Senin, 25 November 2019

Review Buku

by: Lilis Indrawati








Kisah ini tentang Jim, yang sejak kecil amat percaya bahwa setiap kehidupan ditakdirkan memiliki satu cinta sejati. Itu berarti sebenarnya hampir dari seluruh kita memiliki cerita yang sama. Hanya saja, kisah ini menjadi berbeda dengan kepunyaan kita ketika Jim tak kunjung menyadari bahwa cinta adalah kata kerja, dan sebagai kata kerja jelas ia membutuhkan tindakan-tindakan, bukan sekedar perasaan-perasaan.

Menceritakan sosok lelaki yaitu Jim yang dalam hidupnya pernah mengenal dan merasakan jatuh cinta pada seorang wanita bangsawan negeri seberang yang bernama Nayla. Hatinya tertambat pada sosok wanita ayu nan rupawan. Pertemuan diawali dengan permainan biola Jim, yang membuat semua orang mengagumi kemampuan Jim bermain biola, termasuk Nayla. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, gayungpun bersambut, Nayla juga merasakan cinta itu. Namun Jim yang hanya pemuda yatim piatu, miskin papa, dibesarkan oleh kasih sayang para dermawan, tak berpendidikan, dan terlalu lemah untuk berani mengambil keputusan dalam hidup.

Tibalah saatnya Nayla harus menerima kenyataan, bahwa keluarganya menjodohkannya dengan seorang pemuda dari kaumnya. Itu permintaan terakhir mendiang ibunya. Pernikahan akan segera dilangsungkan. Nayla tidak berani menentang keputusan keluarga mereka. Hidup mereka sudah digariskan berdasarkan kesepakatan keluarga. Dan apalah artinya seorang Jim. Ia hanyalah pemain musik yang berperasaan lembut, tidak memiliki kekuatan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Jim terlalu takut untuk meghadapi kemungkinan hari-hari depannya. Terlalu gentar untuk mengambil tindakan. Tersuruk-suruk menggerakkan kaki. Berkutat dengan asa tanpa upaya. 

Nayla lelah dan sesak menunggu keberanian Jim, sementara pernikahan itu diabang pintu. Berkali-kali ia mendesak, hanya jawab pengecut yang ia terima. Nayla akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum sebotol racun.

Dari sinilah cerita hidup Jim dimulai. Akhirnya iapun patah hati, karena gadis yang teramat sangat dicintai telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hari-hari dijalani dengan kemurungan. Ingin rasanya ia juga mengakhiri hidup seperti Naylanya. Tapi lagi-lagi Jim tidak punya cukup nyali untuk melakukan itu semua. Hingga dengan secara tiba-tiba datanglah dalam hidupnya seorang pria asing, dialah Sang Penandai. Dan pria asing itu mengucapkan kalimat aneh "Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya."

Pria itu mengulang kalimatnya berkali-kali, ia menginginkan Jim mempercayai satu kalimat itu saja. Dan sisanya, serahkanlah kepada waktu. Biarlah waktu yang menyelesaikan bagiannya.
Akhirnya Jim memulai hidupnya dengan menjadi prajurit di sebuah armada kapal besar yang melakukan perjalanan raksasa menuju Tanah Harapan. Kapal itulah yang disebut Pedang Langit.

Kesedihan demi kesedihan akibat kehilangan kekasih hati terus menyelimuti hatinya. Hatinya tertutup untuk semua perempuan, Pun begitu ketika harus bertemu dengan gadis ayu yang ia jumpai di tengah perjalannya, tidak juga bisa mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan. Ingatannya hanya dipenuhi oleh perasaan bersalah pada Nayla, hingga ia tidak mampu bangkit dari keterpurukan akibat cinta. Gadis itu rela mati demi cinta mereka, tapi Jim selalu ragu untuk melakukan hal yang sama dengan Nayla. Setiap keinginan itu datang menghampiri, pria asing itu selalu datang dengan tiba-tiba. 
Selalu dengan kalimatnya: 
"Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya."
Percayalah pada kalimat bijak itu.
Hanya itu yang perlu dilakukan.
Sisanya, biarlah waktu yang menyelesaikan bagiannya.
maka, kau akan mendapatkan hadiah terindah atas cinta sejatimu.
Percayalah.

Bagi yang penasaran dan ingin tahu dari akhir cerita buku ini, silahkan ditemukan jawabannya dengan membaca lebih lengkap isi dari buku ini.
Salam literasi, terus semangat membaca dan menulis. 



Harga Sebuah Percaya, karya Tere Liye
Penerbit Mahaka Publishing, Cetakan ke-3 Maret 2018
298 halaman




Sabtu, 16 November 2019

Ulasan Cerpen Sebuah Perjalanan

oleh : Lilis Indrawati


Judul : Sebuah perjalanan (Wiwid Nurwidayati )
http://www.ngodop.com/art/42/Sebuah-Perjalanan


Unsur Intrinsik

Tema
Tema konflik dalam rumah tangga yang dialami sepasang suami istri, dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tidak semanis harapan dan janji seperti diawal pernikahan dulu. Keegoisan dan minimnya komunikasi membuat mereka saling menduakan dengan barang pengganti masing-masing. Merek terlena dengan kegemaran masing-masing hingga pernikahan yang terjalin selama 7 tahun jadi serasa hampa. Api cemburu karena merasa di nomor duakan dengan tablet kesayangan sang istri membawa tokoh suami pada kemarahan dan kemurkaan yang berujung pada perginya sang istri, meninggalkan rumah. Namun kejadian yang dialami tokoh istri di luar rumah teramat tragis, hingga tidak bisa lagi membawanya pulang untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang sudah mereka buat sebelumnya, dan tidak ada lagi kesempatan merajut kembali bahtera rumah tangga.  Hanya penyesalan yang bisa ia bawa pergi, karena beda dunia, beda alam tidak akan pernah bisa lagi menyatukan kebersamaan dan merajut mimpi-mimpi indah mereka.

Alur
Alur maju secara runut dari tahap awal, tahap tengah hingga tahap akhir, dengan flash back  menarik membuat pembaca bisa menangkap dan memahami isi dari cerita ini. 

Latar
Rumah bercat biru yang sudah  ditempati selama 7 tahun dengan ruangan kamar berukuran 4x4 m, tempat mereka bertengkar sekaligus tempat terakhir bersama. Bus PO Toto yang membawa tokoh istri pada  bus lain yang digambarkan berwarna merah dengan sorot dua lampu depan yang seolah berkedip kedip tanpa pengemudi, yang membawanya melihat, merasakan dan mengenang masa lalu, masa indah bersama suami di awal-awal pernikahan.

Tokoh dan Perwatakan
Hanya ada 2 tokoh dalam cerita ini, aku dan kamu. 

Tokoh aku yaitu istri yang menceritakan tentang pribadi yang terbuai oleh dunianya bersama barang kesayangannya yaitu tablet pintar hingga ia mengesampingkan tokoh kamu yang tidak lain adalah suaminya sendiri. 

Tokoh kamu adalah suami yang merasa diacuhkan oleh tokoh aku yaitu istrinya sendiri, hingga komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik dan akhirnya timbul rasa cemburu pada benda yang namanya tablet pintar, hingga membawanya pada kemarahan yang memuncak

POV
Point Of Viewnya terletak pada penyesalan salah satu tokoh pada cerita di atas yaitu, setelah mengetahui bahwa tokoh suami sangat kehilangan atas menghilangnya dirinya. Tokoh istri ingin kembali, meminta maaf, memperbaiki dan akan memulai semua dari nol lagi sepertia awal-awal pernikahan. Namun waktu tidak bisa diputar mundur, sang istri sudah tidak bisa kembali lagi, karena dunia mereka sudah berbeda dan saya sebagai pembaca bisa merasakan betapa menyesalnya kedua tokoh tersebut, menyedihkan dan sangat di sayangkan.

EBI
Secara umum penulis sudah sangat memahami dengan menggunakan ejaan dengan sangat baik dan tepat, namun ada beberapa hal yang terlewatkan dan perlu perbaikan, seperti dalam kalimat:

Tangan saling menggamit seolah enggan dilepaskan. pasangan pengatin itu adalah aku dan kamu.
Penulisan kata pengatin yang seharusnya pengantin.

Tidak konsisten dengan awalan huruf besar dan huruf kecil.  Di tengah kalimat kata bus ada yang menggunakan huruf besar dan ada yang menggunakan huruf kecil.

Penulisan dalam bahasa asing seperti remote control, harusnya menggunakan huruf miring yaitu remote control.

Unsur Ekstrinsik

Kesesuaian dengan Tema
Tema bebas. Secara keseluruhan saya menikmati cerita ini, walau harus berulang-ulang membaca, justru kenikmatannya terasa dari cerpen ini ketika membaca yang kedua dan seterusnya.  Pembaca di buat fokus dan menerka-nerka yang pada ahirnya menyimpulkan sendiri kemana sang istri pergi dan peristiwa apa yang menyebabkan tokoh istri meninggalkan dunia.




#TugasPekan1
#kelasFiksi
#ODOPbatch7

Selasa, 05 November 2019

Konstantinopel, Rumah Tanpa Sekat (Kesan & Pesan)

by: Lilis Indrawati


Di rumah ini akulah yang paling tua dari segi umur, tapi paling muda dalam pengalaman, yaa pengalaman menulis, istilahnya aku ini newbie. Ada 13 penghuni ditambah 4 orang Pije yang semuanya sudah mastah dalam hal dunia tulis menulis. Dan semakin merasa kecil saja saya, bagaimana tidak? rata-rata penghuni Konstantinopel ini sudah mempunyai buku sendiri, dan ada yang menjadi penulis tetap di suatu media. 

Semakin melongo saja saya, kalo tidak masuk ke rumah ini, barangkali saya tidak akan bisa merasakan bagaimana nikmatnya begadang hingga tengah malam, demi sebuah tulisan yang harus disetor per harinya. Kemrungsung rasanya dada ini bila mendekati jam 23.59 belum juga menyelesaikan setoran, alamat ngutang jadinya. Dimanapun dalam kesempatan apapun, mencoba selalu berdekatan dengan laptop, menulis apa saja yang penting bisa dijadikan tulisan menarik (Hmm menarik?? bagi saya kali ya hahaha).

Pernah di suatu seminar yang saya harus ada di ruangan itu, maka saya mencari tempat duduk yang menguntungkan buat saya, biar tidak dilihat peserta yang lain kebetulan saya salah satu diantara panitia penyelenggara, saya ambil tempat di sudut ruangan berdampingan dengan meja operator, leluasalah saya membuka laptop dan menulis. Yaa .... walau bisa dibilang ngos-ngosan, berlari-lari kecil hingga berlari dengan langkah cepat, demi ngodop 60 hari, saya harus lakukan. Dan saya sangat menikmatinya, betul-betul menikmati. Hari-hariku menjadi bergairah dan penuh semangat.

Hidup itu harus punya resolusi, harus ditarget, kita tidak bisa membiarkan dan mengikuti seperti filsafat air yang lazimnya selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Dalam ilmu urip dan kepatuhan terhadap keyakinan, itu masuk dalam urutan terakhir ... pasrah dan itu baru dilakukan setelah memaksimalkan ikhtiar. Dengan target otomatis kita berusaha untuk memenuhinya dengan kemampuan yang kita miliki dan jika berhasil nilai kepuasannya juga berbeda lho, puas banget!

Ditambah dengan penghuni rumah ini, yang begitu saling menyayangi, saling memberi semangat, dan murah pelukan, kecuali penghuni yang paling ganteng, mas Syaif hehehe.. karena satu-satunya laki-laki di Konstantinopel. Semuanya tidak ada yang pelit dalam membagikan ilmunya. Saya yang awalnya sama sekali tidak mengenal dunia blog, berkat ngodop ini jadi merasakan dunia blogger. Biasanya berhubungan dengan  laptop jika ada kesempatan harus menyampaikan materi, dan itupun di power point. Blog sama sekali awam buat saya. Tapi para Pije dan adek-adek di rumah ini semuanya saling berbagi, saling mengisi. Berasal dari berbagai macam daerah se Indonesia dan ada  adek cantik yang lagi menjemput rejeki di negeri orang, namanya adek Riana yang super ramah. Penghuni rumah ini juga berangkat dari latar belakang pendidikan yang berbeda, membuat Konstantinopel menjadi begitu berwarna dan hidup.

Ada Dewi DeAn dari Tebing Tinggi, yang sudah menerbitkan berkardus-kardus buku, Fitriati Arina Manasikan, Jihan Mawaddah dari Malang dengan baby Jayko yang super montok dan lucu, ada bu guru Karis Rosida dan Retno Jumirah,  mbak Lasmiati, mbak Prajna, mbak Priyani, nama kembarku mbak Lilis Odiah, ada mbak Sri Murni Rahayunisasi. Terima kasih atas kebersamaan yang singkat ini. Walau bukan di dunia maya, persaudaraan ini begitu berarti. Saling bercanda tanpa sekat ketersinggungan. Bebas ngakak jam berapapun, hanya ada di sini, di Konstantinopel. Juga para PiJe yang super duper ramah, membimbing dan mengarahkan, mbak Dian, mbak Nining, mbak Sakif, mbak Naila, siapalah aku, apalah kami tanpa kalian. Lope Lope.

Selain di rumah kecil ini, kita semua kadang dikumpulkan di rumah besar, sayangnya rumah besar ini terlalu penuh penghuninya, hingga kadang tidak mengenal satu sama lainnya, hanya penghuni tertentu saja yang bisa diakrabi, salah satunya mas Lutfi Yulianto, Hai mas Iyan, salam kenal dari Bali. Terkadang cuitan kita dilewati saja, dan akhirnya tenggelam oleh cuitan-cuitan lain yang saling menyahuti, karena mereka sudah akrab dan saling berinteraksi lewat grup kali ya. Beberapa kali saya mencoba nimbrung obrolan mereka, tapi selalu lewat. Ini yang menjadikan saya malas, dan jadi penyimak yang setia saja.

Semoga kita semua bisa lulus bareng, dan tali silaturrahmi yang sudah terjalin apik dan erat, bisa membawa kita menjadi keluarga besar yang sesungguhnya. Saling menyapa di dunia nyata, itu juga bagian dari mimpi-mimpiku. Akhirnya ..... mohon maaf apabila selama hampir 60 hari  ngODOP, ada salah kata yang tentunya tidak disengaja, tak ada gading yang tak retak,  kita hanyalah manusia biasa, kesempurnaan mutlak milik Allah SWT.



#ODOPbatch7
#Kesan dan Pesan















Minggu, 03 November 2019

Gadis Impian Eps 5

by: Lilis Indrawati




Episode 4 https://mimpililis09.blogspot.com/2019/11/gadis-impian-eps-4.


"Kamu bukan anak orang kaya bagaimana? Kami orang tuamu, yang punya segalanya untukmu, putra tunggal dan pewaris kerajaan bisnis papamu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kamu bukan anak orang kaya?" Ibunya mengatakan itu sambil menangis.

Ricko jadi merasa berdosa pada kedua orang tuanya, tapi cintanya pada Sheila membuat dirinya rela berkorban apapun yang dimilikinya. Toh dia mengatakan bahwa dia bukan anak orang kaya, kenyataannya dia sendiri yang sukses hingga mempunyai perusahaan properti sendiri. Dan itu semua tanpa campur tangan orang tuanya. Ia bekerja keras untuk mewujudkan kesuksesannya itu.

Bukan bermaksud menyinggung kedua orang tuanya, juga tidak bermaksud tidak mengakui kedua orang tuanya, tapi ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menentukan masa depannya sendiri bersama gadis pilihan yang sesuai hati nuraninya. Selama ini banyak gadis yang mendekati dirinya, tapi mereka lebih melihat Ricko sebagai pemuda tampan, kaya dan sukses. Tapi lain dengan Sheila, gadis itu mengenal Ricko bukan sebagai pemuda tajir, tapi mengenal Ricko sebagai pemuda sederhana yang menyambung hidup sebagai sopir pribadi. Gadis tipe begini ini yang ada dalam mimpi dan angannya, gadis yang bukan hanya bisa diajak hidup senang, tapi hidup susah pun bersedia.

"Sheila, ..... maafkan aku, selama ini aku tidak berterus terang mengenai jati diriku. Bukan bermaksud apapun, tetapi lebih dari itu, aku menghargai kamu sebagai gadis polos, mandiri dan pekerja keras, walau aku sebagai sopir pribadi, dan tinggal di rumah sempit, tapi kamu masih mau menerima aku apa adanya. Itulah, yang membuat hatiku tertambat padamu, apapun aku lakukaan demi mendapatkan hatimu, percayalah," kata-kata Ricko kali ini diucapkan dengan nada dan mimik wajah yang serius. Dalam harapannya Sheila mau menerima cintanya, dan mau dijadikan pendamping hidupnya.

"Aku benci orang kaya, Ricko, ada cerita dibalik itu. Pernah ada pemuda anak orang kaya yang tertarik padaku, tapi begitu tahu kondisi keluargaku, dia langsung berpaling dariku. Aku tidak mau hal itu terulang lagi pada kehidupanku. Maafkan aku Ricko." ucap Sheila sambil berlalu.


******

45 hari berlalu dari kejadian itu, betul-betul membuat Ricko patah hati. Jika karena sebab ia anak orang kaya, membuat Sheila malah menjauhi, ia akan memilih terlahir sebagai anak orang sederhana. Keadaan ini membuat bingung orang-orang terdekatnya terutama kedua orang tuanya. Tanpa sepengetahuan Ricko, orang tuanya mencoba mendatangi Sheila, namun gadis itu selalu menghindar.

Kondisi kesehatan Ricko terganggu juga akhirnya, ia mulai malas makan, malas istirahat, pelampiasannya hanya kerja dan kerja. Sikapnya semakin cuek pada sekelilingnya. Ia menyibukkan dirinya dalam pekerjaan, bahkan sering nginap dikantor demi melupakan sang pujaan hati. Pernah suatu hari ia berangkat dari Jakarta hanya untuk  menunggu Sheila di depan kampusnya, tapi  sia-sia, gadis itu menghindar dan menghindar.

Karena kesibukannya yang menyita sebagian waktunya, hingga kesehatannyapun terganggu Di suatu siang, Ricko ambruk di kantor ketika memimpin rapat terbatas. Ricko dilarikan ke rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia harus menjalani perawatan serius karena kondisi kesehatannya yang tidak stabil. Kabar sakitnya Ricko sampai juga ke telinga Sheila. Walaupun ia menolak Ricko sebagai orang kaya, tapi ketika mendengar kabar bahwa Rico sakit begini, ia jadi ingat semua kebaikan pemuda itu. Hampir 2 bulan ini ia merasakan hidupnya semakin hampa. Terbersit untuk terbang ke Jakarta, menunggui Ricko di rumah sakit, sama persisi seperti yang dilakukan pemuda itu padanya ketika rawat inap.

Berbekal uang hasil penjualan cincin pemberian Ricko ketika mendapatkan bonus dari majikannya, Sheila mulai uta- atik traveloka, dan menemukan tiket murah, maka terbanglah ia ke Jakarta. Tantenya Ricko yang satu kota dengan Sheila, mengetahui bahwa gadis itu ke Jakarta, segera mengabari orang tua Ricko.

Alangkah senangnya mereka mendapat kabar tersebut, mamanya sendiri yang menjemput Sheila di bandara. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, dengan berkata halus, mamanya minta agar Sheila mau merubah pendiriannya

"Terimalah Ricko sebagai pendampingmu nak, terimalah kami sebagai calon mertuamau, kami bukan orang-orang seperti dalam ceritamu. Yakinlah!"

"Saya ingin menemui Ricko karena dulu ketika saya sakit, Rickolah yang menunggui di rumah sakit, tante. Sekarang saya ingin membalas budi atas semua itu, semoga kesehatan Ricko segera membaik ya tante." katanya dengan datar.

Setiba di rumah sakit, Sheila bergegas menemui Ricko yang terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Melihat Sheila datang membuat semangat Ricko seakan kembali, dia tidak merasakan tubuhnya lemah. Dia sangat merindukan muka cuek dan dahi berkerut gadis itu, hampir 2 bulan tidak melihat gadis tersebut. Rasanya kangen dengan kejudesan sang pujaan hati.

"Apa kabar Ricko? sapa Sheila begitu melihat Ricko, tak ada senyuman di bibirnya, justru itu yang di rindukan Ricko dari sosok Sheila

"Seperti yang kamu lihat, aku memikirkan kamu, sampai kesehatanku terganggu, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini, guraunya."

"Dasar pemuda bodoh, justru sikap begini yang membuat aku tambah gak bisa jatuh cinta sama kamu. harusnya kamu itu kuat, kejar aku, rebut aku, jangan malah lemah. Aku nggak bangga blas. "ujar Sheila menyemangati Ricko.

"Benarkah?" Baiklah aku akan kejar kamu, seketika Ricko melepas selang infusnya, bangun dari tempat tidurnya, dan bersiap mengejar Sheila. Gadis itu yang tidak menyangka sama sekali reflek berlari menghindari kejaran Ricko, sambil berteriak, " Bukan kejar mengejar seperti ini yang aku mau," namun dia kalah gesit dengan tangan kekar Ricko, yang secepat kilat sudah melingkar di badannya.

"Akau merindukan tawamu Shel, jangan siksa aku dengan pendirian kamu yang sekeras batu itu, akan kupatahkan semuanya. Aku akan mendampingimu dalam suka maupun duka. Kita berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan ini. Percayalah, aku tipe laki-laki yang bertanggung jawab terhadap kekasihnya termasuk keluarga besarnya." kata-kata itu meluncur dengan tulus, setulus cintanya pada Sheila.

Sheila terdiam, asli dia juga mencintai Ricko, apalagi dengan kata-kata baarusan, kerasnya pendirian yang selama ini memagari haatinya, serasa hancur sudah.

Tak berpikir lama, Ricko memanggil kedua orangtuanya, "mama papa, mari kita bersama-sama merebut Sheila, aku nggak bisa merebutnya sendirian, aku perlu bantuan kalian, kita rebut Sheila dari perasaan miskinnya, kita rebut dia dari kehidupan yang membuatnya jadi wanita yang selalu mengerutkan dahi."

Kedua oarang tuanya yang sedari tadi ada di luar kamar, segera masuk ke kamar perawatan Ricko, "Apa yang harus kami lakukan Ko?" kata papanya

"Sekarang juga, mari kita berangkat menemui ibunya Sheila di Magetan, kita melamar Sheila untuk kujadikan istri"

Sheila segera melepaskan tangan Ricko yang melingkar di tubunhya, "Aku masih pingin kuliah dan menjadi sarjana, agar aku pantas bersanding denganmu." teriaknya.

Ahh .... itu bisa diatur." jawab Ricko dengan wajah berseri-seri dan tidak perlu melanjutkan perawatannya, dengan hadirnya Sheila disisnya itu merupakan obat yang paling mujarab diantara obat yang ada.


Tamat



#ODOPbatch7
#Day55
#Tantangan Pekan 8
#Episode 5

Sabtu, 02 November 2019

Gadis Impian (Eps 4)

by: Lilis Indrawati



Episode 3 https://mimpililis09.blogspot.com/2019/11/gadis-impian-eps-3.html


Sheila sudah menjalani aktifitas rutin seperti biasanya, kerja dan kuliah. Rickopun senang dengan kondisi gadis itu, berangsur-angsur kesehatannya membaik. Kedekatan dan persahabatan merekapun menjadi semakin dekat. Berkali-kali Ricko menawarkan pada Sheila agar mau diantar jemput pada waktu berangkat kerja, berangkat kuliah maupun pulang kuliah. Tapi Sheila selalu menolaknya dengan halus. Sebagai laki-laki yang menaruh hati padi gadis itu, rasanya tak rela, juga tak tega jika harus melihatnya naik turun angkot dan berjalan menuju tempat kerja maupun kampusnya.

"Uang yang biasa digunakan untuk naik angkot kan bisa kamu tabung untuk nambah-nambah biaya kuliah kamu," hingga pada suatu kesempatan Ricko menyampaikan hal ini pada Sheila.

Sheila menunduk dalam diamnya, dia tidak ingin merepotkan Ricko. Cukup sekali saja ia berhutang budi juga berhutang biaya perawatan rumah sakit kepada pemuda itu. Walau Ricko tidak pernah menyinggung masalah itu, namun Sheila berjanji pada dirinya sendiri, suatu waktu akan menggantinya, nanti jika ia sudah bekerja dengan gaji yang cukup.

"He, kok mendadak diam? bagaimana dengan tawaranku?" Ricko bertanya lagi ketika dilihat gadis itu tertunduk dan terdiam.

"Aku takut merepotkan kamu Ko, pagi kan kamu juga harus kerja, belum tentu juga bisa jemput aku sorenya. Nanti majikan kamu marah, trus kamu dipecat bagaimana?" Alasan Sheila dengan senyum lucunya.

"Itu bisa diatur." kata Ricko. Mana mungkin aku dipecat? batinnya, yang ada aku yang memecat karyawanku yang kurasa tidak becus dalam bekerja. Ah ... gadis ini masih juga mengkhawatirkan diriku, jangan-jangan dia mulai menyukaiku. Dannn hatinya pun berbunga-bunga.....semoga bukan hayalan semu, harapnya.

"Baiklah, jika itu tidak membahayakan pekerjaanmu. Tapi diantar paginya pas berangkat kerja sama malam pas keluar kampus saja ya? Biar kamu nggak bingung ngatur waktu antara majikan dan harus jemput aku dari tempat kerja." argumentasi Sheila pada Ricko.

"Oke nona, kuterima saranmu, deal ya." solusi yang sangat bagus, pikirnya.

Dan dimulailah antar jemput antara Ricko dan Sheila, hingga pada suatu malam ketika dia sedang membonceng Sheila sepulang dari kampus dan mengajaknya sekedar menikmati soto ayam kegemarannya, tiba-tiba ada sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda menghampiri ke arah mereka berdua, lebih tepatnya ke arah Ricko.

Dengan lembut perempuan paro baya itu menepuk pundak Richo dan duduk di depannya, tepatnya di samping Sheila. Richo kaget dengan kehadiran perempuan  yang tak lain adalah mamanya sendiri. Bagaimana ini? Namun dia berusaha untuk menguasai keadaan. Dia berusaha menarik tangan Sheila untuk menjauh, namun tangan laki-laki yang berjalan ke arahnya menghentikan langkahnya.

"Mau kemana Ko, apa nggak kangen dengan papa mama? 3 bulan sudah kamu tidak berkabar apalagi pulang? Trus terang mama dan papa khawatir dengan keadaan kamu. " Kata-kata lembut dan tegas laki-laki itu adalah papanya.

Richo terdiam, hingga membuat Sheila bingung apa yang sedang terjadi. Mau bertanya dia tidak punya keberanian.

"Kamu kelihatan kurusan dan lebih hitam Ko, trus baju dinas siapa ini yang kamu pakai, seperti baju dinas mang Ujang, sopir tantemu." ujar mamanya dan melanjutkan perkatannya ..... "mama kangen sekali sama kamu, sepertinya kamu sudah menemukan gadis yang akan menjadi calon istrimu?" lembut suara perempuan itu sambil matanya melirik ke arah Sheila.

Sampe disini Sheila mencoba menerka-nerka, tapi mau menyimpulkan ada rasa takut. Akhirnya ia beranikan diri bertanya pada sepasang suami istri yang ada di hadapannya.

"Ibu dan bapak ini siapa ya? Apa orang tua Ricko?" tanyanya dengan ragu.

"Iya, kami kedua orang tuanya. kami datang dari Jakarta karena saking kangennya dan mengkhawatirkan putra satu-satunya yang kami miliki." jawab laki-laki yang sedari tadi berdiri.

Oooo....benarkah ini orang tuanya Ricko? tanyanya dalam hati. Dari penampilannya mereka pastilah orang kaya, sempat tadi dia melihat mereka turun dari Alphard warna hitam. Tapi mengapa Richo harus tinggal di rumah sempit depan kosnya? Kenapa pula ia mengaku sebagai sopir pribadi? Ah, sejuta tanya hinggap di kepalanya. Sandiwara apa ini?

"Benarkah itu Ko, tanyanya pada Richo dengan wajah yang hampir menangis, dia tidak tahu apa alasan Ricko di balik ini semua, hingga ia dalam penyamaran menjadi seorang sopir pribadi, mendekati dirinya.

"Jika benar kamu tidak akan meninggalkan aku kan Shel?" Ini semua kulakukan demi kamu, aku ingin menjadikan kamu istriku, tak kan kubiarkan kamu mengarungi lautan kehidupan ini sendiri, aku yakin denganmu, aku penasaran dengan sosok kamu, gadis mandiri, jutek, dan pekerja keras." cerocosnya berusaha meyakinkan pujaan hatinya.

"Jadi ini benar Ko?" Kenapa kamu harus melakukan ini? Apa kamu kira aku ini cewek yang mengagungkan harta? Apa karena aku anak orang miskin dan kamu anak orang kaya? Kamu takut aku mencintai kamu karena harta orang tuamu? Sungguh salah kamu menilai diriku, jangan ukur diriku dengan harta yang dimiliki orang tuamu," Sheila mengatakan itu sambil menangis dan berlari meninggalkan mereka.

Dalam tangisnya dia merasa tersinggung, kenapa ini terungkap di saat pelan-pelan hatinya mulai tertambat dengan sosok Ricko, pemuda tampan sederhana yang sama mandirinya seperti dia, pekerja keras hingga rela menjadi sopir pribadi, rela menungguinya di rumah sakit tatkala dia sakit, ikhlas mengantarnya ke tempat kerja, dan menunggunya di depan kampus, malam-malam hanya untuk mengantarnya pulang.

Entah mengapa semenjak mengenal Ricko ia merasakan ada sosok yang bisa diajaknya berbagi  cerita kehidupan yang serba keras ini, ia merasa ada pelindungnya ketika ia harus menjalani ini semua di rantauan yang jauh dari orang tuanya. Sheila yang terpaksa mandiri karena keadaan, menjadi sedikit manja semenjak mengenal pemuda itu. Dan benih-benih cinta mulai mengisi kekosongan hatinya yang selama ini sengaja dia tidak isi dengan yang namanya cinta dari lelaki.
Ah.....mengapa aku begitu lemah, hanya karena kebaikan seseorang,

Hingga tiba-tiba Ricko dan kedua orang tuanya, sudah berada di sampingnya.

"Aku bukan anak orang kaya Shel. Oke kalo kamu nggak sudi bersuamikan anak orang kaya, aku katakan sekali lagi, bahwa aku bukan anak orang kaya. Jika itu bisa membuatmu kembali padaku, aku rela menjalani kehidupan seperti yang selama ini kamu ketahui, sosok Ricko yang bekerja sebagai sopir pribadi dan tinggal di rumah sempit. Tolong Sheila, jangan patahkan hatiku." perkataan Ricko membuat kedua orang tuanya melongo dan saling berpandangan.



#ODOPbatch7
#Day54
#Tantangan Pekan 8
#Episode 4

Jumat, 01 November 2019

Gadis Impian (Eps 3)

by: Lilis Indrawati




Episode 2: https://mimpililis09.blogspot.com/2019/10/gadis-impian-eps-2.


Sudah seminggu Sheila menjalani rawat inap di Rumah Sakit, teman dan ibu kos silih berganti menjaganya. Hanya Richo saja yang tidak sili berganti. Cowok keren itu hampir setiap hari berada di Rumah Sakit, demi sang pujaan hati. Entah apa istimewanya Sheila di hati Richo, hingga Richo seperti di tarik oleh magnet yang sangat kuat untuk selalu memikirkan gadis tersebut, tidak ada yang lain. Dan kondisi kesehatan Sheila pun berangsur membaik, hingga tiba waktunya meninggalkan Rumah Sakit. Richo mengurus segalanya, terutama yang berhubungan dengan administrasi. Tibalah saat berkemas meninggalkan rumah sakit.

"Sheila, kamu sudah diperbolehkan pulang, karena kondisi kesehatan kamu berangsur membaik. Ayo aku bantu berkemas, go car sudah menunggu di parkiran." ujar Richo pada Sheila yang masih duduk termangu.

"Berapa biayanya ya Ko, terus terang aku gak punya biaya sama sekali. Bagaimana aku harus membayarnya?" jawabnya dengan sedih yang membuat dahinya semakin berkerut.

"Wis beres kabeh, ayo cepat sedikit .... gak usah dipikir." jawab Richo dengan cepat.

"Siapa yang membayarnya?" Pertanyaan Sheila heran.

"Seperti kataku tadi, gak usah dipikir, kamu fokus pada pemulihan kesehatan kamu saja. Ayo .... kasihan pak go car jika harus  menunggu lama." jawab Richo lagi dan memberi isyarat agar Sheila tidak bertanya lagi.

Sheila menuruti apa kata Richo, dengan mengemasi barang-barangnya iapun berpikir, siapa yang menyelesaikan semua pembayaran ini? Apa mungkin Richo? Yang hanya seorang sopir pribadi, berapa sih gajinya? belum dipotong biaya kos dan biaya hidup lainnya.
Namun bagi Richo, seorang pemuda sukses, kaya raya yang lagi menyamar sebagai pemuda biasa, uang segitu tidak ada. Apalagi buat gadis pujaan hatinya. Dia tinggal telepon sekretarisnya untuk menyelesaikan semuanya, beres. Tapi dia juga bingung seandainya Sheila menanyakan dari mana ia punya uang untuk membayar ini semua? Ah, nanti sajalah dibahas.

Tak berapa lama mereka sampai di depan kos Sheila. Seluruh penghuni beeserta ibu kos menyambutnya di pintu gerbang. Sheila terharu dengan semua ini. Dia tidak mengabarkan tentang sakitnya ini pada keluarganya, terutama ibunya, dia tidak ingin ibunya terbebani dengan cerita hidupnya di rantauan, yang ibunya tahu Sheila bekerja sambil kuliah, dan gajinya dicukupkan untuk biaya hidup dan biaya kuliahnya. Titik.

Tapi suasana siang ini di kosnya, betul betul membuat ia berderai air mata, terharu. Semua penghuni kos sayang padanya, ibarat seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri, jujur ia merindukan ibunya, perempuan tua yang menghabiskan separuh usia membesarkan dia dan adiknya seorang diri, menyekolahkan hingga SMA, dengan susah payah. Hanya sanggup sampai SMA, sebatas itu kemampuan ibunya, yang dengan terengah-engah  menjalaninya. Dan Sheila pun menyadari, dia dan adiknya harus mandiri, jika pingin kuliah, ia harus berusaha sendiri. Kasihan ibunya, harus pontang panting membesarkan dan menyekolahkannya tanpa bantuan orang lain.

Makanya ketika dia sakit seperti saat ini, dia tidak ingin mengabari ibunya yang tinggal jauh di sana, di Magetan Jawa Timur. Ia hanya ingin mengirim kabar yang baik-baik saja, berita gembira, hingga ibunya juga bisa bergembira di tengah rasa kangennya pada anak gadisnya. Suasana di kos hari ini benar-benar membuat hatinya di kuasai emosi, seperti diaduk aduk rasanya. Antara bersyukur berada di tengah-tengah orang-orang yang selalu menyayanginya dan menganggapnya sebagai kerabatnya, juga dia merindukan ibunya. Seandainya ibu dan adiknya ada tengah-tengah suasana ini, ah air mata ini mengalir tanpa pembatas.

Sheila bersyukur dikelilingi orang-oang yang berhati malaikat. Seperti pemuda tampan yang ada di sampingnya ini, Richo. Di matanya Richo pemuda sederhana yang ulet dalam menjalani hidup, walaupun hanya seorang sopir pribadi, namun hatinya mulia. Bagaimana tidak, dialah yang mengurus pembayaran rumah sakit yang jumlahnya tidak kecil. ah.....ditepisnya jauh jauh perasaan tentang pemuda itu. Baginya konsentrasi saat ini adalah bagaimana kuliahnya bisa selesai dengan cepat, hingga dia bisa bekerja sesuai ijazah yang kelak diperoleh, langkah selanjutnya membahagiakan ibu dan adiknya, barulah dia memikirkan kehidupannya sendiri. Dann itu masih jauuuhhh juga membutuhkan waktu yang lama.

"Hei, kok melamun," tepuk Richo ke pundaknya. "Sedang memikirkan apa nona? Habis sakit kok jadi melamun. Dengan sedikit menggoda Richo membuyarkan lamunan Sheila. "Ayo kita nikmati tumpeng yang sudah disiapkan oleh ibu kos dan teman-temanmu ini,  rejeki pantang di tolak," ujarnya sambil meninggalkan Sheila menuju ruang tengah.

Baiknya orang-orang ini, menyambutku dengan tumpeng segala. Ia serasa berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Iapun melangkah mengikuti Richo menuju ruang tengah, dimana tumpeng itu berada. Bersama teman-temannya ia menikmati hidangan sederhana ini. teman-temannya ramai sekali, seperti bertahun-tahun nggak bertemu dengan Sheila, merekapun tertawa bahagia. Namun di sela-sela bahagia itu, ada sepasang mata tajam yang mengawasi senyum dan tawa gadis itu, ya senyum yang selama ini tak pernah dilhatnya, tawa yang selama ini tak pernah dinikmatinya. Hanya kerutan di dahi saja yang selalu dilihatnya. Ya... hari ini dia melihat Sheila tertawa bahagia, hingga lesung pipitnya yang manis menyembul, semakin terlhat aura kecantikannya. Ah, sungguh gadis itu telah menawan hatinya. Jika tiba saat yang tepat ingin rasanya mengatakan pada gadis itu bahwa ia sungguh menyayangi dan mencintainya, dan tak kan dia biarkan gadinya itu mengarungi kehidupan yang menyedihkan ini seorang diri. Calon istrinya harus bahagia bersamanya, itu tekad hidupnya. Ah kapan saat yang tepat itu tiba.




#ODOPbatch7
#Day53
#Tantangan Pekan 8
#Episode 3

DILARANG MISKIN

Karya Masrur Makmur, M.Pd. I & Moeslih Rosyid, SH, MM Tebal Buku 230 halaman Miskin kok di larang? Sebagaimana sebuah produk, apa...