalanan bypass, lirik lagu "Harusnya Aku" dari Armada menemani perjalanan ini hingga gerbang rumahku terlihat.

"Syukurlah sudah datang." sapa ibuku sesampainya aku memarkir mobil. Kucium tangan ibuku yang sudah mulai keriput, menunjukkan umur yng semakin menua.

"Memangnya ada apa bu?" kuajukan pertanyaan itu, karena tak kulihat siapapun di rumah kecuali ibuku dan bi Tami, asisten rumah tangga yang setia bersama ibu.

"Nggak ada apa-apa, hanya telepon yang berdering terus dari tadi, begitu diangkat tidak ada suara dari sana. Kupikir kamu yang menelepon." jelas ibu.

"Nita nggak ada telepon kok, dari kantor langsung nyetir, pingin cepet nyampai rumah, capek dan kangen ibu." Sambil ngomong kucium pipi ibuku yang juga sudah dipenuhi guratan-guratan halus seperti tangannya ..... usia yang jauh dari sebutan muda.

"Ya sudah, cepat mandi sana, trus beristirahat. Lagipula handphone kamu kenapa, ibu telepon dari 30 menit yang lalu tidak aktif." Seru ibuku sambil menatapku masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku.


********

Selesai mandi, kami berkumpul di ruang keluarga. Seperti biasanya kami nonton TV serial India. Ini hiburan yang jadi penyemangat ibu dan bi Tami dalam menjalani hari demi hari. Kalo sudah asik dengan serial ini, mereka berdua tidak bakalan mau diajak keluar rumah sekedar jalan-jalan menikmati indahnya kota, ataupun hanya merasakan kuliner di sekitaran perumahan tempat kami tinggal.

Kami menempati rumah yang berhalaman luas ini sekitar 1 tahunan. Merupakan rumah dinas dari perusahaan tempatku bekerja. Kuajak ibuku untuk menemani, tak kan pernah ketinggalan bi Tami yang selalu setia ngikut kemanapun ibuku tinggal. Ada kang Udin yang datang pagi dan sorenya pulang. Tugasnya membantu bi Tami mengurus dan menjaga rumah ini. Tapi sudah 3 hari ini kang Udin tidak masuk kerja tanpa ada kabar beritanya.

Usai heboh dengan serial India, akupun menanyakan lagi kepada ibuku perihal telepon tadi sore. Karena aku merasa handponeku aktif terus, tapi kata ibuku berkali-kali di telepon nadanya tidak aktif. Menggabungkan desir di tengkukku yang kualami hingga 2x, telepon aktif yang dibilang gak bisa di hubungi dan telepon di rumah yang berdering tapi tidak ada suara, membuat aku jadi takut juga lama kelamaan. Dannn bulu kudukku berdiri.

Kukuat-kuatkan hatiku, kufokuskan pikiranku, bahwa ketakutan itu adanya di dalam hati masing-masing. Ketakutan itu jangan sampai bersemayan dan bermarkas di dalam hati dan jiwa manusia. Kubisikkan kata-kata itu berulang-ulang pada diriku sendiri. Buang jauh-jauh ketakutan itu. Aku tidak menceritakan hal ini pada ibuku dan bi Tami agar mereka berdua tenang.

Jam di dinding rumahku berdentang 11 kali, berkali-kali bi Tami menguap tak beraturan saking ngantuknya. Tapi tidak berani mendahului tidur ke empuknya kasur di kamar, sebelum ibuku menyelesaikan hiburannya, serial India. Aku pamit duluan masuk ke kamar untuk beristirahat, karena besok aku harus bangun pagi dan melanjutkan rutinitas ngantor seperti biasanya.

Aku melangkah ke peraduan, dan melupakan pesan singkat di WhatsAppku siang tadi.


*******

Aku terbangun karena  jam dinding di rumahku berdentang 1 kali, ya hanya 1 kali .... dan itu berarti ini sudah jam 01 tengah malam. Aku langsung teringat pesan di WA-ku tadi siang, entahlah ingat begitu saja. Belum sempat hilang rasa kaget dan heranku, tiba-tiba handphone bergetar. Sengaja kubuat getaran jika ada telepon masuk tidak mengganggu orang di sekitarku, dan sampai rumah aku lupa mengubahnya. Entah apa yang merasukiku, he he he kok jadi kayak judul lagu ya.

Dengan tangan gemetar akhirnya kuangkat juga handphoneku. Sambil aku atur dulu nafas di dadaku yang tak beraturan. Ternyata pengirim pesan WA itu menepati janjinya.

"Hallo, selamat malam. Dengan siapa ini? Dan ada apa kok telepon malam malam?" Pertanyaan itu keluar lancar begitu saja dari bibirku.

Kurasakan dari dalam handphoneku tidak ada suara apapun, hanya ada suara kresek...kresek...seperti suara gangguan signal. Semakin berdirilah bulu kudukku, ternyata aku ketakutan, ketakutan yang amat sangat. Lagi terdengar suara kresek-kresek itu semakin membesar volumenya, padahal aku tidak merasa membesarkan volume handphoneku.

"Dengan siapa ini?" Sedikit keberanian yang tersisa membawaku mengeluarkan pertanyaan ini. Dannn .... ada suara berat seorang lelaki disana, di sertai suara jeritan minta tolong seperti ada suara mobil yang menginjak rem hingga berdenyit.

Aku takut, teramat takut, reflek kubuang handphone ke kasur. Aku mundur beberapa langkah, mengatur nafas dalam-dalam dan berniat menyalakan lampu kamarku yang sedari tadi belum sempat kunyalakan. Bersamaan dengan nyalanya lampu di kamar, telepon rumahpun ikutan berdering.

Aku berlari ke arah telepon rumah itu di letakkan, .... di ruang tengah tidak jauh dari ruang keluarga tempat kami menonton serial India tadi sore. Dengan nafas yang tersengal-sengal naik turun, aku mengangkat gagang telepon sambil berharap itu telepon dari keluarga yang tinggal di luar kota.
Tapi ternyata itu suara Kang Udin, tukang kebun di rumah ini yang sudah 3 hari tidak masuk kerja.

"Halo non, ini saya Kang Udin, maafkan menelepon malam-malam." kata suara berat di seberang yang mirip dengan suara berat di handphoneku barusan.

"Iya kang, kenapa telepon malam-malam dan kenapa pula tidak menunggu pagi saja teleponnya." jawabku sekenanya. Belum sempat kulanjutkan pertanyaan yang berikutnya, dan telepon masih nempel di telingaku, aku dikejutkan dengan sesosok lelaki di pintu rumah dengan tubuh bersimbah darah, isi perut terburai tidak karuan dan tangan yang remuk, dialah kang Udin, aku masih mengenalinya dari wajahnya yang remuk tidak karuan. Juga dari baju kerja yang biasa dia kenakan ketika kerja sebagai tukang kebun di rumah dinas ini.

Dengan mata samar dan tubuh yang serasa melayang ringan, hatiku bertanya lantas siapakah yang di telepon yang sedang bicara denganku ini? Aku pun tidak ingat apa-apa lagi, pingsan.



******

Esok paginya aku terbangun dengan posisi di atas kasur kamarku, ada ibuku di sebelah ranjang dan juga bi Tami. Terlihat istri kang Udin juga ada di situ, sesenggukan menanyakan kemana suaminya sudah 3 hari tidak pulang ke rumah. Pikiranku langsung kalut tidak karuan. Aku bergegas merapikan baju dan menyisir rambutku.

Kusambar kunci mobil, kuajak ibu, bi Tami juga istri kang Udin, tujuannya Rumah Sakit terdekat. naluriku mengatakan bahwa kang Udin bisa jadi ada di Rumah Sakit tersebut dengan jasad yang tidak bisa dikenali akibat tertabrak truck gandeng ketika hendak berangkat kerja ke rumahku.

Sesampai di Rumah Sakit, terjawab semuanya, naluriku benar adanya. Innalillahiwa'innailaihi roji'uun. Semoga kamu tenang di alam sana kang. Selamat jalan. Dan kami mengurus jenazahnya hingga pemakaman, masih terbayang jelas wajah lugu kang Udin, yang sekarang tinggal kenangan. Hanya doa dari kami yang tulus ikhlas kami panjatkan.





#ODOPbatch7
#Day49




Kejujuran

by: Lilis Indrawati




Ini kejadian 5 tahun yang lalu, tapi baru terlintas lagi saat ini. Seperti biasanya dan seperti hari-hari kemarin, setiap kali belanja, membuka dompet, proses membayar dan akhirnya menerima kembalian disertai nota pembelian, demi efisiensi dan modal percaya, kembalian itu selalu langsung masuk ke dalam dompet, plung ........  tanpa sempat aku menghitungnya.

Begitupun, kejadian yang terjadi pada hari itu, aku biasa langganan beli pulsa di kios deket rumah. Pertimbangannya disamping kami bertetangga dan kenal baik, juga kios tetanggaku ini satu-satunya yang paling ramai di antara kios-kios penjual pulsa yang lainnya. Aku berniat beli pulsa 10 ribu dengan mennuliskan nomer telepon suamiku. Lalu kusodorkan uang 100 ribuan, dan dikasih kembalian beberapa lembar yang langsung aku terima tanpa menghitungnya.

Sesampai di rumah, suami menghampiri sambil  menanyakan kepadaku perihal pulsa yang masuk ke nomernya.

"Ma, kok pulsanya yang masuk 100 ribu, bukannya 10 ribu?" Tanya suamiku sesampai aku di hadapannya.

"Kok bisa?" Mama jelas lho bilang kalau beli pulsa 10 ribu. Dan kusodorkan uang lembaran merah 100 ribuan." jawabku. Akhirnya aku buka dompet juga, dan kuhitung lagi uang kembalian dari teteh yang punya kios pulsa barusan. Ternyata benar nggak salah, kembaliannya 88 ribu, tapi kenapa kok pulsa yang masuk 100 ribu. Jangan-jangan si teteh salah pencet nol ya ..... tebakku.

Akhirnya kutelepon teteh, kebetulan aku nyimpen nomer kontaknya, tak sampakan bahwa pulsa yang masuk 100 ribu dan bukan 10 ribu, disertai permintaan untuk tolong dicek kembali dan ku tunggu kabar selanjutnya. Kisaran 20 menit, teteh meneleponku. Dari seberang telepon teteh berkata:

"Maaf ya mbak, setelah aku cek di buku, juga saldo pulsaku, ternyata memang kami yang salah pencet, nolnya kebanyakan. Jadi pulsa yang masuk ke hape mbaknya 100 ribu." Jawabnya di sertai permintaan maaf.

"Oooo .... berarti sekarang aku yang punya utang 90 ribu ya teteh jadinya, sebentar aku tak balik ke kios kalo begitu." jawabku sambil mikir, wong harusnya jatah pulsa 10 ribu kok jadi 100 ribu. Di luar rencana keuangan ini.

Dan tetehpun menjawab: "Gak usah dibayar sekarang juga gak apa-apa mbak, lain kali saja, boleh kok, lagian juga kami yang salah."

"Biar tidak punya utang teteh, aku bayar saja sekarang, mohon ditunggu ya." jawabku. Walaupun ini bukan salahku dan pemilik kios memberi kelonggaran, tapi hutang ya hutang, secepatnya harus dibayar jika memang ada dana, itu yang selalu kami dahulukan.

Ini salah satu contoh kasus, bahwa dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun, kita harus menerapkan pola hidup jujur, setidaknya jujur pada diri sendiri. Pada kasus diatas, jika suamiku diam, aku gak bakalan tahu jika pulsa yang masuk lebih banyak. Dan jika aku tidak menanyakan ke pemilik kios pulsa, bisa jadi teteh juga tidak sadar kalau pulsa yang dia keluarkan kelebihan. Tapi apakah barakah hidup yang kita jalani jika seperti ini?

Mari kita berpikir, berapa sih untung dari berjualan pulsa? Aku yakin tidak banyak. Untung yang sedikit itupun masih bisa berkurang jikalau terjadi keteledoran semacam cerita di atas. Kan kasihan juga. Kita harus yakin bahwa rejeki sudah di pastikan sama Allah, makanya kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Apa yang menjadi hak kita, tidak akan pernah tertukar dengan hak orang lain. 




#ODOPbatch7
#Day48





Sabtu, 26 Oktober 2019

Pengagum Mu

by: Lilis Indrawati



Bertahun-tahun aku mengaguminya, bertahun tahun pula aku menjadi penggemar rahasianya. Belum ada kesempatan untuk menyampaikan bahwa aku cinta banget sama dia. Kemandirian, kecantikan, kesederhanaan yang melekat padanya sungguh memikat dan mengikat hatiku. Dan selama itu pula dia tidak menyadarinya, bahwa ada pria tampan, berpendidikan dan kaya yang selalu memperhatikan semua pola kehidupannya. Pria itu adalah aku.


**********

Aku mengenalnya sebagai gadis yang kuliah sambil bekerja, kuliah di sebuah kampus swasta di sore hari dan bekerja sebagai tenaga administrasi di toko bahan-bahan kue. Ritme kehidupannya hanyalah kerja dan kuliah, kerja untuk membiayai kuliahnya dan kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dia tinggal di sebuah kos-kostan di daerah Denpasar Utara. Gadis itu berjalan kaki ke toko tempat dia bekerja dan naik angkot menuju kampusnya di Denpasar Selatan.

Bagaimana aku bisa tahu tentang dia? Awalnya penasaran dengan gadis jutek tersebut, ketika kami berpapasan di zebra cross pertigaan jalan. gadis itu menyeberang setengah berlari dan aku menerobos traffic ligt yang menyala merah. Tak disangka dia tersenggol kendaraanku. Saking marahnya dia sama aku sampai-sampai bola matanya hampir keluar dari matanya yang sipit.

"Dasar Orang Kaya." gumamnya yang kubaca dari gerak mulutnya. Wajar dia marah, aku yang salah. Dan aku suka dengan caranya dia melotot, kecantikannya semakin terlihat. Parahnya rok yang dikenakannya robek. 

Karena waktu itu lampu sudah menyala hijau, aku lanjutkan mengemudi, ada petugas yang siap menilangku jika aku tak melarikan mobilku secepatnya. Setelah kejadian itu, asli aku kepikiran terus tentang sosok gadis yang kelak ku ketahui bernama Sheila itu, hmmm nama yang cantik, secantik rupa wajahnya. Esoknya di pertigaan yang sama aku sengaja nyanggong di sana dengan jam yang sama seperti kemarin. 16.45 WITA. Dan benar saja, sesosok tubuh mungil dengan kening berkerut, entah memikirkan apa, turun dari angkot berwarna biru. Langkahnya kelihatan terburu-buru dengan disertai larian kecil, membuat aku agak kerepotan juga untuk sekedar menanyakan basa-basi. Cuek banget sih ini gadis, padahal ada lelaki tampan di dekatnya yang sudah bersiap dengan senyuman termanis. Tapi dia tidak menghiraukannnya alias cuek. Aih ..... justru ini yang aku suka, bukan tipe gadis yang gampang digoda.

Akhirnya kuikuti saja langkah kakinya ke arah mana tujuannya. Eh, ternyata ke sebuah kampus kecil, yang terletak tidak jauh dari jalan raya tempat dia turun dari angkot. Selidik punya selidik, gadis itu mahasiswa baru di kampus yang terkenal dengan lulusannya sebagai sekretaris perusahaan yang handal. Nampak beberapa mahasiswi berpakaian rapi, satu persatu berdatangan meramaikan kampus khusus mahasiswa putri tersebut. Banyak yang cantik, naluri normalku sebagai lelaki mengakui itu. Namun gadis dengan kening yang selalu berkerut itu nampak lebih menarik hatiku dibandingkan dengan yang lain.


**********


Kuparkir roda empatku tidak jauh dari kampus dimana sesosok gadis yang beberapa hari ini menyita hampir 80% isi kepalaku. Pas di sana ada warung yang menjual beraneka macam jajanan dan minuman. Kupesan kopi dengan sedikit gula, sambil basa-basi ngobrol dengan ibu pemilik warung. 

"Ibu aslinya mana?" tanyaku sambil menyeruput kopi, ah enak benar rasa kopi ini, kopi Bali asli

"Saya dari Jember mas,"jawabnya sambil melayani pembeli yang lainnya

"Sudah lama bu, buka warung dekat kampus ini?" tanyaku diawal menyinggung tentang kampus dululah.

"Hampir 5 tahunan mas, Sabtu Minggu warung ini tutup di sorenya, karena perkuliahan juga libur, hanya pagi saja buka.

"Oooo, ibu kenal tidak dengan mahasiswi baru yang kuliah di situ bu?" Selidikku.

"Kalo mahasiswi baru nggak semua saya kenal mas, yang sering mampir kesini saja yang saya tahu, biasanya ada yang nunggu jemputan sambil beli minum."

Agak lama kami ngobrol ngalor ngidul nggak karuan. Aku lebih banyak jadi pendengar dari ibu pemilik warung, juga mendengarkan obrolan dari pembeli lain yang juga sama-sama penikmat kopi. Waktu berjalan berasa lamaaa sekali, hingga nyamuk-nyamuk mulai berseliweran mencari tempat yang empuk untuk jadi sasaran gigitannya.

Kampus mulai ramai dengan mahasiswi yang selesai dengan perkuliahannya. Satu persatu meninggalkan kampus, dengan kendaraan sendiri maupun dengan temannya. Mataku mencari satu persatu gadis yang membuatku penasaran tersebut. Namun belum juga kutemukan gadis jutek dengan kening berkerut tersebut. Tiba-tiba kemudian, ada suara memanggil.

"Sheila, tunggu ...... teriak salah satu mahasiswi memanggil nama Sheila. oh Sheila toh namanya,. Gadis bernama Sheila itupun menoleh, kelihatan banget kelelahan terpampar dari mukanya. Tak juga ada senyuman di bibirnya, benar-benar gadis ketus, senyum saja mahal, pikirku.

"Iya, .... ada apa?" Jawab gadis yang bernama Sheila

"Kamu pulangnya bareng aku saja ya, aku antar kamu sampe depan kost. Ini sudah malam, lagipula kita satu jalur."

"Baiklah, kamu baik banget sih," jawab gadis itu.

Akupun bergegas membayar kopiku, dan dengan langkah cepat menuju mobilku. Kuikuti kedua gadis yang berboncengan tersebut. Semoga rasa penasaranku mendapatkan jawabannya.




bersambung saja ya ....... 😀😀




#ODOPbatch7
#Day47




Kamis, 24 Oktober 2019

Jomblo

by: Lilis Indrawati




Aku kirim bahasa malam lewat goresan pena
Guratan senyummu melambai tepat ke arahku
Hatiku meringis ditemani kepedihan
Tak jua kutemukan tulang rusukku

Malam semakin angkuh
Tiupan angin  membuatnya bertambah pongah
Kurasakan sindiran halus dari sang pemilik malam
Jiwaku semakin meronta tanpa permisi

Kesendirian ini membuatku terasing
Dari hiruk pikuknya dunia
Ingin relung hatiku merasakan desiran
Entah kapan, akan menyapaku

Kubentangkan tanganku lebar
Berharap menyambut hadirmu
Dengan segenap keinginan yang terpendam
Kemanakah harus berlabu?

Rindu yang pernah ada
Kurawat sepenuh jiwa
Tak ingin lenyap dari hati yang kerontang
Masih tetap berharap dan menunggu hadirmu





#ODOPbatch7
#Day46



Rabu, 23 Oktober 2019

Jodoh Kedua Yang Tak diinginkan

by: Lilis Indrawati



   Mas Nadim, meneleponku dengan sangat tergopoh-gopoh dari seberang pulau sana, dari jarak ratusan kilometer, yang harus di tempuh dengan perjalanan darat berjam-jam lamanya. Tidak biasanya suamiku menelepon dengan suara berat dan parau seperti ini. Aku sangat mengenalnya, luar dalam, begitu juga dengan caranya menelponku kali ini, pasti ada hal besar dan penting yang harus segera disampaikan kepadaku, istrinya yang sudah dinikahinya 15 tahun lamanya, dan memberinya 5 orang anak. Akupun jadi ikutan panik dan tidak tenang, dengan pelan ku jawab teleponnya.

   "Wa'alaikumsalam, iya mas, ada apa? Tidak biasanya mas menelepon dengan berat begini?" balasku masih dengan suara sengaja pelan, untuk menenangkan suamiku juga.

   "Maafkan mas ya dek, sama sekali bukan keinginan mas ini, kamu harus percaya padaku," jawabnya disertai suara parau seperti menahan tangis.

     Ya Allah ... apa yang terjadi ini, sampai suamiku tidak kuasa menahan emosinya? Ada kejadian apa ini, tanyaku dalam hati. Sudah sejak 3 hari yang lalu suamiku ada urusan yang berhubungan dengan pekerjaannya di beberapa tempat di pulau seberang. Karena harus singgah di beberapa kota yang tidak memungkinkan ditempuh dengan perjalanan  udara, di putuskan untuk menyetir mobil sendiri. Yang kutahu ketika berangkat suamiku ditemani salah seorang koleganya. aku selalu berpesan untuk berhati-hati dalam perjalanan, beristirahatlah jika mengantuk. Dan persis ketika aku menerima teleponnya tadi, ini hari ketiga perjalanannya.

     "Tolong tenang dan bicara runut serta jelas mas, aku siap mendengarkan, ada apa? Mas sehat-sehat saja kan?' Anganku pun melayang tentang beberapa kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Semakin gusar aku di buatnya.

      "Alhamdulillah mas sehat dek, tapi ........... " suaranya tercekat.

      "Tapi apa mas?" balasku dengan pikiran dipenuhi pertanyaan yang tidak karuan.

      "Lima jam yang lalu, aku menyetir mobil dengan sedikit mengantuk, pikirku sebentar lagi sampai di pelabuhan dan aku bisa istirahat tidur di fery. Tapi malang tak bisa di tolak, ada seorang bapak-bapak bersepeda ontel dengan rumput diboncengannya terserempet mobilku, dan bapak itu terjatuh ke kubangan parit yang lumayan dalam. Bapak itu akhirnya meninggal beberapa jam setelah  tiba di Rumah Sakit.Jadi bisa dikatakan meninggalnya bukan karena terserempet olehku, tapi karena kubangan itu." Jawab suamiku pelan, kelihatannya dia sudah sedikit tenang.

  "Innalillahiwa'innailaihi roji'uun. Semoga husnul khotimah, dan keluarganya dilimpahkan kesabaran. Lanjutkan mas ceritanya, terus harus bagaimana kita?" jawabku yang mengisyaratkan bahwa kami harus menemui keluarga korban dan bicara dari hati ke hati. Bahwa semua sudah menjadi ketentuan Allah.

    "Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bapak itu memohon satu hal kepadaku, agar mau menikahi putri satu-satunya, karena dia merasa tidak akan bertahan hidup, sedangkan hanya dialah yang dimiliki oleh putrinya." Sampai pada permintaan ini suara suamiku kembali berat, tapi disini di gagang telepon yang masih menempel di telinga, hatiku yang berat, berat mendengarnya juga berat mengikhlaskan.

     "Ya Allah mas, apa tidak ada jalan lain? Kenapa juga harus menikahi putrinya?" Cerocosku sambil menangis, tamgisan yang aku sendiri tak tahu ke arah mana maksud dan tujuannya. Jelas ada ketidak relaan jika aku harus berbagi suami, siapapun dia dan faktor apapun. Tidak rela. Titik.

     "Ini jalan damai yang terbaik buat kita dek!" Mak jleb, kita? Kamu dan putri bapak itu kali mas, bukan terbaik buat aku. Aku sudah membayangkan putrinya itu pastilah cantik dan jelas masih muda, baru lulus dari pesantren pula, ku perkirakan usianya kisaran 20 tahunan. 

      "Kita? Apa maksudnya kita?" jawabku berubah ketus.

    "Aku telepon ini berniat mengabari, pernikahan akan dilangsungkan tidak kurang dari 1 jam kedapan, saat ini penghulu, saksi saksi dan lainnya sudah dikumpulkan, tinggal ijab kabul, cerita lengkapnya nanti setelah tiba di rumah." Jawab suamiku terburu buru dan segera menutup telepon, tanpa menunggu apa aku ini setuju ataukah tidak.



*********

     Jauh, nun jauh diseberang sana, dilangsungkanlah akah nikah antara Nadim suamiku dan Rohayah putri dari bapak yang diserempet suamiku, Kabarnya tidak ada baju pengantin maupun pelaminan. Yang ada hanya baju sehari hari yang dikenakan mereka berdua, wali nikah si bapak yang sedang sakaratul maut, ada penghulu dan beberapa saksi dari kampung bapak itu, dengan mas kawin uang tunai 1 juta rupiah. Sederhana.

     Dan akhirnya pernikahan itu pun syah menurut agama, tapi belum syah menurut hukum negara ini. Perlu beberapa dokumen sebagai syarat kelengkapan, dan itu butuh waktu beberapa hari ke depan. Mereka menamakan ini pernikahan darurat yang syah karena permintaan terakhir bapak itu melihat putrinya menikah dengan orang yang dia pilih, menurut penilaian bapak itu, anaknya akan dibahagiakan hidupnya dunia akherat. Hanya dengan modal yakin pada mas Nadim, bapak itu menyerahkan putrinya, di saat terakhir hembusan nafasnya. Resmilah sepasang suami istri tersebut, Nadim dan Rohayah.

Tibalah saatnya pemakaman, dan sebagai menantu baru satu-satunya, mas Nadim memimpin ketika si bapak malang ini dimandikan, menjadi imam sholat jenazah dan menjadi orang di barisan depan di pemakaman. Rohayah menangis dan menangis, dan suami yang baru dinikahi yang juga baru dikenalnya mendekap serta memeluknya, memberikan perlindungan batin, mendamaikan gejolak hatinya ditinggalkan orang tua satu-satunya itu.


***********

    Namun di sini, di rumah ini, hatiku dibakar api cemburu, ketidak relaan suamiku menikah lagi sangat jelas mengobrak abrik emosiku. Apa kekuranganku, apa dosaku, hingga ini harus terjadi padaku. bagaimana aku meyampaikan kabar ini pada keluarga besarku, pada ibuku, pada keluarga besar suamiku, pada ibunya yang sudah renta? Bagaimana aku harus bersikap pada tetanggaku, teman-temanku, ternyata suami yang selama ini aku banggakan justru membagi cinta dan hatinya pada perempuan lain yang usianya jauuuhhh dariku apalagi suamiku. 

    Bagimana dengan rekan-rekan kerja suamiku, pasti dalam hatinya mengolok-olok diriku sebagi istri yang tidak bisa menjaga suaminya, hingga menjadikan perempuan lain untuk dijadikan istri keduanya. Istri yang cantik, muda dan masih usia produktif, lulusan pesantren yang tentunya pandai mengaji. Malu yang tak mungkin bisa aku sembunyikan, walau di balik topeng sekalipun.

    Jam berganti jam dan aku tertidur dengan tangisan sembab yang terbawa sampai mimpi, hingga menjelang pagi ada suara bel berbunyi pertanda ada orang di depan pagar rumahku, Dengan sangat enggan karena suasan hati yang begitu tidak karuan, aku bangkit, berjalan pelan meraih kunci, dan tertatih ke halaman membuka pagar. Ternyata suamiku dan istri barunya yang langsung diboyongnya ke kota kami. Entah apa rencana selanjutnya, aku malas bertanya, batinku masih berperang melawan ketidakadilan ini. 

  Suamiku langsung masuk dengan memperkenalkan istri keduanya padaku, Jauh di luar bayangkanku, istri yang dikenalkannya ini berjilbab panjang tanpa make up, hitam dan dekil, Bukan tipe mas Nadim, jelas sekali bukan tipe suamiku, lha iya dari ceritanya kan ini pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkan, tapi kecelakaan itu yang membuat suamiku dengan terpaksa harus menikahinya.

     "Maafkan mas ya dek, mas salah, tapi sungguh kamu harus percaya padaku." ucapnya sambil memelukku kemudian mencium kakiku. Entah mengapa emosi yang menguasaiku hari-hari kemarin sedikit menjauh dari ragaku.

     "Rohayah .... kenalkan ini istriku, sambungnya pada istri barunya." Rohayah langsung mencium tanganku disertai permintaan maaf, serta menjelaskan bahwa dirinya tidak mempunya siapapun selain mas Nadim dan keluarganya yang segera menjadi keluarganya juga.

     Rohayah kupersilahkan untuk beristirahat sejenak di kamar tamu yang kemungkinan menjadi kamarnya juga sementara ini, nunggu kelanjutan pembicaraan aku dan mas Nadim. Sementara Rohayah si maduku beristirahat, akau manfaatkan waktu untuk menanyakan lebih dalam dan lengkap asal muasal peristiwa ini.

     Usut punya usut ternyata Rohayah ini piatu sejak lahir, ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya. Dan dia mempunya penyakit asma bawaan sejak lahir. Sejak usia 5 tahun bapaknya memasukkannya di sebuah pesantren tidak jauh dari rumahnya, hinggah saat ini dia bisa menghapal Al-Quran, ya Rohayah adalah seorang hafizah. Waktu usia 18 tahun ia menjalani operasi pengangkatan tumor di rahimnya hingga dokter memberikan kabar bahwa sulit baginya untuk bisa mempunyai anak dari rahimnya.

     Dari cerita suamiku juga aku tahu bahwa si bapak almarhum sempat menanyakan apakah suamiku sudah mempunyai istri dan juga anak? Yang langsung dijawab bahwa mas Nadim mempunya satu istri dengan dikaruniai 5 orang anak. Mendengar jawaban mas Nadim, bapak ini ikhlas menyerahkan putri tunggalnya pada sumiku dengan harapan bisa dijaga dan di bahagiakan dunia akherat, walau dengan keterbatasan yang putrinya miliki.

     Aku baru tahu dan menyadari semua ini, kami merasa menjadi orang pilihan yang langsung di tunjuk Allah untuk mengemban amanah ini. Sesakit apapun aku berbagi suami dengan Rohayah, toh itu jalan takdir yang harus kami lalui, bukan hasil dari main mata, main hati apalagi niatan untuk berpindah ke lain hati perempuan lain. Penampilan dan kepolosan Rohayah menjawab sejuta pertanyaanku. Suamiku bagiku tetaplah seorang suami yang bertanggung jawab dan sangat mencintaiku, serta menyayangi keluarganya. Perasaan berdosa menyelimuti hatiku.

     Akulah yang akan mengabarkan kejadian ini pada keluarga besarku dan keluarga besar suamiku, ikhlas aku menjalaninya, semoga dengan keikhlasanku ini menjadikan jalanku menuju pintu syurga terbuka lebar. Yang tadinya aku membingungkan gunjingan tetanggaku, teman-temanku, semua akan kuhadapi dengan senyuman termanis yng  aku persiapkan dari sekarang.

     Yang menjalani rumah tangga ini aku, suamiku, dan Rohayah ...  maduku, bukan orang lain. Hanya Allah tujuanku. Dan aku pulalah yang mengusulkan agar kita tinggal serumah. Lebih gampang bagiku dan suamiku mengontrol anak-anak, apalagi sekarang ada Rohayah yang bisa di ajak sebagai mitra dalam mendidik putra putri kami yang masih kecil-kecil. Tak perlulah  kami mencari guru ngaji dari luar, toh di dalam rumah kami ada seorang hafizah yang bisa mengajari anak-anak mengaji dengan ilmunya, tak perlulah aku mencari pengasuh yang berganti-ganti karena tidak sabarnya dalam mendampingi putra putri kami,   toh mereka semua dalam pengasuhan ibu kandungnya dan ibu sambungnya yang nantinya juga akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Aku yakin itu. Karena kamilah keluarganya sekarang dan untuk masa yang akan datang.

Akan kuajari dia bagaimana caranya merawat diri, hingga secara fisik dia pantas berdiri di samping kami, akan kuperkenalkan dia dunia dapur, hingga di mahir membuat masakan yang disukai suami kami dan anak-anak kami, akan kuajarkan bagaimana mengelola keuangan jika aku dan mas Nadim harus keluar kota untuk suatu urusan. Akan kucarikan dokter terbaik agar kanker yang pernah di deritanya tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya, dan kuajak ke dokter kandungan langgananku, apakah ada kemungkinan dia bisa mempunyai anak dari mas Nadim melalui rahimnya sendiri. InsyaAllah, semoga Allah memudahkan semua rencana-rencanaku ini.

Dalam doa malamku, semoga lingkungan keluarga sakinah yang kami ciptakan ini bisa membuat asma bawaan Rohayah sembuh, dan dia terus diberi kesehatan hingga bisa bersama sama mendampingi suamiku dan putra-putri kami. Sungguh aku menganggapnya bukan sebagai saingan tapi aku menganggapnya sebagai adek kandungku.







#ODOPbatch7
#Day45
#Tantangan Pekan Ketujuh











Pelakor itu ...... (Part 3)

by: Lilis Indrawati



     Rini menyebut nama Dewi, dan aku mulai mengingatnya. Dia termasuk sahabat akrabnya. Menurut pandanganku Dewi ini orangnya juga tidak macam-macam, sopan dan tidak ada unsur-unsur genit. Apalagi dengan menyandang predikat janda, sepertinya Dewi ini sangat menjaga sikapanya. Heran juga aku jika sekarang dialah pelakor dan penyebab kehancuran mahligai rumah tangga Rini.

       Aku menunggu cerita selanjutnya dari Rini, masih dengan hati yang dipenuhi tanda tanya tentang bagaimana sahabat akrab bisa berubah jadi perusak rumah tangga orang.
Dan diapun melanjutkan ceritanya dengan nafas yang berat.

      "Awalnya aku dan Dewi ini sering jalan bareng, cerita-cerita, waktu itu hanya dia teman yang bisa aku ajak kesana kemari jalan-jalan sambil mengisi waktu ketika suamiku bekerja dan anakku sekolah. Kamu juga sibuk kan Lis, jadi aku gak berani ganggu waktumu."

    "Oooo, iya." aku juga ingat betul belakangan ini aku disibukkan dengan urusan organisasi dan urusan mengunjungi anak-anakku yang menimba ilmu di luar pulau.

     "Pelampiasan untuk curhat dan menumpahkan bahagianya kehidupan rumah tanggaku akhirnya kuceritakan juga padanya, dan dia suka-suka saja mendengarkan ceritaku." lanjutnya.

       "Dan ditengah-tengah cerita-cerita itu Dewi selalu bilang bahwa enak sekali aku ini, punya suami baik, bertanggungjawab dan sangat menyayangiku." Sering juga dia bilang yang kuanggap sebagai bahan candaan dia untuk menggodaku Lis, Dewi bilang bahwa suatu saat akan di godanya mas Firmanku hingga si Dewi ini juga pingin merasakan kasih sayangnya mas Firman."
Dan aku menantangnya,"Coba aja kalo bisa, gak bakalan mas Firman berpaling dariku. Dewi merasa tertantang Lis, dan inilah hasilnya. Dia merebut suamiku, merebut segalanya dariku, bahkan dia tidak mau jadi istri kedua, Dewi ingin jadi istri tunggal dan mas Firman mengabulkannya dengan keinginannya menceraikanku Lis. Sekarang aku harus bagaiaman?"

      Ya Tuhan, beginikah awal mulanya toh! Betul-betul aku juga tidak menyangka, bagaimana seorang Dewi bisa meruntuhkan kesetiaan dan tanggung jawab mas Firman dan ingin menceraikannya begitu saja? Di balik kejadian ini banyak hikmah yang bisa kita petik. Tidak seharusnya kita mengumbar cerita tentang rumah tangga kita, baik itu cerita positif maupun cerita negatif. Apalagi menceritakan tentang kebaikan pasangan kita yang over story, sangat tidak dianjurkan. Apapun, itu mahligai perkawinan sepasang suami istri yang layaknya hanya bisa dirasakan dan dinikmati berdua, bukan untuk di umbar, baik itu sosial media maupun sahabat karibpun.

     Kalo kita menemukan teman berbagi yang tidak punya iri dengi maupun niatan busuk, itu lebih baik, tapi yang namanya manusia itu jelas bukan malaikat. Manusia punya nafsu duniawi yang jika tidak pandai mengendalikan, akan menjadi nafsu syetan. Seperti yang dialami Dewi pada rumah tangga Rini temannya yang juga temanku.

     "Nasi sudah menjadi bubur Rin, hanya kepasrahanlah yang bisa membuat kamu tenang dan bisa menerima segala ketentuanNya. Kita tidak tahu apa rencana Allah pada dirimu dan pada rumah tanggamu ke depannya. Teruslah berdo'a dan berdo'a. Itulah ucapan yang bisa aku sampaikan padanya.

Semua istri tentunya ingin melindungi rumah tangganya dari gangguan-gangguan yang tak diinginkan, tak terkecuali diriku. Dari itu mari kita sangat berhati-hati dalam segala ucapan dan tindakan. Berkeluh kesahlah pada Yang Mengatur Kehidupan di sepertiga malam, dan selalu bersyukurlah hanya pada Allah atas segala kebaikan yang sudah diberikanNya pada kita dan kehidupan perkawinan kita.

t a m a t




#ODOPbatch7
#Day 44








DILARANG MISKIN

Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM Tebal Buku 230 halaman Miskin kok di larang? Sebagaimana sebuah produk, apa...