Senin, 07 Oktober 2019

Sakitnya Tuh Di sini

by: Lilis Indrawati



Sakitnya tidak bisa dituliskan dengan rangkaian kata-kata, setidaknya itu yang kurasakan. Hanya bisa dirasakan dalam gemuruh di dada ini. Rasa sakit ini melebihi apapun, kepahitan hidup gagal dalam asmara yang menyadarkanku tentang arti cinta yang sesungguhnya. Rasa cintanya yang dikalahkan oleh keinginan berbakti kepada orang tuanya. Benarkah? ataukah hanya sensasi dalam mencari alasan?

Jalinan asmaraku dengannya berjalan kurang lebih 6 bulan yang lalu. Dari perhatian, tatapan matanya, menunjukkan bahwa hanya ada aku di hatinya. Tak berbeda jauh dengan diriku, kuberikan hatiku juga untuk dirinya. Namun, mengapa tiba-tiba dia berubah pikiran secepat ini? Meninggalkan hatiku dengan luka yang entah sampai kapan bisa terobati.

"Maafkanlah aku, kita tidak bisa meneruskan hubungan ini, walau di hatiku sangat mencintaimu, dan hanya ada namamu yang ada disana, di dalam hatiku." Kau katakan itu sambil memegang jemariku.

Kurasakan dunia ini berputar, "Tapi kenapa?' hanya kata itu yang sanggup keluar di bibirku.

"Tidak ada alasan yang serius, jika kita memang berjodoh, suatu saat nanti kita pasti akan kembali bersama meneruskan jalinan yang saat ini terputus." Itu katamu.

Entah ..... kamu yang pinter bersandiwara kepadakau, ataukah memang itulah yang terjadi pada hatimu, hati yang mengabaikan perasaan lawan di depannya. Justru berbanding terbalik dengan diriku. Keputusan sepihak ini jelas-jelas merontokkan sendi-sendiku, membuat aku lemas tak berdaya. Dan belum sempat aku sadari, kamu sudah tidak ada di sampingku, meninggalkanku sendirian untuk menyembuhkan luka yang sudah kau sayatkan di hati ini.

Dan, hari ini ketika luka sayatan itu belum sembuh benar, kau berikan luka lagi yang lebih dalam di tempat yang sama. Hanya berselang 3 bulan dari hari kau memutuskan hubunganmu denganku. Begitu mudahnya kau berpindah ke lain hati, menambatkan cintamu pada pelabuhan yang lain. Kau anggap hatiku ini apa? Tidakkah kau membayangkan jika adikmu diperlakukan seperti kamu memperlakukan diriku?

Namun, aku tidak bisa menuntut lebih padamu atas perlakuan tidak adil ini. Sakit hati tetaplah menjadi sakit hati yang belum menemukan obatnya, dan membayangkan kamu duduk di pelaminan dengan gadis lain membuat hatiku bertambah sakit.  Dalam do'a aku memohon di berikan pengganti yang lebih baik dari dirimu.

Dan ..... aku lebih kaget lagi begitu membaca lebih lanjut undangan pernikahanmu. Nama yang tertulis di sana, selain namamu ada nama lain yang sangat aku kenal. Teman satu sekolah, satu kampung dan teman bermainku. Dia juga tahu bahwa kamu adalah lelaki yang selama 6 bulan mengisi hatiku. Menangisi kenyataan ini tidaklah menguntungkan buatku. Namun terus terang aku tidak kuat, saat ini aku tidak sanggup menahan kenyataan pahit ini.

Kau meninggalkanku untuk menikahi sahabatku sendiri. Luka hati yang belum kering, sekarang bertambah dalam lagi goresan lukanya. Entah dengan apa aku bisa mengembalikan hati yang terlanjur menganga karena sayatan perlakuanmu. Yang jelas aku butuh waktu dan butuh kepercayaan diri untuk bisa berdiri tegar seperti semula.





#ODOPbatch7
#Day29




Minggu, 06 Oktober 2019

Joko Tarub Beda Zaman (Tantangan Pekan Ke 4)

by: Lilis Indrawati



Di sebuah desa yang terletak tidak jauh dari keramaian, tinggallah seorang pemuda bernama Joko Tarub. Di samping sebagai penulis di beberapa media, ia sangat gemar main ke tempat refreshing yang tidak jauh dari desanya. Setiap pergi ke tempat itu ia tidak lupa membawa jaket  dan laptop kesayangannya. Joko Tarub biarpun pemuda desa tapi ia kelihatan gagah dan tampan. Mungkin ia rajin ke salon satu-satunya yang ada di desanya.

Setiap pulang dari tempat refreshing, selalu ada saja cerita yang dibawanya pulang, tapi entah apa sebabnya, hari ini ia tidak mendapatkan cerita yang menarik. Jaket dan laptop yang dibawanya, tidak bisa mendukung dalam usahanya  mendapatkan ide untuk bahan tulisannya . Dalam perjalanannya iapun merasakan rasa lelah dan gerah yang amat sangat. Jaka Tarub terus berjalan menyusuri jalanan desa, dari kejauhan ia melihat ada sebuah tempat pemandian yang lumayan sepi dan tenang.

Sebelumnya ia berpikir akan melepas lelah di bawah pohon yang rindang, tapi bayangan segarnya menikmati mandi di pemandian yang bening menguatkan niatnya untuk segera bisa mencapai tempat tersebut. Ia pun mengurungkan niat untuk leyeh-leyeh di bawah sejuknya pohon rindang, dan bergegas menuju pemandian tersebut.

"Ah, sedikit lagi sampai." teriaknya kegirangan.

Jaka Tarub mempercepat langkah kakinya menuju pemandian  tersebut. Belum sempat ia mencapai tempat tersebut, tiba-tiba ia mendengar suara menderu dari kejauhan, iapun memperlambat langkahnya. Dari kejauhan nampak rombongan mobil-mobil mewah yang selama ini belum pernah dilihatnya. Untuk sementara ia tertegun, "ada apa gerangan ini?" ucapnya lirih.

"Bidadari!" bisiknya sambil matanya tak berkedip menyaksikan pemandangan langkah yang ada di hadapannya. Aneh, mobil-mobil mewah yang menderu-deru itu semakin lama semakin mendekat ke arah pemandian. Joko Tarub pun berpikir bahwa makhluk-makhluk cantik laksana bidadari yang turun dari mobil mewah tersebut adalah gadis-gadis yang turun dari kota. Dengan sembunyi-sembunyi iapun mengintip dari balik pepohonan besar.
Dugaan Joko Tarubpun benar adanya, mereka adalah para bidadari-badadari yang sangat cantik nan rupawan. Di desanya belum pernah ia jumpai gadis yang jelita seperti itu. Mereka semua berjumlah 7 orang. Dengan riang gembira setelah turun dari mobilnya masing-masing, para bidadari kota itupun berlarian  menuju ke arah pemandian. Dengan santainya mereka menuruni tangga pemandian tersebut, menenggelamkan tubuhnya dalam segarnya air yang sejuknya masih alami, dalam balutan baju renang.
   
Betapa gembiranya mereka, mencebur, berenang, menyelam dan bersembur-semburan air. Kemudian bermain kejar-kejaran sambil tertawa. Sekejappun Joko Tarub tidak mau kehilangan pemandangan yang indah itu. Ia terpesona melihat kecantikan makhluk-makhluk kota itu. Timbul niatnya untuk menjadikan salah satu dari mereka, sebagai pendamping hidupnya.

Timbullah akalnya. Perlahan-lahan ia pun merangkak mendekati tempat di mana para bidadari kota itu meletakkan kunci mobilnya. Dengan pelan dan sangat hati hati, ia mengambil salah satu handuk dan kunci yang ada di sana. Ia tidak memilih, asal ambil saja, semua bidadari kota itu cantik-cantik, pikirnya. Lalu ia pun menyembunyikan handuk di semak-semak dan kunci mobil ia sembuyikan di kantong bajunya. Dan ketika ia melangkah kembali, tanpa sengaja kakinya menginjak ranting kering, hingga menyebabkan suara yang berisik. Membuat bidadari-bidadari tersebut terkejut.

"Sepertinya kok ada yang mencurigakan ya teman-teman!" teriak salah seorang dari mereka.

"Jangan-jangan ada yang melihat kita di sini!" jawab yang lain.

Makhluk kota itu ketakutan lalu bergegas menyambar handuk yang ada di dekat mereka, tak lupa juga mengambil kunci mobil masing-masing. Dan tancap gas meninggalkan pemandian tersebut. Namun kasihan! Ada seorang bidadari yang mondar mandir dengan raut muka yang hampir menangis, karena tidak menemukan handuknya. Dengan terisak-isak ia pun meminta tolong sama Joko Tarub, satu-satunya orang yang ada di pemandian tersebut.

"Tolonglah aku, wahai pemuda, hanya engakulah orang yang aku jumpai di pemandian ini." Sambil ia berjalan mencari kunci mobilnya. Namun ia juga tidak menemukan yang di carinya. Meledaklah tangisnya.

Mengapa jadinya seperti ini? Apa salahku?"

Kembali ia mendekati pemuda itu, yang tak lain adalah Joko Tarub.

"Tolonglah wahai pemuda, kasihanilah diriku."

Kembali Joko Tarub bimbang, melihat tangisnya, ia merasa kasihan, tapi menatap wajah rupawan yang jarang ia jumpai di desanya, hatinya tegar, untuk menjadikan dia pendamping hidupnya. Dengan memberanikan diri ia memberi jawaban dengan pertanyaan.

"Jika aku bisa menolongmu, apakah imbalan yang akan kau berikan padaku?"

Sang bidadari kota terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menjawab.

"Saat ini aku tidak mempunyai apapun wahai pemuda, jika kamu setuju, aku bersedia menjadi istrimu."

Mak seerrr,  jantung Joko Tarub berdegup dan bergemuruh terlepas dari borgolnya. Tidak di nyana tidak disangka gayungnya bersambut, cintanya yang belum tersampaikan dengan kata dari bibirnya, akhirnya terjawab. Entah bidadadi kota itu mencintainya atau tidak, itu urusan belakangan. Cinta bisa dipelajari, begitu keyakinannya.

"Benarkah?"  spontan Joko Tarub bertanya.

"Benar, wahai pemuda, aku berjanji."

"Baiklah....aku juga bersedia membagi hidupku untuk berdampingan dengan dirimu sebagi pasangan suami istri."

Lalu di bawalah si bidadari kota itu ke rumah sederhana di desanya. Ia menikahi gadis kota itu dengan di saksikan oleh beberapa tetangganya. Semua penduduk desa mengagumi kecantikan istri Joko Tarub, yang diketahui bernama Nawang Wulan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan ...... Joko Tarub dan Nawang Wulan akhirnya saling jatuh cinta. Joko tarub  menyampaikan secara terus terang bahwa dialah yang menyembunyikan mobil dan kuncinya. Ia sembunyikan di suatu tempat yang aman dan rahasia. Nawang Wulan pun sebenarnya sudah menduga bahwa Joko Tarublah yang menyembunyikan mobil dan kuncinya. Tetapi ia menyadari bahwa semua itu terjadi karena kehendak Yang Kuasa, maka ia menuruti saja kemauan sang suami yang sekarang sangat di cintainya itu, Namun Joko Tarub berjanji, jika nanti lahir anak pertama , ia akan mengembalikan kunci dan mobil sang bidadari kota.

Hari yang menentukan itupun tibalah. Seorang bayi laki-laki lahir dari rahim Nawang Wulan. Pasangan suami istri Joko Tarub dan Nawang Wulan  sangat berbahagia. Nawang Wulan pun lantas menagih janji. Ia harus pulang ke rumah orang tuanya untuk mengabari apa yang selama  ini menimpanya. Tetapi Joko Tarub selalu mengulur-ngulur waktu. Ia tak mau mengembalikan kunci dan mobilnya sebelelum putra mereka masuk usia sekolah. Sekali lagi Nawang Wulan menyerah dan pasrah atas keinginan suaminya, ditambah ia begitu menyayangi putra semata wayangnya. Rupa rupanya itulah takdir yang harus dijalaninya.

Makin hari ikatan cinta suami istri itupun semakin dalam. Namun Joko tarub selalu merasa was-was. Ia curiga, kalau kalau istrinya secara sengaja maupun tidak sengaja bisa menemukan kunci dan mobilnya.

"Mas!" kata Nawang Wulan pada suatu hari. "Tolong jaga dapur sebentar ya. Aku ke minimarket yang tidak jauh dari sini untuk membeli sesuatu. jangan sekali kali membuka tudung saji yang ada di atas meja makan ya mas?"

"Baiklah, sayangku!" jawab Joko Tarub. Sambil bekerja dari laptopnya di ruangan kerja yang ada di rumahnya. Sambil bekerja sesekali ia memeriksa dapur, jangan jangan ada binatang semacam kucing atau tikus yang kelaparan dan mengacak-ngacak dapur istrinya. Tiba-tiba ia berpikir, mengapa istrinya melarang membuka tudung saji yang ada di atas meja makan tersebut. Pertanyaan itu mengingatkan Joko Tarub akan kejanggalan yang terjadi di rumahnya. Sejak pernikahannya dengan gadis cantik bidadari kota itu, Joko Tarub tidak pernah merasakan uang tabungan yang ia berikan kepada istrinya berkurang saldonya.

"Ada cerita dan rahasia apa di balik tudung saji itu?" pikirnya. "Pasti Nawang Wulan menyimpan rahasia yang selama ini ia tidak mengetahuinya."

Laki-laki tampan yang penasaran banget itu pun membuka tudung saji yang ada di atas meja makan. Aneh, tidak ada masakan apapun di balik tutup tudung saji itu. hanya ada selembar kertas orderan go food. Ia sangat penasaran dari mana Nawang Wulan mendapatkan uang untuk membeli makanan lewat go food. Hampir 2 tahun usia pernikahannya kini. Sedangkan uang yang selama ini ia transfer langsung ke rekening istrinya itu sepertinya saldonya tidak pernah berkurang. Berbagai macam pertanyaan ia simpan rapi di dalam benaknya.

Diam diam ia selidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Nawang Wulan. Ternyata eh ternyata, istrinya itu hampir tiap minggu ke atm yang ada di minimarket tidak jauh dari rumahnya untuk mengambil uang. Lantas uang dari mana itu, padahal transferan yang selama ini masuk ke rekeningnya tidak pernah berkuarang. Akhirnya untuk menemukan jawaban dari rasa penasaran itu, ia tanyakan langsung pada istrinya.

"Sayangku!' Ada yang mas ingin tanyakan padamu, nggak keberatan kan?"

"Enggak lah mas, sama sekali aku tidak keberatan atas pertanyaan yang akan kamu ajukan padaku, silahkan"

"Begini, sayangku kan sepertinya tidak pernah memasak, semenjak kita menikah, dan selalu memesan makanan melalui go food. Tapi mas lihat, saldo di rekeningmu kok masih utuh alias tidak berkurang? Lantas dari mana kamu mendapatkan uang untuk membayar semua makanan itu, sayangku?"

Dengan menghela nafas berat, Nawang Wulan berterus terang bahwa selama ini setiap minggu sekali ia pergi ke atm untuk menarik uang tunai yang dikirimi oleh kakaknya yang berada di luar negeri. Ia merasa, lebih baik uang yang diberikan oleh suaminya itu di tabung saja untuk keperluan anak mereka. Jika sudah memasuki usia sekolah, di mana sesuai janji Joko Tarub bahwa ia akan menyerahkan kunci dan mobilnya, itu berarti dirinya tidak ada lagi di samping suami dan anaknya. Pasti suaminya akan membutuhkan biaya besar untuk keperluan anak mereka. bagaimapaun Nawang Wulan sangat menyayangi putranya.

"Biar kamu fokus pada tumbuh kembang anak kita mas, jika aku nanti tidak ada di samping kalian, sesuai janjimu,bahwa jika anak kita sudah usia sekolah, mas akan mengembalikan kunci dan mobilku. Yang artinya aku akan kembali kepada ayah dan ibuku di kota.

Joko Tarub lantas berpikir, jika anaknya sudah masuk usia sekolah, itu berarti istrinya sudah memikirkan matang-matang tentang segala sesuatunya, termasuk biaya anak mereka. Dan Joko Tarub tidak menghendaki istrinya meninggalkan mereka. Maka ia ingin uang trasferan ke rekening istrinya itu digunakan biar berkurang, harapannya jika berkurang, istrinya akan berpikir ulang untuk kembali ke orang tuanya.

"Sebaiknya keluarga kita tidak menggantungkan hidup pada kakakmu, sayang!" Maka gunakanlah uang belanja yang tiap bulan aku transfer ke rekeningmu, sebagai suami aku harus menjaga harga diriku terhadap kakakmu, aku bertanggung jawab aatas kelangsungan hidup keluarga kita"

"Baiklah mas, jika itu atas kebaikan kita bersama, akan aku lakukan"

Semenjak kejadian itu, setiap minggu Nawang Wulan selalu pergi ke bank untuk mengambil uang yang sudah rutin di transfer suaminya. Lama kelamaan saldonya pun berkurang, dan semakin menipis.
Justru di sanalah letak keberuntungan Nawang Wulan. Di tengah ia kebingungan karena saldo tabungannya lama-lama habis, sedang untuk meminta kepada suaminya ia merasa tidak sampai hati. maka pihak bank memberitahukan secara tidak sengaja bahwa ada mobil yang di titipkan di bank oleh suaminya. Dengan terkejut dan diliputi kegembiraan, akhirnya ia menemukan kembali kunci dan mobilnya yang selama ini menjadi harapan terakhirnya utuk kembali kepada orang tuanya, kembali ke kehidupannya yang dulu ia tinggalkan karena bertemu Joko Tarub.

Maka terjadilah peristiwa yang menyedihkan itu. Pada suatu waktu Joko Tarub dan anaknya mendapatkan Nawang wulan berdiri di halaman rumah, lengkap dengan mobil yang dulu ia titipkan di bank supaya aman.

"Suamiku dan anakku yang tercinta," kata bidadari kota itu. "terimalah kenyataan ini! Aku harus kembali kepada orang tuaku di kota. Rawatlah anak kita dengan sebaik-baiknya!"

Joko Tarub berusaha mencegah kepergian Nawang Wulan. Tetapi istrinya sudah bertekad untuk kembali kepada orang tuanya, sehingga dalam hitungan menit istrinya itu sudah menghilang meninggalkan desanya dengan mobil impiannya. Tinggal Joko Tarub yang mencucurkan air mata dan anak semata wayangnya itu yang menangis sepanjang hari.
Dalam doanya ia meminta supaya istrinya itu mau kembali ke kehidupannya yang sekarang untuk bahagia bersamanya.



Ini adalah cerita legenda, dan untuk memenuhi tantangan ODOPbatch7, endingnya sudah diubah,  dimodifikasi serta diimprovisasi oleh penulis menjadi cerita zaman sekarang.




#ODOPbatch7
#Day28
#Tantangan Pekan 4
#Improvisasi Cerita Legenda











Sabtu, 05 Oktober 2019

Sekolah Sabar

by: Lilis Indrawati



Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kamampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya. (Wikipedia)

Dalam kehidupan dan dalam aktifitas sehari-hari, kita tentunya tidak bisa terhindar dengan yang namanya masalah. Masalah bisa dihadapi dengan beberapa solusi, diantaranya bisa dengan berserah diri, mengabaikan masalah itu sendiri, evaluasi diri, dan sabar. Masalah itu sendiri sangatlah kompleks. Tentu di sini saya tidak akan berbagi tentang masalah, apalagi yang kompleks. Saya akan berbagi bagaimana kita harus sabar dalam menghadapi polah tingkah anak-anak kita, terutama anak usia  1 tahun - 12 tahun.

Semua berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ibu dari 4 orang anak yang jarak umurnya masing-masing hanya 2 tahun. Jangan dibayangkan bagaimana ribetnya saja ya, tapi bayangkanlah nikmatnya mengasuh mereka, mengikuti tumbuh kembangnya. Semua itu menjadi hiburan tersendiri bagi seorang ibu. Apakah dalam mendampingi proses mereka, mulus-mulus wae? Oh, tentu tidak. Di samping kelucuannya yang menghibur, tentunya ada juga kenakalan positif (saya menyebutnya kenakalan positif saja ya, karena saya meyakini bahwa ucapan adalah do'a). Nah jenis kenakalan positf inilah yang membutuhkan kesabaran kita sebagai ibunya.

Di mana sekolah sabar itu berada? Seandainya ada, mungkin saya akan mencarinya dan mendaftar untuk menjadi murid di sana, Namun sayangnya, sekolah sabar itu tidak kita temui di sekolah formal manapun. Lantas, dimana kita bisa mengikuti sekolah sabar itu? Di sini, di dalam kehidupan itu sendiri. Bergurunya langsung pada masalah yang kita hadapi,

Sebagai pribadi, saya banyak belajar tentang ilmu sabar langsung pada anak saya. Dulunya saya bukan tipe orang yang sabar. Ehemm......berarti sekarang saya sudah menjadi orang yang sabar dong! Jawabnya tergantung. Tergantung dimana masalahnya. Tentunya sebagai muslimah dan sebagai seorang ibu yang juga seorang istri, tentunya saya harus punya resolusi. Resolusi saya, kadar sabar harus bertambah setiap harinya. Hari ini harus lebih sabar dari kemarin, dan besok harus lebih sabar lagi dari hari ini.

Lanjut, membahas ilmu sabar yang saya dapat dari anak saya, ketika kenakalan atau masalah yang berhubungan dengan anak itu datang menghampiri;

Langkah Pertama, yang harus dilakukan adalah kesampingkan yang namanya emosi. Pisahkan emosi dan logika. Lebih baik jika kita duduk dahulu, ambil nafas dan hembuskan perlahan, intinya diam sejenak. Benar saja, perlahan-lahan kita akan bisa menata isi kepala, mengatur hati dan emosi. Si emosi yang megambil akal sehat akan menyingkir dengan sendirinya. Diam sejenak juga untuk menghindari kita mengeluarkan kata-kata di luar kesadaran kita. Seperti yang saya katakan di atas, ucapan itu bisa jadi do'a. Bersyukur jika kata yang keluar dari mulut kita itu perkataan yang baik, namun jika yang keluar itu perkataan yang buruk, bagaimana?

Langkah Kedua, lanjut, dekati anak, rangkul tubuhnya yang mungil, kalo perlu ciumlah. Tenangkan dulu dia seperti menenangkan diri kita sendiri. Jika sudah kelihatan tenang, ajak bicara dari hati kehati, apapun anak pasti mau bercerita. Libatkan dia dalam mencari jalan keluar terbaik, buat komitmen dengannya, tentunya ada punishment jika komitmen di langgar. Inget, komitmennya harus yang mendidik. Jangan sampai ada hukuman yang bersifat fisik, seminimal mungkin hindari. Kenapa?? Percaya atau tidak, menyesalnya itu tidak akan pernah habis, jadi jangan lakukan.

Ingat ya ibu, anak itu tidak selamanya akan jadi anak, dia akan tumbuh. menjadi remaja dan dewasa. Masa menjadi anak amatlah singkat. Jika remaja, cara menanganinya tentulah berbeda, tidak sama dengan cara menangani seperti mereka masih kecil. Jadi marilah kita gunakan waktu yang singkat itu untuk benar-benar menikmati proses mereka, Tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan menjadi ibu, dan tidak banyak ibu yang bisa mendampingi proses buah hatinya menuju dewasa. Kita, para ibu yang mendapatkan kesempatan itu adalah ibu-ibu pilihan. Maka bersyukurlah.

Suatu saat jika mereka remaja dan dewasa, yakinlah bahwa masa-masa itu akan sangat kita rindukan. Sayangnya waktu tidak bisa diperintah mundur untuk mengulang kembali. Kesempatan itu datangnya sekali, jangan sia-siakan dengan perlakuan yang membuat penyesalan tiada bertepi di kemudian hari. Kuncinya adalah sabar.





#ODOPbatch7
#Day27












Jumat, 04 Oktober 2019

Menikmati Hamil Kembar

by: Lilis Indrawati



Duluuu sekali, ketika masih gadis, belum punya kekasih, pernah punya keinginan suatu saat jika sudah menikah, pingin hamil kembar. Seiring berjalannya waktu, keinginan itupun terpendam oleh realita yang silih berganti mengisi lembaran demi lembaran hidupku. Dan akupun sendiri lupa jika pernah punya keingina itu.

Saat menemukan lelaki pendamping hidupku, aku mengalami cobaan hidup yang sangat luar biasa. empat bulan setelah menikah, aku masuk Rumah Sakit, menjalani operasi besar hingga saluran telurku di angkat salah satunya. Analisa secara medis, perempuan normal itu memiliki dua saluran telur untuk bisa hamil. Aku hanya memiliki satu saja. Kenyataan ini membawaku pada keikhlasan dan kepasrahan. Doa selalu ada di setiap desahan nafas kami berdua, aku dan suamiku.

Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan, tidak juga ada kabar gembira tentang hadirnya buah hati yang akan meramaikan hari-hari kami sebagai suami istri. Ikhtiar medis sudah kami lakukan, memohon pada Allah Yang Maha Memberi pun tidak pernah terlewatkan. Menunggu dan menunggu, rasanya ada yang kurang dalam kehidupan pernikahan ini.

Hingga test pack yang aku persiapkan setiap tanggal haidpun menunjukkan tanda dua garis merah. Puji syukur kepada Penguasa Kehidupan, akhirnya terkabullah penantian kami selama ini. Hari-hari kulalui dengan perasaan riang gembira, begitu juga suamiku. Sangat hati-hati kami menjaga kehamilan ini, sampai saat melahirkanpun tiba. Gadis cantik nan lucu hadir dalam kehidupan pernikahan kami.

Selang dua tahun, aku di beri kepercayaan untuk hamil kembali, dan lahirlah jagoan ganteng. Lengkap sudah, dikaruniai sepasang buat hati, laki-laki dan perempuan. Allah masih menambah kebahagiaan itu dengan kehamilan yang ketiga, empat tahun dari kehamilan pertama dan dua tahun dari kehamilan yang kedua lahir seorang putri lagi yang sangat imut. Kami tidak pernah berhenti bersyukur atas karunia ini. Dari semenjak menjalani operasi besar, kami memutuskan untuk tidak berKB, bentuk rasa syukur kami atas  kehidupan yang diberikan Allah padaku.

Masih belum cukup Allah menambahkan kebahagiaan pada keluarga kecilku, selang empat tahun dari kehamilan ketiga, aku kembali hamil. Dan diluar dugaan, kali ini ada 2 kehidupan di rahimku. Bukan hanya aku dan suamiku yang sangat bergembira dengan kenyataan yang kami alami, mengingat liku-liku riwayat kesehatanku, ketiga anakku yang masih kecil-kecilpun sangat antusias setiap kami jadwal periksa rutin ke dokter kandungan. 

Dari hasil USG, diketahui bahwa calon bayi kembarku berjenis kelamin perempuan, kondisi sehat. Jadwal rutin periksa yang tadinya sebulan sekali, mendekati tanggal perkiraan lahir, menjadi dua mingguan. Bayiku di perkirakan lahir 10 Januari. Saat-saat indah setiap kami membayangkan lahirnya si kembar, membuat kami berdebar-debar dengan perasaan bahagia.

27 Desember saatnya jadwal periksa. Agak lama dokter memeriksa kandunganku. Dag dig dug, agak curiga begitu dokter mengajak kami bicara dengan bahasa yang sangat halus, bahwa bayi kami detaknya hanya tinggal satu. Untuk menyelamatkn bayi yang masih berdetak, juga menyelamatkan ibunya harus segera di lakukan tindakan operasi. Sejenak kami terdiam, tidak kuasa menahan kabar ini. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, suamiku masih berharap ada mukjizat dari Allah. 

Namun,  manusia hanya bisa merencanakan, tetap Allah yang punya kuasa atas kehidupan ini, kami pasrah atas kehendakNya. Aku tetap bersyukur atas kejadian  ini, Allah masih sangat sayang pada diriku, aku di kasih kesempatan untuk merasakan dan menikmati bagaimana rasanya hamil kembar, tapi tidak untuk mengasuh bayi kembar. Tidak semua perempuan bisa mengalami seperti apa yang aku alami. Harusnya aku bahagia, bayiku kembarku salah satunya langsung di asuh olehNya. Teringat ke masa dulu, saat maasih gadis punya keinginan ketika menikah bisa hamil kembar, dan itu Allah kabulkan. 

Allah sebaik-baik perencana atas kehidupan hamba-hambanya. Termasuk kehidupanku. Fokusku sekarang adalah membesarkan dan mendidik mereka dengan sebaik mungkin. Semoga dilancarkan dalam proses ini. Aamiin





#ODOPbatch7
#Day26




Kamis, 03 Oktober 2019

Iler

by: Lilis Indrawati


Semburat jingga  perlahan namun pasti
Meninggalkan peraduan yang  bisu
Sejenak hatikupun terbuai
Oleh suasana pagi yang syahdu

Ku duduk di kursi tanpa sandaran
Menikmati udara yang bebas polusi
Terlintas dalam anganku yang gamang
akan hadirnya dirimu di sisiku

Kuberanikan hatiku memintamu wahai suamiku
Untuk membawakan dirinya ke dekatku
Sesaat kupasang indera pendengaranku
Jikalau engaku datang dengan motor bututmu

Hingga ada sesuatu di sudut bibirku
Kurasakan dan kuraba ternyata iler
Iler yang sedari tadi membayangkan harumnya aroma kopi
Yang akan datang bersama dirimu

Namun hingga iler meninggalkan markasnya
Sang kopi beserta pujaan hati
Tak juga menunjukkan jejak hadirnya
Namun ku tetap menunggu dan menunggu lagi
Hingga sang kopi beserta tuannya datang menghapus ilerku




#ODOPbatch7
#Day25



Rabu, 02 Oktober 2019

Etika Berkendara

by; Lilis Indrawati



Kurangnya kesadaran pengendara terhadap etika berkendara, sebenarnya bukan hanya berdampak buruk terhadap si pengendara itu sendiri, tapi  dampak buruknya juga bisa dirasakan oleh pengendara yang lainnya. Dalam berkendara, jika kesadaran itu dimiliki oleh masing-masing pengguna jalan, InsyaAllah bisa meminimalisir kecelakaan yang terjadi di jalan yang dilalui.

Berikut ini hal-hal sederhana yang bisa di terapkan jika kita berkendara, namun akan menjadi luar biasa bila di taati, apa saja? Mari kita baca dan kita simak :

Gunakan Helm
Banyak pengendara yang menggunakan helm, tapi belum sesuai standart SNI, terkadang mengikuti lifestyle, yang penting keren dan modis, tanpa memperhatikan apakah helm itu sudah bisa melindungi kepala si pemakai dari cedera kepala ataukah tidak. Tapi memang penampakannya helm-helm model begini ini keren-keren. Pada umumnya pengendara menggunakan helm karena takut kena razia petugas atau takut kena tilang, jadinya helm yang dipakai juga hanya sekedarnya saja. Jadi tidak pada tujuan bahwa helm digunakan untuk melindungi si pengendara dari kecelakaan.

 Jangan Merokok Ketika Mengendara
Saya sendiri sering kesal dengan yang namanya pengendara model begini. Walaupun di area terbuka, tapi menjengkelkan. Lha nikmatnya hisapan rokok dari bibirnya ia nikmati sendiri, tapi asapnya di bagi-bagikan ke pengendara motor di sampingnya. Ini tentunya jika kendaraan berhenti di trafficlight. Tapi jika kendaraan jalan, pengendara tetap dengan rokoknya yang mengepulkan asap kemana-mana, belum di tamba abunya yang terbang terarah mengikuti angin ke belakang, sudah pasti akan mengenai pengendara yang di belakangnya. Dan itu sangat menjengkelkan.

Jangan Menggunakan Ponsel
Banyak pengendara motor yang tidak memiliki kesadaran bahwa berkendara sambil menggunakan ponsel itu tidak keren sama sekali. Hal itu bisa berdampak buruk bukan saja pada dirinya tapi juga pada pengendara yang lainnya. Konsentrasinya akan terpecah, pengendara tidak fokus pada kondisi dan situasi di jalan yang dilaluinya. Lebih baik minggir dulu, dan silahkan gunakan ponsel secara bijak tanpa ada yang mersa terganggu dan was-was.

Ikuti Jalur Yang Sudah Disediakan
Yang harusnya terlihat adalah 1 jalur untuk kendaraan 1 arah, 2 jalur untuk kendaraan 2 arah. Yang tidak harusnya terjadi, terkadang 2 jalur menjadi 1 jalur. Dan ini menjadi pemandangan umum. Malah ada trotoar yang peruntukannya buat pejalan kaki, akhirnya digunakan juga buat pengendara motor yang pingin cepat-cepat sampai di tujuannya tanpa memperhatikan hak pejalan kaki.

Taati Rambu -rambu lalu lintas
Umumnya lampu berwarna merah, kendaraan berhenti, berwarna kuning berarti jalan pelan pelan dan berwarna hijau kendaraan boleh jalan. Kebanyakan berwarna kuning, pengendara pada ngebut. Hayo .... siapa yang pernah melakukan ini? Pengendara tipe begini ini sangat tidak disiplin. Taruhannya nyawa lho. Kalau hanya takut di tilang petugas, bisa di siapkan surat-suratnya dan bertanggung jawab karena merasa sudah melanggar. Tapi bagaimana dengan nyawa? Hanya Allah yang pegang kendali, bukan yang lain apalagi petugas. Makanya, sebaiknya jangan coba-coba ngebut pas lampu rambu-rambu berwarna kuning.

Beri Tanda Ketika Akan Berhenti dan Berbelok
Yang begini ini kebanyakan dilakukan oleh  emak-emak. Memasang tanda lampu (di lingkungan saya lebih familier dengan menyebut reteng/return) ke kiri tapi beloknya ke kanan. Saya sering menjumpai hal seperti ini, mungkin tanpa di sadari, saya termasuk tipe ini juga. Kadang habis belok, lampu tanda belok lupa dikembalikan ke semula. Jadinya hal ini membuat bingung pengendara yang ada di belakangnya. Misal : wis siap-siap menyalip kiri, karena emak-emak ini pasang tanda lampu belok kanan, eh tiba-tiba belok kiri, bukannya kanan seperti tanda lampunya. Capek deh!

Semua hal sederhana diatas bisa kita awali dari diri sendiri. Ayo kita mulai, kalo tidak dari sekarang, kapan lagi??




#ODOPbatch7
#Day24

Selasa, 01 Oktober 2019

Jejaring Sosial Dunia Maya

by: Lilis Indrawati




Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul yang dijalin dengan satu atau lebih tipe spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll. Analisis jejaring sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan. (Wikipedia)

Dunia maya atau bisa juga dipersingkat menjadi Dumay, adalah Media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung). (Wikipedia)

Dunia maya memang telah membuat kehidupan manusia seolah-olah lupa akan dunia yang sebenarnya. Saat ini hampir semua penduduk di planet bumi ini telah menjadi penduduk semi permanen di dunia maya. Apalagi dengan fasilitas penunjang gadget yang begitu canggih, membuat manusia benar-benar berada dalam zona nyaman dunia maya, bahkan yang namanya anak-anakpun, sekarang ini sudah terbuai oleh dunia tidak nyata ini. Sering kita denger kata-kata dari sebuah iklan di televisi, bahwa dunia dalam genggaman. Memang itu betul adanya.

Jika tidak bijak dalam penggunaannya, kita akan terjebak dalam dunia jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram, dimana seseorang mampu mengekspresikan segala aktifitas kehidupannya di sana. Banyak orang yang menggunakan media tersebut, untuk menumpahkan uneg-unegnya, segala aktifitasnya selalu di posting di dalam statusnya. Baik itu saat liburan, saat makan, saat bersama teman maupun keluarganya. Dan bahkan banyak juga yang dapat teman baru dari dunia maya, malah terkadang teman di dunia nyata terpinggirkan. Manjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Mempererat yang baru dan membuat renggang yang lama. Betul tidak ya?? 

Saya sendiri bisa mengetahui seseorang (teman saya) sedang berada dimana, sedang melakukan kegiatan apa, hatinya lagi senangkah, sedihkah? Lagi punya masalah atau tidak, saya bisa menebak dari setiap statusnya yang tidak pernah absen diberitakan di media sosial, facebook. Kadang memberitakan tentang anaknya yang baru saja terima raport dengan nilai yang sangat memuaskan, atau mengabarkan tentang kemenangan anaknya yang lain tentang lomba yang diikutinya. Lucunya di selipkan suatu nasehat, bahwa tetaplah menjadi anak yang rendah hati, tidak sombong walau menjadi juara, ingatlah di atas langit masih ada langit, jangan riya'. Lha....dengan update status yang akhirnya diketahui oleh penghuni dunia maya yang sejagat raya ini apa bukan riya' yang terselubung namanya. Jangan-jangan demi status, nasehat yang sesungguhnya tidak pernah nyampe ke anak yang bersangkutan. Waduh ..... semoga saja tidak ya.

Dampak positif sebenarnya juga banyak, jika kita cerdas dalam memanfaatkan jejaring sosial di dunia maya. Contoh anak teman saya, dia bisa berkeliling ke 23 negara berkat jejaring sosial. Anak ini hampir jarang keluar dari rumahnya, alasannya jalanan macet bisa sampai satu atau bahkan 2 jam waktunya terbuang percuma di lalu lintas kemacetan. Ia berpikir lebih baik di rumah, duduk di depan laptop, dan ia terhubung ke semua relasinya di seluruh dunia. Dari sinilah bisnisnya dijalankan, dan pundi-pundi rupiah membuat rekeningnya semakin gendut. Ia berpikir bahwa untuk mendapatkan rupiah tidak selalu di dapatkan dengan menjadi dokter, pegawai kantoran, duduk di parlemen dan lainnya. Ia menganggap itu cita -cita jaman dulu, jaman sekarang semua dipermudah dengan jejaring sosial. Atta Halilintar dan Ria Ricis juga bisa dijadikan contoh cerdas bagaimana mengelola jejaring sosial. Apa ya yang tertulis di kolom pekerjaan yang ada di KTP mereka? Youtuber,  swasta ataukah wiraswasta??

Menurut pendapat saya pribadi, kita tidak bisa mengingkari atau menolak hadirnya jejaring sosial dunia maya di jaman seperti saat ini. Kita akan ketinggalan informasi positif, dan kita harus belajar untuk bisa memanfaatkannya,  menyikapinya secara bijak. Tidak selamanya tergabung dengan jejaring sosial itu buruk, juga belum tentu menolak hadirnya itu baik. Intinya kita harus cerdas memanfaatkan dunia maya dalam jejaring sosial. Bagaimana? Apakah kita sepaham?






#ODOPbatch7
#Day23




DILARANG MISKIN

Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM Tebal Buku 230 halaman Miskin kok di larang? Sebagaimana sebuah produk, apa...