Rabu, 23 Oktober 2019

Nasi bungkus

by: Lilis Indrawati




Waktu jaman kos dulu, hampir tiap hari nasi bungkus menjadi menu utama kami anak-anak mahasiswa. Murah meriah, lauknya beragam, bisa pilih sesuai isi kantong. Saking seringnya, terkadang ngiri dengan teman yang tidak ngekos. Mereka ini keluarganya memang tingal di kota, dimana ia melanjutkan kuliah. Teman ini karena tinggal dengan keluargamya, menunya ya menu rumahan, makan setiap harinya masakan rumah. Beda dengan kami yang tinggal jauh dengan orang tua, makanya kami ngekos dan makannya lebih sering nasi bungkus.

Jika habis terima kiriman uang kami mencari makanan yang lebih lengkap dan makan di tempat, tapi tetep manajemen keuangan harus betul-betul menjadi perhatian utama, kalau tidak ingin isi dompet menipis sebelum kiriman uang bulan berkutnya datang, akibatnya bisa puasa sampe kiriman datang atau berhutang. Nah berhutang ini yang harus dihindari sedini mungkin.

Ternyata bener ya, kebahagiaan itu milik semua orang, siapa saja yang bisa meraihnya dengan cara menjalani secara ikhlas kemudian mensyukurinya, maka kebahagiaan akan menghampiri. Begitu juga dengan kisah nasi bungkus tadi, ternyata kami yang anak-anak kos ini merasakan kebosanan juga dan mulai iri hati dengan teman yang setiap hari tidak merasakannnya, karena mereka makan di rumahnya bersama keluarga tercinta.

Yang terjadi adalah, teman saya ini juga merasa iri melihat kami makan nasi bungkus, Kelihatannya enak bisa pilih lauk sesui selera, dia juga bosen dengan makanan rumahan yang dihidangkan setiap harinya dan pingin merasakan bagaimana nikmatnya menyantap nasi bungkus. Oalah, ternyata di luar bayangan kami yang menyandang predikat anak kos. Orang Jawa menyebutnya ini sawang sinawang yang berarti enak di mata orang lain belum tentu enak bagi yang menjalaninya.

Apapun itu harus di syukuri, baik kami sebagai anak kos, maupun teman saya yang bukan anak kos tersebut. Disanalah letak kebagaiaan. Nasehat ibu saya, jangan sampe berhutang, apa yang kita punya itulah yang harus di cukup-cukupkan. Allah memberi rejeki antara yang satu dengan yang lainnya itu berbeda-beda dan sudah dipastikan. Hendaknya memang kita tidak hidup melebihi pendapatan kita, Tetaplah hidup sederhana sesuai standart kita, bukan standart orang lain. Karena rejeki yang diberikan Allah itu cukup untuk hidup, bukan untuk gaya hidup.






#ODOP batch7
#Day43

Minggu, 20 Oktober 2019

Tukad Korea

by: Lilis Indrawati



Siapa yang tidak mengenal Bali? Bahkan di manca negara Bali lebih di kenal daripada Indonesia itu sendiri. Jika mendengar kata Bali pastilah ingin berwisata di pulau seribu pura ini. Keindahan tentang destinasi wisatanya membuat siapapun pasti ingin berlibur ke Bali. Maka bersyukurlah yang hidup dan tinggal di Bali, bagaimana tidak? Liburan di Bali adalah idaman setiapa orang, yang tinggal di Bali serasa berlibur terus tiada henti, karena setiap saat bisa menikmati keindahan pulau dewata.





Wisata Bali tidak hanya terkenal akan pantai dan pemandangan gunungnya, melainkan juga sungainya. Ada salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjung yaitu Tukad Badung, kami menamainya sebagai Tukad Korea. Tukad dalam bahasa Bali yang berarti sungai. Ini di karenakan rancangan sungai ini konsepnya mirip dengan sungai yang ada di Seoul, Korea yaitu sungai Cheonggyecheon.

Sungai ini dirancang oleh pemerintah kota Denpasar dan dibuat semirip mungkin dengan yang ada di Korea, seperti taman, air mancur, pemasangan lampu-lampu, beberapa  fasilitas seperti tempat memancing, juga adanya jogging track yang panjangnya sekitar 120 meter. Sungai ini ada taman mini yang memiliki jalan setapak dengan lebar 2-3 meter. Ada beberapa foto tempat wisata yang ada di kota Denpasar yang di pasang di tembok tembok taman. Sungai ini dihias sangat rapi dan dibuat senyawan mungkin agar warga bisa berekreasi sekaligus melakukan beberapa aktivitas.




Lokasinya yang diapit dengan 2 pasar traditional, yaitu pasar seni Kumbasari dan pasar Badung, membuat tempat ini selalu ramai di kunjungi warga, wisatawan lokal maupun domestik. Ada jembatan yang menghubungkan kedua pasar ini. Warga sendiri sengaja memilih ke pasar ini di malam hari dengan tujuan bisa santai sejenak menikmati sungai yang sangat indah dan terjaga kebersihannya, baru setelahnya belanja kebutuhan dapur seperti sayur mayur, bumbu-bumbu dan ikan segar. Sungai ini memang akan tampak lebih indah ketika malam hari, karena banyaknya penerangan di malam hari, membuat kerlap-kerlip lampu yang sangat menarik dan sayang jika dilewatkan. Bersihnya aliran sungai dengan tambahan air mancur diterpa lampu, membuat suasana malam menjadi semakin indah. Banyak yang sengaja mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama keluarga.




Bali sebagi tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara, pemerintah menghimbau warganya untuk selalu menjaga kebersihan di semua lini kehidupan. Tak terkecuali di Tukad Korea ini, walaupun lokasinya ada di tengah-tengah pasar, namun kebersihannya sangatlah terjaga, hingga siapapun yang berkunjung merasa nyaman dan ingin kembali lagi. Ini berkat kesadaran segenap warga untuk berpola hidup bersih, menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

Nah, buat teman-teman yang ingin berwisata ke pulau Bali, sangat disarankan dan patut dicoba untuk mengunjungi wisata sungai Tukad Korea ini, dijamin akan bisa bergembira menikmati keindahan sungai tersebut, terutama di malam hari. Wisata yang menarik dan murah meriah.








#ODOPbatch7
#Day42

Baitul Arqam 'Aisyiyah

by: Lilis Indrawati




Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Bali Majelis Dikdasmen bersinergi dengan Majelis Pembinaan Kader sebagai pengelola pada tanggal 18 - 20 Oktober 2019 hari Jumat - Ahad, mengambil tema "Dengan Semangat Baitul Arqam Kita Wujudkan Guru Kreatif Menuju Pendidikan Berkualitas dan Berkarakter", bertempat di salah satu amal usaha 'Aisyiyah yaitu di TK Percontohan 'Aisyiyah 3 Denpasar.

Kegiatan ini di ikuti oleh 125 peserta yang terdiri dari 97 guru TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal dan 28 pengurus dari Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Majelis Dikdasmen dari 7 Kabupaten/Kota di Bali.
Baitul Arqom adalah salah satu bentuk perkaderan 'Aisyiyah yang merupakan modifikasi atau penyesuaian dan penyederhanaan Darul Arqam Muhammadiyah. Berorientasi pada pembinaan ideologi dan kepemimpinan untuk menciptakan kesamaan dan kesatuan sikap, integritas, wawasan, cara berfikir dan cara bertindak di kalangan pimpinan maupun anggota dalam mewujudkan visi dan misi "Aisyiyah

Tujuan diselenggarakannya Baitul Arqam 'Aisyiyah bagi guru TK ABA adalah:
  1. Peserta memiliki pemahaman dan keyakinan yang benar terhadap ideologi Muhammadiyah.
  2. Peserta memiliki komitmen mengembangkan, mensosialisasikan, mempertahankan dan memperjuangkan ideologi Muhammadiyah.
  3. Peserta memiliki kesatuan sikap, integritas, wawasan, cara berfikir dan bertindak dalam mengembangkan visi dan misi 'Aisyiyah.
  4. peserta memiliki kemampuan, kecakapan dan semangat tinggi dalam mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah melalui pendidikan di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal.
Adapun materi-materi yang diberikan pada Baitul Arqam bagi Pimpinan Amal Usaha dan guru TK ABA, yaitu:
  1. Sejarah Muhammadiyah/'Aisyiyah (Aminullah, S.Ag./Ketua PWM Bali)
  2. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (Ghozzi Habibullah, S. Pd.I., M.Pd.I./Majelis Tabligh PWM Bali)
  3. Dinamika Perjuangan 'Aisyiyah (Lilis Indrawati, SE, SH./Ketua Majelis Pembinaan Kader PWA Bali)
  4. Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam (Ir. Takwalin, M.Pd.I./Ketua PWA Bali) 
  5. Konsep Keluarga Sakinah dan Implementasinya Dalam Program Pendidikan (Dra. Rahmani Siddiq, MA.(Koordinator Majelis Tabligh PWA Bali)
  6. Etos Kerja Dalam Mengemban Amanah Profesi (Fatmawati Abdullah, P.Si./Ketua Majelis Kesehatan PWA Bali)
  7. Pendidikan Berkarakter (Dr. Sri Maryati Deliana, M.Si./Ketua Program Studi S2 Universitas Negeri Semarang)

Disamping materi dasar, materi umum juga materi penunjang yang sudah di sebutkan diatas, juga ada materi lainnya yang diberikan untuk memperkaya wawasan, yaitu:
  1. Muhasabah
  2. Thaharatul Qulub
  3. Qiyamul Lail

Juga ada metode pelatihan diantaranya:
  1. Diskusi Kelompok
  2. Debating Games dan Ice Breaking
  3. Olah Raga pagi dan Out Bond
  4. Simulasi
  5. Gallery Sesson
Peserta sangat antusias dan berperan aktif dalam kegiatan ini, dilihat dari pada saat dibuka sesi tanya jawab, saling berebut untuk bisa menyampaikan beberapa pertanyaan. Begitu juga pada saat ta'aruf, karena ini peserta dari seluruh Bali, kemungkinan diantara peserta ada yang belum saling mengenal satu sama lain. Namun ta'aruf yang sesungguhnya bisa mengenal lebih dalam adalah pada saat menginap, berkumpul dalam satu ruangan dalam rangka menuju pulau kapuk. Dari kegiatan ini akan bisa di kenali bagaimana keseharian, sikap dan watak masing-masing peserta.

Juga dari kegiatan ini bisa diketahui, bagaimana dinamika 'Aisyiyah di daerah-daerah dan perjuangan 'Aisyiyah dalam perekrutan kader, hingga kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk memajukan umat, terutama perempuan-perempuan di Bali.

Semangat terus wahai ibu-ibu 'Aisyiyah, teruslah bergerak dan jadilah perempuan berkemajuan.





#ODOPbatch7
#Day41

Jumat, 18 Oktober 2019

Pelakor Itu ...... (Part 2)

by: Lilis Indrawati



     Masih dengan emosi dan tangisan yang begitu menyedihkan di pandanganku, nafas yang tersengal tak beraturan kurasakan, aku pamit untuk mengambilkan air putih sebentar.
Aku kembali dengan segelas air putih di tanganku, kusodorkan pada Rini, agar sedikit mengurangi beban yang memenuhi dadanya.

     Perlahan kuberanikan untuk bertanya "Siapakah perempuan itu Rin? Yang begitu tega untuk menganbil suamimu sekaligus menghancurkan kehidupan rumah tanggamu?" Asli aku penasaran betul dengan sosok perempuan tersebut.

     "Kamu kenal Dewi kan Lis?" jawabnya dengan pelan.

     "Dewi? Teman kita? Yang dulu kamu kenalkan ke aku di pengajian itu kan?" tanyaku dengan mata sedikit melotot." Dewi ini statusnya adalah janda cerai tanpa anak.

     "Iya bener, awalnya dia sering komen di status FBku Lis, ketika aku pasang status bahagiaku bersama suami." 

     Rini ini termasuk tipe perempuan yang rajin pasang status di FBnya. Terutama tentang kemesraan antara dirinya dan suaminya. Pernah aku menasehatinya, jangan sering-sering mengumbar tentang kemesraan bersama pasangan, jadikan itu sebagai rahasia berdua, karena yang berteman dengan dia tidak hanya orang-orang yang suka dengan status tersebut, tapi ada juga yang tidak suka, atau pura-pura suka. Namun dia jawab bahwa itu sebagai bentuk cara dia mengungkapkan rasa bahagianya. Ketika kusinggung apa nggak khawatir ada yang pingin naksir suaminya, dia selalu bilang bahwa di hati suaminya hanya ada dia. Nah, sekarang apa yang terjadi?

     "Terus ceritanya bagaimana? awalnya hanya komen di FB kok sekarang jadi pelakor?" dengan tidak sabar aku menyebutnya langsung saja sebagai perebut istri orang atau pelakor.

     "Semenjak itu dia sering main ke rumah, bahkan terkadang seharian dia di rumahku. Aku tidak menyadari jika diam-diam dia menjerat suamiku." ceritanya

     "Terus kamu biarkan begitu saja?" timpalku.

     "Aku percaya sama suamiku Lis, sangat percaya bahwa dari perhatian dan tanggungjawabnya yang kurasakan selama ini, sangat tidak mungkin bagi suamiku untuk tergoda dengan wanita lain. Tapi ternyata itu salah. Kembali dia mewek.

Dalam hatiku aku menggumam, malang nian nasibmu kawan. Kamu sangat yakin dan percaya pada  sosok suamimu, hingga begitu bahagianya sampai apapun yang diberikan suamimu kepadamu tentang kasih sayangnya, tentang perhatian dan tanggung jawabnya selalu kamu pamerkan di FB. Tapi kamu tidak sadar bahwa di luar sana banyak perempuan yang pura-pura suka dan dia menginginkan suamimu. Perempuan yang awalnya baik namun karena rasa iri yang mengendap di hati atau bisa juga sakit hati dan pingin membuktikan sampai sejauh mana kesetiaan sang suami. Itu salah satu yang mendasari perempuan itu berubah menjadi pelakor.


bersambung .......




#ODOPbatch7#
#Day40







        


Predikat Yatim

by: Lilis Indrawati




       Pagi ini, di hari Ahad, kami komunitas ibu-ibu yang tergabung dalam sebuah kelompok pengajian mengadakan bhakti sosial, rangkaian sebelumnya sudah kami lalui. Tibalah acara puncak yang kami adakan di hari Ahad yang cerah ini. Pada puncak acara ini kami mengundang beberapa anak yatim yang selama ini ada dalam wadah anak asuh.

     Tibalah saatnya untuk penyerahan tali asih kepada beberapa anak yatim tersebut, di belakang mereka ada backdrop dengan tulisan besar "Bhakti Sosial Pemberian Tali Asih Kepada Anak Yatim." Ketua pengajian kami sudah siap di atas panggung untuk meyerahkan amplop dan bingkisan kepada mereka. Setelah semua sudah diserahkan, tibalah acara foto bersama. Dan sayalah yang dapat tugas untuk mengabadikan momen ini sebagai dokumentasi dan sebagai salah satu penunjang laporan.

    Ketika lagi bersiap untuk dokumentasi ini, tiba-tiba salah seorang dari mereka menghampiriku.

     "Di foto dulu ya bu? Untuk laporan nggih?" tanya salah satu dari 15 anak-anak yatim yang kita kumpulkan dalam acara siang amal ini.

      "Iya mas, kenapa? Suka ya di foto?" tanyaku masih dengan ketidak pekaan
     "Sangat suka sih bu, tapi tidak dalam predikat sebagai anak yatim yang lagi menerima santunan begini." jawabnya sopan dengan tatapan mata yang menghunjam ke dadaku. Makjleb. 

      Seketika itu juga  aku tersadar dari fenomena di depanku, mendadak mataku panas, bagaimana aku tidak peka dengan semua ini? Aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi anak yatim. Walau dulu jamannya berfastabiqul khoirot tidak seperti sekarang, berloma-lomba dalam kebaikan jaman dulu  tidak semarak jaman sekarang.

     Tanpa disadari kita telah melukai perasaan anak-anak  tersebut. Akupun menangis dalam hati, ampuni kami nak, perasaanmu tercabik-cabik oleh ulah kami. Menyandang predikat yatim saja sudah membuat hidup kalian nelangsa, serasa berkurang, ditambah dengan perlakuan dari kami yang awalnya sama sekali tidak kami sadari. Akhirnya aku rangkul anak tersebut, sambil kubisikkan kata-kata, "foto ini hanya untuk mengisi album di rumah pengajian mas, bolehkan?"

Sepertinya dengan anggukan dan senyuman yang disunggingkan kepadaku, aku bisa menangkap isi hatinya, antara iya dan tidak, tapi akupun harus menjalankan tugasku sebagai sie dokumentasi. Nanti selesai acara ini, aku akan menyampaikan kepada forum peengajian, tentang kenyataan yang ada di hadapan kami semua.

Ada rasa malu dan seperti di eksploitasi pada diri dan kehidupan mereka,  didatangkan, di suruh naik panggung dengan disaksikan segenap undangan yang hadir, diberikan bingkisan dan di foto pula. Hal yang tanpa kita sadari membuat mereka seperti tidak di orangkan, ora di uwongke bahasa Jawanya. bayangkan jika kita ada di posisi mereka? Bagaimana rasanya diperlakukan seperti ini.

Menjadi yatim dan menjadi miskin jelas bukan pilihan mereka. Jika di suruh memilih, rasanya tidak ada yang dengan sengaja memilih keduanya. Jika tangan kanan memberi, tangan kiripun seyogyanya tidak boleh tahu, haruslah itu bukan hanya kalimat, tapi jadi acuan diri kita untuk beramal sholeh.
Dari pengalaman ini, ternyata menjadi manusia bijaksana juga tidak mudah, memberikan rasa nyaman kepada yatim, fakir dan miskin juga bukan perkara gampang, apalagi bersikap adil sesuai dengan pengamalan sila ke-5 Pancasila, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia"
ini hanyalah contoh kecil di komunitas kecil dari rasa keadilan, apalagi jika dalam komunitas besar, Tentunya semakin hari kita harus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijaksana.





"ODOPbatch7
"Day39



Rabu, 16 Oktober 2019

Pelakor itu ....

by: Lilis Indrawati




     Rutinitas pagi ini kunikmati seperti biasanya. Merapikan dapur dari berantakan menyiapkan sarapan anakku dan bekal makan siangnya di sekolah. Samar kudengar ada suara salam dan ketokan di pager rumahku.

     "Assalamu'alaikum".

Samar-samar  ucapan salam itu terdengar kembali, kali ini lebih jelas, suara seorang wanita yang terdengar parau. Siapakah yang bertamu sepagi ini? Tanyaku dalam hati. Begitu anakku berangkat sekolah dianter ayahnya yang juga sekalian berangkat kerja, pager kembali kugembok. Rumah kami tidaklah besar, tapi lumayan memanjang ke belakang. Sudah berapa kali ketika pager hanya kurapatkan, tiba-tiba sudah ada orang yang berdiri di depan pintu. Makanya suamiku sering berpesan, jika sendirian di rumah, sebaiknya pager di gembok saja. Jika ada yang bertandang ke rumah, kan pasti permisi atau ketok-ketok. Seperti pagi ini, kudengar suara salam itu kembali.

     "Wa'alaikum salam". jawabku dari dapur dengan sedikit kukeraskan suaraku. Bergegas kuraih kerudung di pegangan tangga. Kerudung yang sengaja kuletakkan di situ, berjaga-jaga jika ada tamu, sedangkan nyonya rumah masih berseragam daster. Tak lupa kuambil juga kunci pager yang ada di kotak khusus. Sambil berjalan ke halaman, aku bisa melihat wajah tamuku. Ternyata Rini, teman akrabku karena sering bertemu di sekolah, ketika anter dan jemput anak-anak kami yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak.

     "Hai Rin," sapaku, "tumben sepagi ini kau datang, tidak biasanya, ada sesuatukah?" Kulanjutkan pertanyaanku sambil aku menutup pager kembali.

     "Iya Lis, maafkan jika aku mengganggumu, habis dari sekolah aku langsung kemari, aku pingin curhat tentang masalahku," jawabnya dengan mata yang mulai basah.
Curhat tentang apa ya? Sepagi ini dia sempatkan untuk menemuiku, pastilah sangat penting, pikirku. Dan tangisnya itu yang membuat aku penasaran.

     "Ayo masuk dan duduk dulu, kamu mau minum apa? Kubuatkan teh ya? Ada teh naga lho, kesukaanmu." Kataku sambil mempersilahkan dia duduk.

     "Boleh Lis, asal jangan terlalu repot, aku ke sini hanya ingin menceritakan masalahku, tolong dengarkan, katanya dengan mata yang sudah basah oleh buliran air mata.

Kubuatkan teh dan kusandingkan dengan pukis sebagai temannya. Aku ikut duduk di sampingnya dan bersiap mendengarkan ceritanya. Sebenarnya aku kurang begitu suka dengan curhatan teman-teman tentang beragam masalah kehidupannya. Terus terang, aku tipe perempuan yang ikut mikir juga jika sudah tahu jalan ceritanya, bahkan kadang itu menjadi beban pikiran tersendiri buatku. Tapi entah kenapa mereka lebih sreg untuk bercerita ke aku, dan aku tidak kuasa menolaknya.

     "Ayo cerita, ada apa?" Kusiapkan kupingku dan tissue untuk berjaga-jaga jika akupun ikutan mewek.

     "Semalam suamiku meminta ijin untuk menikah lagi Lis, betapa remuknya hatiku mendengar permintaannya, dia yang selama ini selalu romantis dan memperhatikan aku luar dalam, tega-teganya meminta itu dariku?" Kali ini dadanya berguncang dan tangisnya semakin membuat dia susah bicara meneruskan cerita isi hatinya. Aku juga kaget teramat sangat, karena kenal sama suaminya, orangnya ramah, sholeh dan sangat memanjakan Rini, dan sama anaknya .... sayang banget. Terkadang ada beberapa wali murid yang berkomentar tentang kehidupan Rini, ada yang ngiri namun ada juga yang ikutan seneng melihat kebahagiaan mereka.

Rini ini tipe perempuan yang manja sama suaminya, tapi bagiku wajar saja .... wong manjanya juga sama suami sendiri bukan suami orang. Dan suaminya juga kelihatan sangat menyayangi istrinya itu. Makanya heran juga aku mendengar cerita Rini.

Aku rengkuh tubuh langsingnya, kupeluk dia, seolah aku ingin memberi kekuatan padanya. Dia sangat terguncang dan entah apalagi yang berkecamuk di hatinya saat ini. Sesaat dia nampak lebih tenang, maka perlahan kulepaskan rangkulanku, kuberi ruang untuk menumpahkan segala permasalahan rumah tangganya, dan berharap itu bisa sedikit mengurangi bebannya.
Rini menghela nafas dalam dan panjang, sebelum dia lanjutkan ceritanya.

    "Aku nggak yakin bisa mempertahankan rumah tangga ini Lis,! Walaupun berat, namun ini keputusan terbaik, begitu kata suamiku."
     "Kenapa bisa begitu? Kalian masih bisa untuk merajut kembali kebahagiaan itu, berusahalah," kataku dengan gusar dan gemas.
     "Suamiku ingin berpoligami, dengan meminta ijinku Lis, itu sudah sejak 2 bulan yang lalu, dan aku minta waktu untuk berpikir, bagaimanapun aku harus menata segalanya, terutama hatiku, tidak semudah itu menjauhkan hatiku dari rasa cemburu untuk di madu."
    "Trus?" aku semakin gemas mendengarnya. Entah gemas dengan suaminya atau keputusannya. Akupun ikut meraskan betapa pedih luka hati Rini.
     "Dan semalam suamiku sudah berubah pikiran lagi, atas permintaan wanita idamannya, dia nggak mau dijadikan istri kedua, kamu tahu kan apa itu artinya?" Suamiku harus menceraikan aku, istri sahnya yang sudah memberinya 2 orang anak, dan sudah 9 tahun hidup bersama."

Kali ini dia menangis lagi, "Sudah tidak ada cinta lagi di hatinya untukku Lis, aku dianggap masa lalunya dan dia ingin merajut masa depannya bersama perempuan itu, perempuan yang sangat aku kenal, dan kamu juga mengenalnya Lis."

Ya Allah ..... semakin geregetan aku mendengarkan cerita ini, begitu dahsyatnya pengaruh perempuan itu dalam menggoda suaminya Rini, hingga tidak menyadari bahwa dia sudah menghancurkan mahligai perkawinan yang sudah terjalin hampir 10 tahun.
Dan yang membuat hatiku semakin kalang kabut, bahwa aku juga mengenal perempuan itu, yang kusebut dengan pelakor.

bersambung ................





#ODOPbatch7
#Day38




















Selasa, 15 Oktober 2019

Dapur

by: Lilis Indrawati




Di setiap rumah baik  besar maupun  mungil pasti mempunyai dapur. Karena dapur merupakan jantung dari sebuah rumah. Dapur biasanya letaknya ada di bagian rumah yang paling belakang. Tapi di era modern seperti saat ini dapur bisa saja ada di ruang tengah, samping bagian dalam rumah. Malah sering kita jumpai dapur ada setelah pintu masuk.

Dapur secara harafiah adalah suatu tempat, biasanya di dalam rumah, dimana seseorang melakukan aktifitas mengolah dan menyediakan bahan makanan tau pangan. Kegiatan ini dinamakan memasak. (Wikipedia) 


Di rumah saya sendiri, dapur ada di bagian belakang samping, Bagi saya dapur bukan hanya tempat yang bisa digunakan untuk kegiatan masak-memasak, mengolah makanan mentah menjadi makanan siap saji dan siap santap, tapi lebih dari itu, terkadang bisa saya gunakan untuk bercengkerama dengan anggota keluarga yang lain. Bahkan teman-teman saya lebih menyukai ngobrol di dapur ketika mereka berkunjung ke rumah saya. Mungkin karena pintu dapur saya lebih mudah di akses dibanding pintu ruang tamu, jadi lebih leluasa masuk lewat dapur,

Karena ada pengembangan fungsi dapur itu sendiri, jadinya dapur jaman sekarang agak berbeda dalam penataan interiornya, dibuat senyaman, serapi dan seindah mungkin. Karena dengan kenyamanan ketika kita ada di dapur, akan bisa membuat acara masak-memasak bukan hanya sebagai kewajiban menyiapakan makanan, tapi bisa sebagai sarana hiburan dan penyaluran hobi.  Dan jika dapur terlihat rapi, maka akan berpikir ulang untuk mengotori dan sembarangan dalam peletakan alat-alat dapurnya. Dengan keindahan akan membuat kita betah berlama-lama di dapur. Dan acara masak-memasak akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Hati senang akan berdampak pada cita rasa makanan yang dihasilkan. Boleh dibuktikan!

Walau dapur saya tidak secantik dapur yang ada di gambar-gambar, tapi saya sangat menyukainya. Di sanalah saya bisa berlama-lama menikmati kegiatan untuk membuat kue-kue pesanan pelanggan. Namun tidak setiap hari bisa melakukan kegiatan tersebut. Jangan karena dapur yang tidak sesuai keinginan hati, membuat kita jadi malas ke dapur. Setidaknya nikmatilah kegiatan di dapur walau hanya untuk merebus air dan membuat mie goreng. 😀😀





#ODOPbatch7
#Day37




DILARANG MISKIN

Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM Tebal Buku 230 halaman Miskin kok di larang? Sebagaimana sebuah produk, apa...